Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
3 Budaya Kerja Negatif yang Seharusnya Dievaluasi, Kamu Setuju?
ilustrasi stress dalam bekerja (pexels.com/Karolina Grabowska)

Ketika bekerja, terlebih bila menjadi seorang pegawai, kamu tidak hanya harus siap untuk menghadapi tugas-tugas yang dibebankan kepadamu, tetapi juga sekaligus berusaha menyesuaikan diri dengan budaya kerja yang ada. Sayangnya, sebagian tempat kerja masih menerapkan tradisi dan aturan buruk yang menciptakan banyak masalah. Beberapa budaya kerja negatif berikut ini layak untuk dievaluasi supaya tidak terus menimbulkan kerugian.

1. Budaya menaruh sekat yang terlalu tegas antara senior dan junior

ilustrasi konflik antar rekan kerja (pexels.com/Yan Krukau)

Ketika terjun ke dunia kerja, kamu tentu akan berhadapan dengan keberagaman, salah satunya usia. Tidak seperti saat sekolah atau kuliah di mana terbiasa bergaul dengan teman usia sebaya, rekan kerja bisa punya perbedaan usia yang cukup signifikan. Kerap kali, semakin tinggi posisinya, semakin tua pula umurnya.

Terlepas dari status sesama rekan kerja, terkadang di beberapa tempat kerja masih menerapkan budaya senioritas yang tinggi. Ada sekat jelas antara senior dan junior yang sayangnya kerap menimbulkan interaksi negatif. Seseorang yang beprestasi dipandang rendah hanya karena masih junior, dan sebaliknya, orang yang minim kemampuan dijunjung tinggi hanya karena senior. Ya, memang tahu diri akan posisi adalah hal yang penting untuk tujuan kedisiplinan dan kelancaran dalam melaksanakan tugas, tetapi bila situasi ini disalahgunakan, maka pasti menimbulkan kerugian, bukan begitu?

2. Budaya memanfaatkan kemampuan rekan yang masih muda

ilustrasi karyawan yang dikejar deadline (pexels.com/Antoni Shkraba)

Secara teori, setiap orang di tempat kerja akan mengerjakan tugas sesuai job desc masing-masing. Namun demikian, praktiknya terkadang berbeda jauh, nih. Pada kenyataannya, masih ada saja oknum pekerja, terutama mereka dengan usia lebih senior atau punya jabatan lebih tinggi, senang memanfaatkan kemampuan rekan kerja yang usianya masih muda. Apa maksudnya?

Para pekerja yang masih muda umumnya memang lebih paham soal kemajuan teknologi yang kini diterapkan di banyak kantor atau tempat kerja lainnya, sehingga sering dimanfaatkan untuk disuruh mengerjakan tugas senior mereka yang kurang mengerti hal semacam ini. Tidak berhenti di situ, anak-anak muda yang belum berkeluarga juga kerap diberi tugas tambahan hanya karena mereka single dan belum ada kesibukan mengurus keluarga. Bikin kesal saja, nih!

3. Pemberian gaji yang nominalnya dibawah standar

ilustrasi seseorang yang kekurangan uang (pexels.com/Karolina Grabowska)

Ada satu lagi hal buruk yang sayangnya masih kerap ditemukan di berbagai tempat kerja dan malah sudah cukup membudaya, yaitu pemberian gaji rendah. Sebagaimana yang telah diketahui, ada peraturan tentang nominal gaji standar yang ditetapkan untuk setiap daerah. Jumlahnya telah dihitung sedemikian rupa agar dapat memenuhi biaya hidup setiap bulan.

Sekarang coba pikirkan baik-baik. Hidup dengan gaji standar saja terkadang masih bisa kesulitan, bukan karena tidak bersyukur, tetapi memang harga beragam kebutuhan yang naik atau ada tugas menanggung kebutuhan selain untuk diri sendiri. Bayangkan, betapa rumitnya bila gaji yang diterima jumlahnya dibawah standar. Alih-alih berkesempatan menabung, mampu mengatur uang pas-pasan untuk penuhi segala keperluan saja rasanya sudah seperti berjuang mati-matian. Semoga budaya penggajian murah semacam ini lekas hilang, ya!

Budaya kerja yang negatif sebisa mungkin harus dikurangi, bahkan bila memungkinkan, dihilangkan sama sekali. Jika hal-hal yang mampu timbulkan tekanan batin begini tidak ada lagi, maka banyak orang bisa menjalankan pekerjaannya dengan tenang dan mencapai hasil maksimal. Apa pendapatmu soal kejadian ini?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAtqo Sy

Related Article