Adu pengalaman kerja sering dilakukan oleh anak muda. Terutama mereka yang belum terlalu lama bekerja. Seperti baru 5 tahun sejak lulus kuliah. Seolah-olah semakin banyak kantor yang pernah menerimanya kemudian ditinggalkannya adalah jaminan atas kemampuan kerja.
Bangga Masih Muda Pengalaman Kerja Segudang? Jangan Senang Dulu!

- Sering pindah kerja justru bisa membuat HRD menilai seseorang sebagai kutu loncat yang kurang loyal dan sulit dipercaya untuk posisi jangka panjang.
- Masa kerja singkat sering dianggap tanda kontrak tidak diperpanjang karena performa kurang, bukan karena keputusan resign pribadi.
- Banyak pengalaman acak tanpa keahlian spesifik tidak menunjukkan prestasi; yang dihargai adalah konsistensi, durasi, dan pencapaian nyata selama bekerja.
Penilaian kerja dan kompetensi karyawan tidak sesederhana itu. Ini lebih kompleks daripada sekadar CV yang dipenuhi nama-nama perusahaan. Kalau kamu sempat ingin mengikuti teman yang pengalaman kerjanya segudang dalam waktu singkat, mending diurungkan.
Jangan menggali lubang dalam perjalanan kariermu sendiri ke depannya. Meski bertahan di satu pekerjaan kadang tak mudah, minimal jangan sengaja bekerja cuma sebentar-sebentar. Apalagi merasa hal itu hebat dan tak tertandingi. Bangga masih muda pengalaman kerja segudang boleh-boleh saja, tapi jangan mudah terlena, ya!
1. Kamu malah bisa ditandai HRD sebagai kutu loncat

Daftar panjang pengalaman kerjamu mungkin berhasil memukau beberapa kawan sebaya. Namun, tidak demikian dengan staf HRD yang berpengalaman. Sudut pandangmu dengan mereka berbeda.
Orang yang sudah sangat berpengalaman menangani segala masalah karyawan dengan cepat membaca pola gerakanmu. Bukannya dirimu diuntungkan, malah cenderung dirugikan oleh pengalaman pindah-pindah kerja yang terlalu sering. Dari kacamata HRD, kamu tak lebih dari kutu loncat.
Dirimu gak punya loyalitas yang cukup pada kantor-kantor sebelumnya. Kamu tipe karyawan yang cenderung siap hengkang kapan saja tanpa memikirkan tempat yang telah memberimu kehidupan layak. Perusahaan yang dilamar tidak akan menjadikanmu kandidat prioritas untuk diterima.
2. Mungkin kantor tidak memperpanjang kontrakmu, bukan kamu resign

Dengan masa kerja yang terlalu singkat, setiap orang yang sudah berpengalaman akan dapat memperkirakan. Bahwa dirimu tidak mundur dari kantor-kantor tersebut. Namun, perusahaan tidak memperpanjang masa kontrak.
Bahkan boleh jadi kontrak diputus sepihak oleh pemberi kerja selepas dirimu melakukan kesalahan yang fatal. Sebab umumnya orang resign dari pekerjaan setelah setidaknya 1 atau 2 tahun. Bahkan kerap kali lebih lama dari itu.
Mereka baru mengundurkan diri ketika betul-betul jenuh dengan suasana kerja, ada masalah besar, atau siap menjalani hidup dengan cara berbeda. Saat orang meyakini kontrakmu gak diperpanjang oleh kantor, niscaya mereka menilai kamu memang gak capable di posisi yang diduduki. Karyawan dengan kecakapan tinggi bakal dipertahankan mati-matian oleh perusahaan.
Jika perlu dengan iming-iming yang lumayan besar. Dari naik jabatan, tambahan pendapatan, sampai pemberian berbagai fasilitas yang tadinya gak ada. Sementara karyawan minim kemampuan harus segera disingkirkan.
3. Kalaupun dirimu resign, posisi masih entry level

Posisi entry level memang paling banyak diwarnai oleh keluar-masuk karyawan. Di satu sisi, karyawan baru yang duduk di level entry masih muda, gampang bosan, dan punya banyak keinginan. Ini membuat mereka lebih gampang memutuskan untuk melepas pekerjaan.
Beda dengan orang yang menempati posisi lebih tinggi. Selain rasa suka terhadap pekerjaan yang lebih kuat, dari segi penghasilan juga lebih memuaskan. Pun telah ada ambisi yang lebih besar untuk naik ke posisi berikutnya.
Pihak kantor pun berupaya mempertahankan orang-orang di posisi penting. Sulit buat mereka mendapatkan gantinya. Panjang pengalamanmu bekerja di sana-sini cuma memperjelas posisi yang gak pernah bergeser dari tingkat terendah. Setiap bekerja cuma beberapa bulan lalu resign, tidak mungkin kamu sudah menjadi manajer.
4. Prestasi sejati ialah kehebatanmu selama bekerja

Jangan salah kaprah dalam menilai prestasi di dunia kerja. Kamu gak akan dinilai punya prestasi hanya karena daftar panjang pengalaman kerja. Karyawan dengan kemampuan kerja paling payah boleh jadi justru menang kalau kriterianya seperti di atas.
Kontrak awal 3 atau 6 bulan, misalnya, selalu lantas diputus perusahaan karena dia gak bisa bekerja dengan cukup baik. Ia tidak memiliki potensi untuk lebih berkembang dalam pekerjaan tersebut. Oleh sebab itu, banyaknya pengalaman kerja sama sekali bukan indikator pencapaian.
Kamu baru akan disebut berprestasi bila selama masa kerjamu dapat meraih hal-hal hebat. Contoh, dirimu sebagai staf penjualan membuat laba perusahaan naik pesat. Atau, kamu yang bekerja di bidang IT mampu menciptakan sistem keamanan khusus supaya data-data kantor tidak mudah dijebol orang tak bertanggung jawab.
5. Pengalaman kerja banyak tapi acak, kemampuanmu gak jelas

Pihak yang akan memberimu pekerjaan perlu tahu dengan jelas kemampuanmu apa saja. Makin tampak dirimu punya keahlian yang dibutuhkan, makin besar kesempatanmu untuk diterima. Sebaliknya, pengalaman kerja yang acak tidak terlalu menarik bagi mereka.
Contoh, kamu pernah bekerja 3 bulan sebagai staf penjualan. Lalu 6 bulan di bagian administrasi dan lainnya. Semua itu cuma memperlihatkan kemampuan kerja yang gak terlalu spesial.
Beda dengan apabila kamu telah 5 tahun bahkan lebih menggeluti bidang pemasaran. Perusahaan yang dilamar pasti merasa bakal cukup diuntungkan oleh pengalaman kerjamu. Kamu juga melamar untuk posisi yang sama sehingga pas sekali dengan keahlianmu selama ini.
6. Mungkin kamu baru magang, belum kerja sungguhan

Jika pengalaman kerja di CV-mu hanya berkisar 1 sampai 6 bulan, jangan-jangan kamu belum betul-betul bekerja. Alih-alih dirimu berstatus karyawan kontrak, sejatinya kamu masih anak magang. Kamu diterima di sana lebih buat bantu-bantu saja.
Tugas yang dikerjakan olehmu, besaran tanggung jawab, dan pengetahuanmu akan berbagai informasi penting jelas tidak sama dengan karyawan asli. Anak magang tak dilibatkan sama sekali dalam rapat. Tidak dimintai pendapat, bahkan sering cuma disuruh-suruh sepanjang hari.
Magang tentu penting buat menambah pengalamanmu di dunia kerja daripada dirimu gak ngapa-ngapain. Namun, tidak pas apabila pengalaman magang menjadi modal membanggakan diri secara berlebihan. Pengalaman ini masih terlalu dasar di dunia kerja.
Bangga masih muda pengalaman kerja segudang memang lebih baik daripada sama sekali gak ada. Meski begitu, tambahi dengan kriteria pengalaman kerja yang mumpuni. Baik dilihat dari masa kerja maupun pencapaian selama bekerja. Bukan sekadar kamu pindah-pindah tempat kerja.


















