Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa yang Boleh dan Tidak Ditanyakan HRD saat Interview? yuk, Kenali!

5 min read
Apa yang Boleh dan Tidak Ditanyakan HRD saat Interview? yuk, Kenali!
Ilustrasi wawancara kerja (freepik.com/yanalya)
Share Article

Interview kerja bukan hanya kesempatan bagi perusahaan untuk mengenal calon karyawan, tetapi juga proses untuk menilai apakah pengalaman, keterampilan, dan kemampuan seseorang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Karena itu, pertanyaan yang diajukan HRD idealnya berhubungan dengan posisi yang dilamar, pengalaman kerja, kompetensi, serta kemampuan kandidat menjalankan tugas.

Namun, dalam praktiknya, ada pula pertanyaan yang masuk terlalu jauh ke ranah pribadi, seperti soal status pernikahan, rencana memiliki anak, agama, usia, kondisi kesehatan, hingga latar belakang tertentu. Lalu apa yang boleh dan tidak boleh ditanyakan HRD saat meng-interview?

  1. 1. Pertanyaan tentang pengalaman dan kemampuan kerja termasuk yang wajar

    ilustrasi wawancara kerja (unplash.com/Getty Images)
    ilustrasi wawancara kerja (unplash.com/Getty Images)

    Pertanyaan mengenai pengalaman kerja, pendidikan, keterampilan, pencapaian, cara menyelesaikan masalah, maupun alasan melamar posisi tertentu pada dasarnya relevan dalam interview. HRD membutuhkan informasi tersebut untuk mengetahui apakah kandidat memiliki kompetensi yang dibutuhkan oleh posisi yang tersedia.

    Menurut Society for Human Resource Management (SHRM), organisasi profesional bidang sumber daya manusia, menjelaskan bahwa pertanyaan wawancara dapat diarahkan pada kompetensi, pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang memang diperlukan untuk menjalankan pekerjaan. Salah satu metode yang umum digunakan adalah pertanyaan behavioral dan situational, yaitu meminta kandidat menceritakan pengalaman atau respons terhadap situasi tertentu.

    "Pewawancara sebaiknya hanya mengajukan pertanyaan yang relevan untuk menilai kesesuaian pelamar dengan pekerjaan yang dimaksud. Pewawancara perlu menyadari bias pribadi mereka dan tidak melabeli kandidat dengan stereotip melalui asumsi mengenai kemampuan mereka," dikutip dari panduan International Labour Organization (ILO) yang menambahkan mengenai wawancara kerja, yang menekankan pentingnya pertanyaan yang relevan dengan pekerjaan.

  2. 2. Status pernikahan, anak, dan rencana punya keluarga sebaiknya tidak menjadi bahan penilaian

    ilustrasi wawancara kerja (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
    ilustrasi wawancara kerja (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

    Pertanyaan seperti “Kamu sudah menikah?”, “Kapan mau menikah?”, “Sudah punya anak?”, atau “Ada rencana punya anak dalam waktu dekat?” sering kali dianggap sebagai obrolan biasa. Padahal, pertanyaan tersebut dapat membawa proses interview ke ranah pribadi dan berpotensi berkaitan dengan diskriminasi, khususnya ketika informasi itu kemudian memengaruhi keputusan perekrutan.

    "Ada sejumlah pertanyaan yang dianggap tabu untuk diajukan dalam wawancara; semuanya berkaitan dengan diskriminasi dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan kemampuan kandidat untuk melakukan pekerjaan tersebut," kata Jana Tulloch, konsultan SDM/HR dikutip dari SHRM.

    "Pertanyaan apa pun yang menyinggung orientasi seksual, status pernikahan atau keluarga, agama, dan sebagainya, adalah hal yang tidak boleh ditanyakan," tambahnya.

    Jadi bukan berarti perusahaan tidak boleh menanyakan kesiapan kandidat menjalankan pekerjaan. Jika posisi memiliki jadwal atau tuntutan tertentu, pertanyaan dapat diarahkan kepada persyaratan pekerjaan, misalnya apakah kandidat mampu memenuhi jadwal kerja yang telah ditentukan.

  3. 3. Usia, agama, asal-usul, dan kondisi kesehatan perlu mendapat perhatian khusus

    ilustrasi wawancara kerja (unsplash.com/LinkedIn Sales Solutions)
    ilustrasi wawancara kerja (unsplash.com/LinkedIn Sales Solutions)

    Pertanyaan tentang usia, agama, etnis, tempat asal, kondisi kesehatan, atau disabilitas merupakan area yang lebih sensitif. Misalnya, pertanyaan “Kamu umur berapa?”, “Agamamu apa?”, “Aslinya dari daerah mana?” atau “Punya penyakit tertentu?” dapat menggali informasi pribadi yang belum tentu berkaitan dengan kemampuan kandidat menjalankan pekerjaannya.

    HRD dapat mengubah pertanyaan sensitif menjadi pertanyaan yang lebih relevan dengan pekerjaan. Daripada menanyakan kondisi kesehatan pribadi, misalnya, pewawancara dapat menjelaskan tuntutan pekerjaan kemudian menanyakan apakah kandidat mampu menjalankan fungsi utama posisi tersebut. Dengan begitu, kebutuhan perusahaan tetap dapat dinilai tanpa menggali informasi pribadi yang tidak diperlukan.

  4. 4. Pertanyaan tentang kehidupan pribadi belum tentu selalu terlarang, tetapi harus punya alasan yang jelas

    ilustrasi wawancara kerja (unsplash.com/Mina Rad)
    ilustrasi wawancara kerja (unsplash.com/Mina Rad)

    Tidak semua pertanyaan yang menyentuh kehidupan pribadi otomatis ilegal di setiap negara atau situasi. Aturan mengenai interview berbeda-beda berdasarkan yurisdiksi, jenis pekerjaan, serta konteks pertanyaannya. Karena itu, istilah “boleh” dan “tidak boleh” sebaiknya tidak dipahami sebagai daftar universal yang berlaku sama di seluruh dunia.

    Yang menjadi prinsip penting adalah hubungan antara pertanyaan dan pekerjaan. SHRM menekankan bahwa perusahaan sebaiknya menggunakan kriteria yang konsisten ketika mewawancarai kandidat serta memastikan pertanyaan berkaitan dengan kualifikasi posisi yang sedang dibuka.

    "Pada umumnya, pertanyaan wawancara seharusnya hanya berkaitan dengan persyaratan pekerjaan. Meski demikian, pertanyaan pembuka yang lebih tepat mungkin adalah 'Ceritakan tentang diri Kamu'," ujar Rae Vann, seorang pengacara bidang ketenagakerjaan dikutip SHRM.

     

  5. 5. Cara membedakan pertanyaan HRD yang relevan dan yang terlalu pribadi

    ilustrasi wawancara kerja (unsplash.com/Resume Genius)
    ilustrasi wawancara kerja (unsplash.com/Resume Genius)

    Salah satu cara sederhana untuk melihat apakah sebuah pertanyaan layak diajukan adalah dengan bertanya: “Apakah jawaban atas pertanyaan ini benar-benar dibutuhkan untuk menentukan kemampuan kandidat menjalankan pekerjaan?” Jika jawabannya tidak, pertanyaan tersebut kemungkinan perlu diperbaiki atau dihilangkan dari proses interview.

    Misalnya, daripada bertanya “Apakah kamu punya anak dan siapa yang menjaga anak saat bekerja?”, pertanyaan dapat diarahkan menjadi “Posisi ini membutuhkan jadwal kerja hingga pukul tertentu. Apakah kamu dapat memenuhi jadwal tersebut?” Fokusnya berubah dari kondisi keluarga kandidat menjadi persyaratan pekerjaan yang harus dipenuhi.

    "Pemberi kerja perlu memastikan bahwa pertanyaan wawancara mereka sama bagi semua kandidat, dan bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut berkaitan erat dengan pengetahuan, keterampilan, serta kemampuan yang dibutuhkan untuk berhasil dalam peran tersebut," kata Jana Tulloch.

    Interview kerja idealnya menjadi percakapan profesional untuk mengetahui apakah kualifikasi dan kemampuan kandidat sesuai dengan kebutuhan posisi. Pertanyaan mengenai pengalaman, keterampilan, cara bekerja, dan kemampuan memenuhi tanggung jawab pekerjaan merupakan bagian yang relevan, sedangkan pertanyaan mengenai kehidupan pribadi, keluarga, agama, usia, atau kesehatan perlu diperlakukan dengan lebih hati-hati dan mengikuti hukum yang berlaku di negara masing-masing.

Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More