Egi Erlangga dan Tekad Memimpin Inovasi AI untuk Eksplorasi Laut

Egi Erlangga, lulusan cum laude Teknik Informatika Universitas Riau 2025 dan penerima TELADAN, mendapat dukungan pendidikan, pengembangan diri, kepemimpinan, serta jejaring yang membawanya ke peluang eksplorasi laut.
Ketertarikan Egi pada AI berkembang dari proyek deteksi penyakit tanaman, konferensi di Hungaria, hingga kunjungan OceanXplorer dan Young Explorers Programme yang memperkenalkannya pada karier serta teknologi kelautan.
Sebagai AI Fellow di Ocean Futures Fellowship, Egi meneliti model kedalaman objek dan rekonstruksi 3D video bawah laut untuk mendukung pengamatan lingkungan, dengan kolaborasi lintas disiplin dan evaluasi manusia atas hasil AI.
Pernah membayangkan bagaimana teknologi kecerdasan buatan (AI) bisa membantu manusia memahami kehidupan bawah laut? Yap, hal inilah yang sedang dieksplorasi oleh Egi Erlangga.
Sebagai Tanoto Alumni (mantan penerima program beasiswa TELADAN dari Tanoto Foundation), Egi memiliki ketertarikan di bidang teknologi dan ingin melihat bagaimana ilmu yang dipelajarinya dapat berkontribusi di bidang kelautan.
Lulus cum laude dari jurusan Teknik Informatika Universitas Riau pada 2025, Egi kini mendalami penerapan AI untuk mendukung eksplorasi laut.
Perjalanan tersebut membawanya bergabung dengan Ocean Futures Fellowship, sebuah program dari OceanX Education yang mempertemukan talenta muda dari berbagai negara dan bidang untuk mendukung eksplorasi serta konservasi laut.
Namun, perjalanan Egi hingga berada di titik ini tak lepas dari kesempatan untuk berkembang yang ia dapatkan melalui program TELADAN dari Tanoto Foundation.
Selain dukungan pendidikan, program tersebut memberinya pengalaman dan ruang untuk mengenali potensi diri, membangun kepemimpinan, serta mempersiapkan diri menghadapi dunia profesional.
Seperti apa cerita selengkapnya? Yuk, scroll down sampai akhir!
1. Program beasiswa TELADAN bantu Egi berkembang dan wujudkan impian

Egi Erlangga saat mengikuti program beasiswa TELADAN dari Tanoto Foundation (Dok. Tanoto Foundation) Saat memasuki masa kuliah, Egi aktif mencari peluang beasiswa untuk mendukung pendidikannya sekaligus membuka kesempatan untuk berkembang.
Ia termasuk salah satu orang pertama di keluarganya yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
āAku termasuk salah satu orang pertama di keluargaku yang kuliah. Dari generasi nenek, mama, sampai om, belum ada yang kuliah. Oleh karena itu, mama selalu mendorongku untuk kuliah,ā cerita Egi.
Dorongan dari sang mama membuat Egi ingin memanfaatkan kesempatan kuliah sebaik mungkin. Ketika mengenal program beasiswa TELADAN lebih jauh, ia menyadari bahwa dukungan yang ditawarkan tak hanya sebatas bantuan finansial.Ā
Program ini juga menyediakan uang saku bulanan, pembiayaan uang kuliah secara penuh, serta berbagai program pengembangan diri, mulai dari pemahaman diri, kepemimpinan, hingga persiapan memasuki dunia profesional.
āWaktu melihat program beasiswa TELADAN, aku melihat ada allowance setiap bulan dan uang kuliah yang dibayar penuh. Itu sangat membantu. Selain itu, ada program-program lain yang menarik, seperti program untuk mengenal diri sendiri, memimpin orang lain, dan professional preparation,ā jelasnya.
Egi Erlangga saat menerima penghargaan Best Graduate TELADAN Cohort 2022 dari Tanoto Foundation (Dok. Tanoto Foundation) Bagi Egi, kesempatan untuk mengembangkan diri menjadi salah satu pertimbangan utama dalam memilih beasiswa.
Ia tak hanya membutuhkan dukungan biaya pendidikan, tetapi juga ingin mendapatkan pelatihan dan pengalaman baru yang bisa membantunya bertumbuh.
āKenapa harus memilih beasiswa lain yang mungkin hanya memberikan uang, sementara aku juga merasa perlu mengembangkan diri dan mengikuti pelatihan? Makanya, aku langsung memutuskan untuk mendaftar Tanoto Foundation,ā tambahnya.
Keputusan bergabung dengan program beasiswa TELADAN pun menjadi salah satu langkah yang membantunya mewujudkan impiannya sejak awal kuliah, yakni pergi ke luar negeri.
Target tersebut akhirnya tercapai melalui berbagai kesempatan yang ia peroleh sebagai bagian dari program beasiswa TELADAN.
Melalui program ini, Egi juga aktif dalam kegiatan organisasi. Ia kemudian menjabat sebagai ketua Tanoto Scholars Association Pekanbaru (TSA) dalam kegiatan showcase yang menampilkan perkembangan serta kegiatan organisasi peserta TELADAN.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu langkah dalam perjalanan Egi untuk terus berkembang sebagai calon pemimpin masa depan.Ā
Berbekal pembelajaran dan kesempatan pengembangan diri yang ia dapatkan melalui TELADAN, Egi mulai memperluas wawasan, membangun jejaring, dan mengambil peluang baru yang membantunya bertumbuh.
Salah satunya adalah kesempatan mengenal OceanX, yang kemudian membuka jalan bagi perjalanan Egi di bidang eksplorasi laut.
2. Dari ketertarikan pada AI, Egi melihat peluang teknologi di berbagai bidang

Egi Erlangga saat mengikuti Young Explorers Programme (YEP) (Dok. Istimewa) Sejak kecil, Egi punya banyak ketertarikan, mulai dari fotografi, videografi, musik, hingga seni. Ketika memilih jurusan kuliah, Teknik Informatika menjadi pilihannya karena bidang ini bisa diterapkan di berbagai industri.
Ketertarikannya terhadap AI semakin berkembang ketika ia mendapat kesempatan untuk terlibat dalam sebuah proyek saat magang. Bersama teman-temannya, Egi mengerjakan proyek AI dengan metode object detection untuk mendeteksi hama atau penyakit tanaman.
āWaktu itu, kami diberi salah satu tugas yang berkaitan dengan AI, yaitu object detection. Jadi, semacam AI untuk mendeteksi hama atau penyakit tanaman. Kami diminta mendeteksi 20 jenis penyakit tanaman. Ternyata, proyek itu cukup ambisius untuk anak magang,ā jelasnya.
Bersama teman-temannya, Egi berhasil menyelesaikan proyek tersebut, meskipun hasilnya masih berada pada tahap prototipe dan minimum viable product (MVP), atau versi awal dengan fungsi dasar.
Meski belum sempurna, pengalaman itu membuka perspektifnya tentang potensi AI dan berbagai kemungkinan penerapannya di masa depan.

Egi Erlangga saat mengikuti Asia-Europe Leaders Summit di Hungaria (Dok. Istimewa) Egi mulai melihat bahwa teknologi ini tidak hanya berkaitan dengan satu bidang tertentu, tetapi juga bisa digunakan untuk mengolah suara, menganalisis visual, dan membantu menyelesaikan masalah di berbagai industri.
āDi 2024, aku juga mengikuti konferensi di Hungaria. Fokusnya bukan pada aspek teknis AI, tetapi lebih ke bagaimana AI akan digunakan dan diposisikan dalam Society 5.0. Pengalaman itu semakin membuatku merasa bahwa AI memang bidang yang ingin aku dalami,ā ungkapnya.
3. Kunjungan ke OceanXplorer membuka wawasan baru tentang eksplorasi laut

Egi Erlangga saat mengikuti Young Explorers Programme (YEP) (Dok. Istimewa) Pada 2024, Egi berkesempatan mengunjungi kapal OceanXplorer di Tanjung Priok bersama Tanoto Foundation. Kunjungan ini menjadi pengalaman berkesan yang memperluas wawasannya tentang teknologi dan eksplorasi laut. Dalam kesempatan tersebut, Egi mengikuti tur kapal OceanXplorer dan menemukan berbagai hal menarik, termasuk beragam profesi yang terlibat dalam eksplorasi laut.
āAku biasanya melihat kapal dari film-film. Bayanganku, ada kapten kapal, kru kapal, steward dan stewardess, paling jauh orang-orang yang menangani bagian mekanisnya. Tapi, ternyata di dalam kapal ada perawat, dokter, ilmuwan, bahkan orang-orang dari bidang elektro dan informatika yang mengontrol robot. Ternyata, banyak juga pilihan karier di sini. Ada beberapa profesi yang sebelumnya bahkan belum terlalu aku sadari,ā ungkapnya.
Rasa penasaran mendorong Egi untuk aktif bertanya selama tur, mulai dari bagaimana cara kapal berkomunikasi di luar jangkauan jaringan hingga sistem pencahayaan yang digunakan.
Ia juga mencari tahu peluang untuk kembali berkunjung atau bahkan bekerja di OceanX. Dari percakapan dengan tim OceanX, Egi kemudian mengenal Young Explorers Programme (YEP).
Sebagai informasi, Young Explorers Programme adalah program edukasi dan pengalaman eksplorasi laut yang dirancang untuk anak muda agar bisa belajar langsung tentang sains kelautan, teknologi eksplorasi, serta komunikasi dan storytelling sains melalui pengalaman di atas kapal riset dan media OceanXplorer.

Egi Erlangga saat mengikuti Young Explorers Programme (YEP) (Dok. Istimewa) Kesempatan tersebut berhasil ia manfaatkan dengan lolos sebagai peserta YEP, program selama tujuh hari dengan rute Singapura menuju Timor-Leste.
Melalui program ini, Egi berkesempatan mengenal laboratorium dan berbagai fasilitas eksplorasi laut, sekaligus melihat lebih dekat beragam profesi yang mendukung kegiatan eksplorasi. Pengalaman tersebut menjadi langkah awal bagi Egi untuk mengenal OceanX lebih jauh.Ā
Setelah menyelesaikan YEP, ia kembali mendapatkan informasi mengenai kesempatan fellowship dari OceanX. Egi pun memutuskan untuk mendaftar dan berhasil bergabung dalam Ocean Futures Fellowship sebagai AI Fellow.
āSetelah mengikuti Young Explorers Programme, aku menjadi alumninya. Kemudian, mereka memberikan informasi tentang program fellowship. Dari situ, aku akhirnya mendaftar Ocean Futures Fellowship,ā jelasnya.
4. Sebagai AI Fellow, Egi mengembangkan teknologi untuk memahami lingkungan bawah laut

Egi Erlangga saat terpilih sebagai AI Fellow dalam program Ocean Futures Fellowship diselenggarakan OceanX Education bersama IIE (Institute of International Education) (Dok. Istimewa) Ocean Futures Fellowship diselenggarakan OceanX Education bersama IIE (Institute of International Education). Program ini membuka enam posisi di berbagai bidang, mulai dari AI, immersive media, hingga marine communications.
āAku sempat bingung antara mengambil AI atau immersive media. Tapi, akhirnya aku pilih AI lagi karena ada dua hal. Pertama, AI memang sudah cukup banyak aku pelajari. Kedua, immersive media lebih seperti hobi buat aku,ā ungkap Egi.
Menariknya, Egi menemukan banyak peluang penerapan AI dalam ilmu kelautan. Timnya terdiri dari orang-orang dengan keahlian beragam, mulai dari data scientist dan ahli teknologi informasi hingga ilmuwan biologi, fisika, dan kimia kelautan. Ia awalnya mengira fellowship ini akan terasa seperti magang, tetapi ternyata tanggung jawabnya lebih besar.

Egi Erlangga saat mengikuti Young Explorers Programme (YEP) (Dok. Istimewa) Dalam kesehariannya, Egi banyak melakukan riset, membaca research paper, dan mengeksplorasi pengembangan model AI. Salah satu hal yang ia pelajari adalah cara mengembangkan model untuk mendeteksi kedalaman atau jarak relatif objek dalam gambar. Secara sederhana, model tersebut dapat memperkirakan objek mana yang lebih dekat dan mana yang lebih jauh.
Selain eksplorasi model AI, Egi juga tertarik mencari tahu bagaimana data visual dari video bawah laut dapat diolah menjadi informasi yang lebih kaya. Dari sinilah ia mulai mengeksplorasi 3D reconstruction, yaitu proses membangun representasi tiga dimensi dari objek atau lingkungan berdasarkan data visual.
Menurut Egi, teknologi ini memungkinkan ilmuwan memperoleh informasi lebih banyak dari sebuah rekaman video bawah laut, bukan hanya mendeteksi keberadaan hewan. Representasi tiga dimensi tersebut berpotensi membantu pengamatan lingkungan laut, memperkirakan ukuran objek seperti karang, hingga mendukung pengembangan media interaktif yang memungkinkan pengguna mengeksplorasi objek secara lebih mendalam.
5. Pengalaman di Ocean Futures Fellowship Summit memperluas pandangan Egi tentang potensi AI

Egi Erlangga terpilih sebagai AI Fellow dalam program Ocean Futures Fellowship diselenggarakan OceanX bersama IIE (Institute of International Education) (Dok. OceanX) Pengalaman mengikuti OceanX Summit di Singapura membuka perspektif Egi tentang potensi AI dalam eksplorasi laut.
Ia melihat berbagai kemungkinan penerapan teknologi, mulai dari animasi yang memanfaatkan AI hingga media imersif yang menampilkan visual terumbu karang.
Egi bahkan membayangkan bahwa teknologi rekonstruksi 3D yang sedang dikembangkannya dapat menghasilkan visual lingkungan bawah laut yang lebih realistis.
Diskusi dengan para peserta dan mentor juga membuatnya menyadari bahwa AI memiliki potensi untuk diterapkan di bidang lain. Meski begitu, untuk saat ini, Egi masih ingin memperdalam penerapan AI di bidang kelautan.
Di sisi lain, pengalaman tersebut semakin memperkuat pandangannya bahwa AI seharusnya diperuntukkan untuk membantu manusia, bukan semata-mata menggantikan peran mereka.
Menurut Egi, AI dapat menangani pekerjaan repetitif sehingga manusia memiliki lebih banyak waktu untuk mengerjakan hal lain dan membuka peluang baru.

Egi Erlangga saat mengikuti Young Explorers Programme (YEP) (Dok. Istimewa) Namun, manfaat tersebut bergantung pada bagaimana teknologi digunakan. AI generatif, misalnya, dapat membantu membuat prototipe atau gambaran awal, tetapi hasilnya tetap perlu ditinjau dan disempurnakan manusia. Begitu pula dengan teks dan kode yang dihasilkan AI, yang masih membutuhkan proses evaluasi dan penyempurnaan.
āMenurut saya, AI itu fungsinya untuk melakukan efisiensi, bukan malah membuat kita menghabiskan lebih banyak waktu untuk prompting. Jadi, kita perlu tahu bagaimana menggunakan AI dengan benar dan tetap menyempurnakan hasilnya, bukan langsung menjadikannya sebagai produk akhir,ā ungkap Egi.
6. Bekal TELADAN membantu Egi menghadapi tantangan di bidang baru
Egi Erlangga saat menjadi Ketua Tanoto Scholars Association Pekanbaru (TSA) (Dok. Tanoto Foundation Bergabung dengan Ocean Futures Fellowship membawa tantangan baru bagi Egi. Ia perlu menerapkan keahlian AI untuk memahami lingkungan bawah laut, mempelajari konteks sains kelautan yang masih asing baginya, serta berkolaborasi dengan rekan-rekan dari berbagai latar belakang. Dalam menghadapi tantangan tersebut, pembelajaran yang ia dapatkan melalui program beasiswa TELADAN dari Tanoto Foundation menjadi bekal berharga.
Melalui Lead Self, Egi belajar mengenali potensi dan nilai-nilai yang penting bagi dirinya, seperti rasa ingin tahu dan kreativitas, serta melihat feedback sebagai kesempatan untuk berkembang. Adapun Lead Others tercermin dari pengalamannya bertukar pengetahuan dengan rekan lintas disiplin, saling menghargai perspektif, dan membangun komunikasi yang terbuka.
Sementara itu, prinsip Professional Preparation relevan dengan upayanya menerapkan keahlian AI untuk eksplorasi laut, mulai dari memperkirakan kedalaman objek hingga merekonstruksi objek bawah laut dalam bentuk tiga dimensi. Pengalaman ini memperlihatkan bagaimana pengembangan diri, kolaborasi, dan kesiapan profesional dapat saling melengkapi saat seseorang menghadapi tantangan di bidang baru.
Bekal pengembangan diri yang ia dapatkan melalui TELADAN menjadi bagian dari perjalanan Egi hingga saat ini. Dengan terus belajar, Egi ingin membuktikan bahwa AI dapat menjadi alat yang membantu manusia menjawab tantangan, sekaligus membuka peluang baru bagi eksplorasi dan konservasi laut. (WEB/AMS)
























