Keputusan pindah kerja gak selalu berangkat dari keinginan memperoleh gaji lebih besar atau jabatan yang lebih tinggi. Bagi sebagian orang, langkah tersebut justru menjadi cara untuk keluar dari lingkungan kerja yang menguras energi, menghadapi tekanan berkepanjangan, atau memulihkan kondisi emosional yang mulai terganggu.
Sayangnya, keputusan untuk meninggalkan pekerjaan demi menjaga kesehatan mental masih kerap dianggap sebagai bentuk kelemahan, padahal bertahan dalam situasi yang gak sehat juga memiliki konsekuensi tersendiri. Di tengah budaya kerja yang sering mengagungkan kesibukan dan ketahanan menghadapi tekanan, memilih mundur demi kesejahteraan diri bukanlah keputusan yang selalu mudah dijelaskan kepada orang lain.
Ada pekerja yang harus menghadapi anggapan kurang tangguh, tuduhan mudah menyerah, hingga kekhawatiran dianggap gak memiliki komitmen terhadap karier. Lantas, mengapa keputusan pindah kerja demi kesehatan mental masih mendapat penilaian negatif? Yuk, pahami lima penyebabnya agar sudut pandang terhadap pilihan karier ini menjadi lebih bijak.
