“Ketika saya menanyakan kelemahanmu, yang sebenarnya ingin saya tahu pertama-tama adalah apakah kamu cukup mengenal dirimu untuk mengakui bahwa kamu memiliki kelemahan,” ujar Ramit Sethi, seorang personal finance expert dan penulis, dikutip dari Business Insider.
Cara Menjawab “Apa Kelemahan Terbesarmu?” saat Interview Kerja

- Kandidat disarankan memilih kelemahan yang nyata, realistis, dan tidak berkaitan dengan kompetensi utama posisi agar recruiter tetap melihat kecocokan mereka.
- Setelah menyebutkan kelemahan, jelaskan secara singkat pengalaman atau masukan yang membuat kandidat menyadarinya, sehingga jawaban menunjukkan kemampuan evaluasi diri.
- Jawaban perlu memaparkan langkah perbaikan yang konkret, menghindari klise atau pujian terselubung, serta disampaikan singkat dan percaya diri.
“Apa kelemahan terbesarmu?” menjadi pertanyaan interview yang kerap bikin kandidat bingung. Banyak yang memilih jawaban klise, seperti “terlalu perfeksionis” atau “terlalu pekerja keras” karena takut mengungkap kekurangan sebenarnya.
Padahal, pertanyaan ini bisa jadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa kamu mengenal diri sendiri dan mau berkembang. Lantas, bagaimana cara menjawabnya dengan jujur tanpa membuat recruiter fokus pada kekuranganmu? Simak tipsnya berikut ini!
1. Pilih kelemahan yang benar-benar kamu miliki

ilustrasi zoom interview (pexels.com/shvetsa) Pertama, pilih kelemahan yang memang pernah kamu alami, bukan jawaban yang dibuat agar terdengar sempurna. Hindari kekurangan yang berkaitan dengan kemampuan utama posisi yang kamu lamar karena bisa membuat recruiter meragukan kecocokanmu. Misalnya, mengatakan sulit berkomunikasi saat melamar sebagai sales tentu kurang tepat.
Kamu juga gak perlu memilih kekurangan yang terlalu berat atau berisiko mengganggu pekerjaan. Cukup pilih satu hal yang realistis dan masih bisa kamu perbaiki melalui kebiasaan atau strategi tertentu. Dengan begitu, jawabanmu akan terdengar lebih jujur dan menunjukkan bahwa kamu memahami kemampuan diri sendiri.
2. Ceritakan bagaimana kamu menyadarinya

ilustrasi interview (pexels.com/sorashimazaki) Setelah menyebutkan kelemahan, jelaskan singkat bagaimana kamu menyadarinya. Kamu bisa mengambil contoh dari pengalaman kerja, masukan atasan, atau situasi yang menunjukkan kebiasaan tersebut perlu diperbaiki. Dengan begitu, jawabanmu terasa lebih nyata dan gak sekadar menyebutkan kekurangan.
Pengalaman tersebut gak perlu diceritakan terlalu panjang karena tujuan utamanya adalah menunjukkan kesadaran diri. Fokuskan cerita pada apa yang terjadi dan apa yang kemudian kamu pelajari dari situasi tersebut sehingga recruiter bisa melihat bahwa kamu mampu mengevaluasi diri ketika menghadapi masalah.
“Semua orang punya kelemahan. Orang-orang dengan performa terbaik yang saya kenal justru sangat terbuka mengenai kelemahan mereka,” ujar Ramit Sethi.
3. Tunjukkan usaha untuk memperbaikinya

ilustrasi wanita sedang menyimak dalam rapat (pexels.com/divinetechygirl) Jawabanmu akan lebih kuat jika setelah menyebutkan kelemahan, kamu menjelaskan cara mengatasinya. Misalnya, jika sering terlalu lama mengerjakan detail, kamu bisa mulai menentukan prioritas dan batas waktu untuk setiap tugas. Ini menunjukkan bahwa kamu gak hanya menyadari kekurangan, tetapi juga berusaha memperbaikinya.
Kamu perlu menghindari jawaban, seperti “saya sedang berusaha memperbaikinya” tanpa menjelaskan apa yang sudah dilakukan. Sebutkan kebiasaan baru, cara kerja, pelatihan, atau feedback yang kamu gunakan untuk berkembang. Semakin konkret langkah yang kamu ceritakan, semakin mudah recruiter melihat adanya proses perbaikan.
“Kalau kamu mengarang jawaban selama interview, mereka akan tahu. Pewawancara jauh lebih terampil daripada kamu, jadi jangan mencoba berbohong,” imbuh Ramit.
4. Hindari menjadikan kelebihan sebagai kelemahan

ilustrasi perempuan sedang bekerja (pexels.com/olia-danilevich) Jawaban seperti “saya terlalu pekerja keras” atau “saya terlalu perfeksionis” mungkin terdengar aman, tetapi jawaban ini sudah terlalu umum. Tanpa penjelasan yang spesifik, jawaban ini justru bisa terkesan menghindari pertanyaan dan membuat recruiter sulit melihat kesadaran dirimu.
Kalau memang perfeksionis atau terlalu detail, jelaskan dampaknya terhadap pekerjaan dan cara kamu mengatasinya. Misalnya, kamu terkadang terlalu lama menyempurnakan detail sehingga kini belajar menentukan prioritas sejak awal. Dengan ini, jawabanmu terdengar lebih jujur dan gak seperti pujian terselubung.
5. Jawab dengan singkat dan percaya diri

ilustrasi sekelompok orang melihat ke laptop (pexels.com/olly) Kamu gak perlu menghabiskan waktu beberapa menit hanya untuk menjelaskan satu kelemahan. Sampaikan secara sederhana apa kekuranganmu, bagaimana kamu menyadarinya, dan apa yang sudah dilakukan untuk memperbaikinya. Struktur tersebut membuat jawaban tetap fokus tanpa memberikan terlalu banyak perhatian pada sisi negatifmu.
Saat menyampaikannya, hindari nada meminta maaf karena memiliki kelemahan tertentu. Anggap pertanyaan tersebut sebagai kesempatan untuk menunjukkan proses perkembanganmu sebagai seorang profesional. Jawaban yang tenang, spesifik, dan jujur justru bisa membuatmu terlihat lebih matang di mata recruiter.
Intinya, gak ada jawaban yang benar-benar sempurna untuk pertanyaan soal kelemahan saat interview. Yang penting, jawab dengan jujur, percaya diri, dan tunjukkan bahwa kamu terus berusaha berkembang.






















