Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

7 Tanda Rendahnya Leadership Atasan, Tidak Bantu Cari Solusi

4 min read
7 Tanda Rendahnya Leadership Atasan, Tidak Bantu Cari Solusi
ilustrasi kantor yang berantakan (pexels.com/cottonbro studio)
  • Leadership atasan yang lemah terlihat dari pembagian tugas tidak jelas, sehingga karyawan saling lempar tanggung jawab dan pekerjaan penting berisiko terbengkalai.
  • Atasan dinilai tidak kompeten bila hanya menyalahkan bawahan saat masalah muncul, tanpa memberi solusi, arahan, keteladanan, pengawasan, evaluasi, atau sanksi yang memadai.
  • Kepemimpinan buruk dapat memicu kemunduran perusahaan, masalah keuangan, kinerja karyawan asal-asalan, serta ketidakmampuan memberdayakan tim meski atasan tampak bekerja sendirian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jiwa leadership atau kepemimpinan akan sangat tampak ketika seseorang diserahi jabatan. Sebelum ia menduduki posisi tersebut, bisa saja ia terlihat memiliki kinerja yang bagus dibandingkan dengan sesama staf biasa. Akan tetapi, itu bukan jaminan bahwa ia dapat menjalankan peran sebagai atasan dari sekian anak buah dengan baik.

Kemampuan memimpin belum terlalu tampak di level staf. Posisi manajerial baru menguji jiwa leadership-nya. Ibarat kapal, atasan bertugas menjadi nakhoda yang mengarahkannya ke tujuan.

Pekerjaan dan situasi di kantor bakal kacau apabila dipimpin oleh atasan yang kompetensinya sebenarnya kurang. Berikut tanda-tanda rendahnya leadership atasan. Tipe atasan begini sebaiknya dievaluasi kembali sebelum pada akhirnya diberhentikan oleh pemimpin tertinggi di kantor tersebut atau dengan legawa mengundurkan diri.

  1. 1. Pembagian jobdesk gak jelas

    memeriksa dokumen
    ilustrasi memeriksa dokumen (pexels.com/cottonbro studio)

    Karyawan gak bisa memilih mau mengambil jobdesk apa saja. Atasan yang menentukannya berdasarkan posisi. Maka dari itu, jobdesk yang berantakan sampai antarkaryawan saling lempar tugas dan tanggung jawab membuktikan satu hal. Atasan tidak memiliki kecakapan untuk menetapkan tugas apa yang diemban oleh siapa.

    Ketidakjelasan tugas begini sangat berbahaya untuk perusahaan. Berbagai pekerjaan menjadi terbengkalai. Termasuk tugas-tugas yang paling sederhana sekalipun. Selama jobdesk tidak tertata dengan baik, gak ada orang yang secara rutin mengerjakannya.

  2. 2. Hadir hanya untuk menyalahkan anak buah, bukan cari solusi

    rapat
    ilustrasi rapat (pexels.com/Tran Nhu Tuan)

    Karyawan memang tidak boleh hanya pasif dan menunggu instruksi atasan. Karyawan yang paling baru sekalipun harus memiliki inisiatif dan problem solving. Akan tetapi, saat masalahnya lebih besar daripada kemampuan dan pengalaman mereka, seharusnya atasan turun tangan.

    Kehadirannya jangan hanya secara fisik lalu menyalahkan anak buah. Atasan yang berkompeten mesti datang membawa pencerahan untuk bawahannya. Dia wajib menjadi pemikir yang cemerlang. Anak buah tinggal menindaklanjuti arahannya di lapangan.

  3. 3. Kantor bukannya tambah maju malah terus mengalami kemunduran

    rapat
    ilustrasi rapat (pexels.com/Mandiri Abadi)

    Tentu, atasan yang paling hebat sekalipun tidak bisa bekerja sendirian untuk memajukan perusahaan. Peran anak buah sesuai posisi masing-masing juga sangat penting. Namun, atasan dengan kemampuan memimpin pas-pasan pasti kesulitan memajukan perusahaan.

    Kompetensinya kurang. Dia tidak bisa membawa perusahaan bergerak maju lebih cepat. Kebijakan-kebijakannya tak relevan dengan kebutuhan. Ia juga tidak memiliki strategi yang bagus baik untuk meningkatkan kualitas SDM maupun untuk memperluas pasar. Atasan begini bila tidak segera diganti hanya akan membawa perusahaan ke jurang kebangkrutan.

  4. 4. Keuangan gak beres

    membicarakan pekerjaan
    ilustrasi membicarakan pekerjaan (pexels.com/Amartuvshin John Sharavdorj)

    Atasan memang tidak secara langsung menangani keuangan perusahaan. Ada bagian keuangan tersendiri. Namun, bagian keuangan juga tidak bisa mengelola uang perusahaan tanpa persetujuan atasan.

    Itu sebabnya, bila suatu perusahaan mengalami masalah keuangan, bisa dipastikan atasannya kurang cakap. Bentuk ketidakcakapan tersebut bisa macam-macam. Di antaranya, tidak melakukan pengawasan yang baik terhadap bagian keuangan.

    Dana kantor menjadi mudah disalahgunakan. Atau, justru atasan yang mencoba memainkan keuangan perusahaan menggunakan kekuasaannya yang besar. Ia menekan para staf di bagian keuangan. Bisa pula atasan tidak bisa membedakan mana biaya operasional yang sifatnya wajib dan yang dapat ditunda dulu ketika anggaran belum memungkinkan.

  5. 5. Gak bisa kasih contoh yang baik

    suasana kerja
    ilustrasi suasana kerja (pexels.com/Rashed Hossain)

    Karyawan tidak dapat hanya diarahkan dengan kata-kata. Mereka bisa sulit memahami atau berbagai instruksi tersebut kurang terinternalisasi dalam diri mereka. Hari ini perintah atasan dilaksanakan, tapi beberapa minggu atau bulan kemudian kembali diabaikan.

    Anak buah sangat membutuhkan keteladanan langsung dari atasan. Contohnya, tentang kedisiplinan. Sebagian karyawan pasti malas datang dan pulang tepat waktu kalau keberadaan atasannya saja gak jelas. Sekalipun atasan sering harus menemui klien di luar kantor, sebelum dan sesudahnya wajib tetap berada di ruangannya.

  6. 6. Karyawan kerja asal-asalan

    kantor sepi
    ilustrasi kantor sepi (pexels.com/DOAN THANH BINH)

    Kinerja karyawan yang semaunya sendiri mencerminkan lemahnya pengawasan, evaluasi, serta sanksi dari atasan. Mereka menjadi sama sekali tak punya rasa takut untuk bekerja jauh di bawah standar. Sekalipun kinerja asal-asalan mereka menimbulkan komplain dari klien atau konsumen.

    Dalam setiap ketidakbecusan karyawan niscaya terdapat kontribusi atasan yang gak sedikit. Boleh jadi anak buah bahkan sampai tidak paham tugas atasan. Atasan terlihat tak melakukan apa pun dan terlalu santai.

  7. 7. Anak buah banyak, tapi atasan seperti kerja sendirian

    bekerja
    ilustrasi bekerja (pexels.com/Zayed Hossain)

    Atasan yang gak jelas kerjanya tentu salah. Akan tetapi, pimpinan yang sibuk bekerja sendirian juga merupakan tanda akurat dari ketidakberesan. Bukankah dia punya banyak anak buah? Kenapa atasan malah seperti harus membereskan segalanya sendirian?

    Ini artinya, atasan tidak bisa memberdayakan anak buah sebanyak itu. Ia tak membagi tugas dengan jelas atau kurang berani memberikan perintah meski telah menjadi jobdesk bawahannya. Energi satu orang atasan gak bakal cukup untuk menangani seluruh tugas. Karyawan malah cuma makan gaji buta dan makin tak menghargai atasannya.

    Tanda rendahnya leadership atasan pasti menyebabkan kekacauan. Kalau di atasnya masih ada pimpinan yang lebih tinggi, semua karyawan bisa bersama-sama mengajukan penggantian atasan yang jiwa kepemimpinannya kurang. Jika gak ada lagi pemimpin di atasnya, terlalu berisiko bagi anak buah untuk terus mengikutinya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More