Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa Itu Digital Footprint dan Dampaknya untuk Karier?

Apa Itu Digital Footprint dan Dampaknya untuk Karier?
Ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Wisnu Phaewchimplee)
Share Article

Di era ketika hampir semua aktivitas dilakukan secara online, jejak digital atau digital footprint menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Setiap kali kamu mengunggah foto, menulis komentar, membuat profil media sosial, mengikuti forum, mengunggah portofolio, atau bahkan muncul dalam unggahan orang lain, informasi tentang dirimu bisa meninggalkan jejak di internet.

Jejak tersebut kemudian membentuk gambaran tentang siapa kamu di dunia digital. Masalahnya, jejak digital tidak selalu berhenti sebagai urusan pribadi. Ketika mencari kerja, membangun personal branding, atau ingin pindah karier, apa yang muncul ketika namamu dicari di internet dapat ikut membentuk kesan profesional.

1. Digital footprint bukan cuma unggahan di media sosial

Ilustrasi membuka media sosial (unsplash.com/Photo by Annie Spratt)
Ilustrasi membuka media sosial (unsplash.com/Photo by Annie Spratt)

Digital footprint adalah kumpulan jejak informasi yang berkaitan dengan aktivitas seseorang di internet. Jejak ini dapat berasal dari media sosial, blog, artikel, foto, forum, situs pribadi, hingga hasil pencarian ketika seseorang mengetikkan namamu di mesin pencari.

Jejak tersebut bisa bersifat aktif, yaitu informasi yang kamu buat sendiri, maupun pasif, yaitu informasi tentangmu yang dibuat atau dibagikan orang lain. Hal ini mencakup lebih banyak hal daripada sekadar Instagram atau TikTok.

"Jejak digital mengacu pada konsekuensi dari aktivitas dan perilaku online seseorang, serta ukuran kehadiran web mereka. Ini adalah kumpulan jejak digital yang tertinggal ketika seseorang berinteraksi dengan berbagai situs web dan platform di internet," dikutip dalam ScienceDirect.

Karena itu, coba bayangkan apa yang terjadi ketika seorang recruiter mengetik namamu di Google. Mereka mungkin menemukan profil LinkedIn, portofolio, artikel yang pernah kamu tulis, akun media sosial, komentar di forum, atau bahkan foto yang diunggah orang lain dan menandai akunmu. Tidak semuanya harus dihapus atau dibuat serius, tetapi kamu perlu menyadari bahwa setiap ruang digital dapat menjadi bagian dari gambaran tentang dirimu.

2. Jejak digital bisa memengaruhi kesan recruiter

Ilustrasi wawancara kerja (pexels.com/Photo by Anna Shvets)
Ilustrasi wawancara kerja (pexels.com/Photo by Anna Shvets)

Dalam proses rekrutmen, CV dan interview bukan satu-satunya sumber informasi mengenai kandidat. Penelitian yang diterbitkan dalam "Journal of Teaching and Learning for Graduate Employability" menemukan bahwa media sosial telah digunakan oleh kandidat maupun perusahaan dan recruiter dalam proses rekrutmen. Penelitian tersebut juga membahas bagaimana perilaku yang dianggap tidak profesional di media sosial dapat memengaruhi persepsi terhadap employability seseorang.

"Media sosial telah menjadi alat yang digunakan untuk proses perekrutan karyawan di berbagai industri. Teknologi ini digunakan oleh kandidat pekerjaan dan oleh pemberi kerja serta perekrut pekerjaan untuk menyaring dan mencari staf yang sesuai untuk organisasi mereka," demikian laporan jurnal tersebut.

"Investigasi kami menemukan bahwa 82 persen pemberi kerja dipengaruhi oleh kehadiran media sosial kandidat pekerjaan dan penggunaan media sosial untuk sengaja merugikan orang lain dianggap oleh pemberi kerja sebagai perilaku media sosial yang paling tidak profesional," lanjutnya.

3. Digital footprint tidak selalu berdampak negatif

Ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Photo by Negar Nikkhah)
Ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Photo by Negar Nikkhah)

Mendengar istilah digital footprint mungkin membuatmu langsung berpikir tentang unggahan lama yang memalukan atau komentar yang ingin dilupakan. Padahal, jejak digital juga dapat menjadi aset karier. Profil LinkedIn yang rapi, portofolio online, tulisan yang menunjukkan keahlian, proyek yang pernah dikerjakan, atau konten edukatif bisa membantu recruiter memahami kemampuanmu sebelum bertemu secara langsung.

Lydia Lazar, penulis "Dean Lazar's Golden Guide: Pragmatic Career Advice for Smart Young People", menyebut internet sebagai 'your resume' dalam artikel yang diterbitkan American Marketing Association. Ia menyarankan seseorang memikirkan kesan apa yang ingin muncul ketika employer melihat dirinya secara online, lalu membuat konten yang mendukung kesan tersebut.

"Saat ini, sudah menjadi hal yang umum bahwa internet adalah resume kamu. Setiap orang perlu secara aktif mengelola kehadiran online mereka dan berupaya memastikan bahwa materi negatif apa pun dihapus atau secara proaktif ditenggelamkan dalam gelombang materi positif," jelasnya.

Jadi, kamu tidak perlu menjadi influencer untuk memiliki digital footprint yang berguna bagi karier. Jika kamu ingin bekerja sebagai desainer, misalnya, unggah proyek desain yang memang boleh dipublikasikan. Jika tertarik pada marketing, kamu dapat membagikan analisis kampanye atau tren industri.

4. Konten lama bisa menjadi risiko karier

Ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Photo by Anton Tkachenko)
Ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Photo by Anton Tkachenko)

Salah satu karakteristik internet adalah sesuatu yang pernah dipublikasikan tidak selalu benar-benar hilang. Konten mungkin dihapus dari akun pribadi, tetapi bisa saja sudah disimpan, di-screenshot, dikutip, atau dibagikan ulang. Inilah alasan mengapa unggahan yang terasa lucu ketika kamu masih sekolah atau kuliah bisa memiliki konteks berbeda ketika beberapa tahun kemudian kamu sedang melamar pekerjaan.

"Di dunia saat ini, kehadiranmu di media sosial sangat penting. Konten yang kamu bagikan mewakili siapa kamu dan apa yang kamu perjuangkan—itu adalah jejak digitalmu. Dengan satu pencarian Google atas nama kamua, calon klien, pemberi kerja, dan rekan kerja dapat memperoleh gambaran sekilas tentang riwayat kamu," jelas Jules Schroeder, penulis dan pengamat karier dalam Forbes.

"93 persen pemberi kerja mengatakan mereka menggunakan gambaran sekilas ini untuk menyaring pelamar dan 35 persen menyingkirkan kandidat yang tidak dipertimbangkan berdasarkan apa yang mereka temukan. Survei menunjukkan pemberi kerja memeriksa LinkedIn sebagai saluran paling populer (96 persen), diikuti oleh Facebook (56 persen), Twitter/X (41 persen), dan Instagram (7 persen)," lanjutnya.

5. Cara membangun digital footprint yang mendukung karier

Ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Wisnu Phaewchimplee)
Ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Wisnu Phaewchimplee)

Langkah pertama adalah melakukan audit sederhana terhadap jejak digital sendiri. Coba cari namamu di Google menggunakan beberapa variasi, kemudian lihat hasil yang muncul di halaman pertama. Periksa juga akun media sosial lama, bio, foto profil, unggahan publik, komentar, serta akun yang sudah tidak pernah digunakan.

Selanjutnya, pisahkan antara ruang personal dan ruang profesional sesuai kebutuhan. Kamu tetap boleh membagikan kehidupan sehari-hari, hobi, perjalanan, musik, atau hal yang kamu sukai. Namun, pastikan pengaturan privasi sesuai dengan tingkat kenyamananmu.

Untuk ruang profesional, gunakan profil yang menunjukkan kemampuan, pengalaman, proyek, pendidikan, dan minat karier secara jelas. Digital footprint yang baik tidak harus terlihat sempurna, tetapi sebaiknya konsisten dengan siapa dirimu dan arah karier yang ingin kamu bangun.

Terakhir, jangan hanya fokus menghapus hal-hal yang dianggap negatif. Ciptakan juga jejak positif secara konsisten. Bagikan proyek, tulis pengalaman belajar, ikut diskusi industri secara sopan, tampilkan portofolio, atau berikan komentar yang menunjukkan pemikiranmu.

"Di dunia saat ini, pada dasarnya tidak mungkin untuk mengendalikan sepenuhnya kehadiran online kamu, karena ada banyak cara kita meninggalkan jejak digital kita saat berbelanja, bersosialisasi, dan hidup online. Apa yang orang lihat tentang kamu secara daring terus berkembang seiring kamu menjalani hidup, namun kamu tetap bisa bersikap bijaksana dan terencana dalam berkomunikasi," jelas Lydia Lazar.

Pada akhirnya, digital footprint adalah bagian dari reputasi yang terbentuk dari aktivitasmu di dunia online. Jejak tersebut bisa menjadi risiko jika berisi konten yang merusak citra profesional, tetapi juga bisa menjadi aset jika menunjukkan kemampuan, pengalaman, dan pemikiran yang relevan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More