Bullying di tempat kerja tidak selalu muncul dalam bentuk bentakan, penghinaan terang-terangan, atau perlakuan kasar di depan banyak orang. Dalam beberapa lingkungan kerja, perilaku tersebut justru bisa muncul lewat perilaku yang lebih halus. Ini bisa berupa candaan yang terus diulang, pemberian tugas yang tidak masuk akal, sengaja mengucilkan seseorang, sampai komentar yang merendahkan kemampuan rekan kerja.
Mengapa Budaya Kantor Bisa Bikin Bullying Dianggap Normal?

- Bullying di kantor dapat muncul secara halus lewat candaan berulang, tugas tidak masuk akal, pengucilan, atau komentar merendahkan yang lama-kelamaan dianggap wajar.
- Humor sering dipakai untuk menutupi perlakuan merendahkan; keluhan korban malah dibalas dengan anggapan terlalu baper, sehingga dampak perilaku tersebut diabaikan.
- Senioritas dan tekanan mengikuti budaya kantor membuat karyawan enggan melawan, sementara adaptasi yang sehat seharusnya tidak menuntut penerimaan terhadap intimidasi atau penghinaan.
Yang membuat situasi semakin rumit adalah bahwa perilaku seperti ini terkadang sudah dianggap sebagai bagian dari keseharian di kantor. Ketika semua orang terbiasa melihatnya, bullying bisa kehilangan label sebagai sesuatu yang salah dan justru dianggap sebagai hal yang wajar. Namun, bukan berarti perilaku ini bisa dibiarkan. Mari bahas lebih dalam mengapa budaya kantor bisa bikin bullying dianggap normal.
1. Perilaku buruk yang terus dilakukan bisa dianggap sebagai kebiasaan

ilustrasi korban bullying (pexels.com/Yan Krukau) Sesuatu yang awalnya terasa tidak pantas bisa terlihat biasa ketika dilakukan berulang kali. Misalnya, seorang senior sering mempermalukan junior ketika junior melakukan kesalahan. Karena kejadian tersebut terus berlangsung dan tidak pernah mendapatkan teguran, orang-orang di sekitarnya bisa mulai menganggapnya sebagai bagian dari dinamika kerja.
Masalahnya, frekuensi tidak membuat sebuah perilaku menjadi benar. Ketika bullying sudah berlangsung cukup lama, orang di kantor mungkin berhenti mempertanyakan mengapa hal tersebut terjadi. Korban pun bisa berada dalam posisi yang sulit karena merasa dirinya satu-satunya orang yang menganggap perlakuan tersebut bermasalah.
2. Candaan sering menjadi alasan untuk menutupi bullying

ilustrasi melakukan prank pada teman (pexels.com/Ron Lach) Budaya bercanda di kantor sebenarnya tidak selalu buruk. Candaan bisa membuat suasana kerja lebih santai dan membantu karyawan merasa dekat satu sama lain. Namun, masalah muncul ketika humor digunakan untuk merendahkan orang tertentu secara terus-menerus.
Komentar tentang penampilan, kemampuan kerja, kehidupan pribadi, atau kondisi seseorang bisa disebut sebagai "cuma bercanda". Saat korban menunjukkan ketidaknyamanan, respons yang muncul bahkan bisa berupa, "Baper banget" atau "Jangan serius-serius di kantor." Padahal, sebuah candaan tetap perlu melihat dampaknya kepada orang yang menjadi sasaran. Kalau hanya satu orang yang terus dijadikan bahan lelucon dan ia merasa tertekan, situasinya sudah tidak sesederhana bercanda.
3. Senioritas dapat membuat perilaku bullying lebih sulit dipermasalahkan

ilustrasi senioritas di kantor (pexels.com/Yan Krukau) Di sebagian tempat kerja, senioritas masih memiliki pengaruh yang cukup kuat. Karyawan yang sudah lama bekerja bisa mendapatkan posisi sosial yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang baru bergabung. Akibatnya, ketika senior melakukan tindakan yang merendahkan junior, orang lain mungkin memilih diam. Ada kekhawatiran bahwa ikut membela korban justru akan membuat dirinya ikut menjadi sasaran atau dianggap tidak menghormati senior. Ini kemudian membuat pelaku merasa memiliki ruang untuk terus melakukan hal yang sama karena tidak ada konsekuensi yang jelas.
4. Korban bisa dianggap terlalu sensitif

ilustrasi laki-laki menjadi korban bullying di kantor (pexels.com/AlphaTradeZone) Salah satu hal yang membuat bullying sulit dikenali adalah anggapan bahwa korban terlalu sensitif. Ketika seseorang speak up soal perlakuan tertentu, respons dari lingkungan sekitarnya bisa berupa menyuruhnya untuk lebih santai atau tidak terlalu memikirkan perkataan orang lain. Padahal, setiap orang memiliki batas kenyamanan yang berbeda. Sesuatu yang dianggap lucu oleh satu orang belum tentu terasa sama bagi orang yang menjadi sasaran.
Jika respons terhadap keluhan korban selalu menyalahkan sensitivitasnya, masalah sebenarnya justru tidak pernah dibahas. Korban akhirnya dituntut untuk lebih banyak beradaptasi dengan lingkungan kerja yang membuatnya tidak nyaman. Padahal, yang seharusnya diperbaiki adalah perilaku yang menjadi sumber masalah tersebut.
5. Tekanan untuk "bisa mengikuti budaya kantor"

ilustrasi rapat kerja (pexels.com/fauxels) Terakhir, budaya kantor bisa bikin bullying dianggap normal karena menganggap bahwa hal tersebut merupakan 'budaya perusahaan'. Bahkan, hal tersebut diterapkan pada karyawan baru. Umumnya, karyawan baru membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja. Mereka perlu memahami cara berkomunikasi, kebiasaan tim, sampai gaya bercanda yang berlaku di kantor. Namun, proses adaptasi bisa menjadi masalah ketika "menyesuaikan diri" berarti harus menerima perlakuan yang sebenarnya tidak sehat. Karyawan mungkin merasa harus ikut tertawa ketika dirinya menjadi bahan lelucon agar tidak dianggap kaku atau sulit bergaul.
Lingkungan kerja yang sehat bukan berarti harus selalu serius dan tanpa candaan. Rekan kerja tetap bisa bercanda, memberikan kritik, atau memiliki gaya komunikasi yang berbeda. Meski begitu, aktivitas tersebut tetap perlu memiliki batas agar tidak berubah menjadi perilaku yang merendahkan atau membuat seseorang merasa terintimidasi.
























