5 Buku yang Membedah Uniknya Budaya Kerja di Berbagai Negara

- Buku Ikigai mengungkap filosofi Jepang tentang makna hidup dan bekerja, memberikan panduan praktis untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
- The Culture Map membahas strategi komunikasi bisnis untuk mengatasi perbedaan budaya di berbagai negara, meningkatkan kolaborasi, dan meminimalkan kesalahpahaman.
- The Atlas of Happiness memetakan konsep kebahagiaan dari 30 negara berbeda, menunjukkan bahwa performa yang baik datang dari kemampuan untuk berhenti sejenak dan menerima ketidakpastian.
Pernah gak kamu bertanya kenapa orang Prancis suka berdebat atau orang Jepang kelihatan tetap semangat meski jam kerjanya padat? Terus, gimana sih cara kita tetap bisa seimbang di tengah tuntutan pekerjaan era modern?
Budaya kerja itu merupakan bagian dari identitas sebuah bangsa. Ia ada berdampingan dengan pola pikir serta karakteristik suatu individu maupun kelompok. Nah, supaya kamu punya perspektif yang lebih luas, yuk intip kultur dari berbagai belahan dunia melalui buku-buku berikut!
1. Ikigai: The Japanese Secret to a Long and Happy Life karya Héctor García & Francesc Miralles

Buku ini adalah buku best seller yang ditulis oleh dua orang sahabat dari Spanyol, telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk Indonesia. Buku ini terinspirasi dari warga Jepang khususnya penduduk Okinawa yang punya harapan hidup lebih tinggi dan berumur panjang dibanding penduduk dunia daerah lain. Karena hal itu, mereka kerap dijuluki sebagai the most centenarians in the world.
Nah, kunci berumur panjang penduduk Okinawa adalah dengan menerapkan filosofi Ikigai. Filosofi ini dipercaya mampu memberikan makna mendalam pada setiap tindakan sekaligus dapat menjadi panduan praktis dalam menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk bekerja. Jelasnya, Ikigai merupakan filosofi yang membuat seseorang merasa antusias dan bersemangat untuk bangun di pagi hari.
2. The Culture Map karya Erin Meyer

Buku ini merupakan pedoman untuk menghadapi keragaman budaya dalam bisnis. Sebagaimana buku pedoman, The Culture Map (2014) menjabarkan tentang teori komunikasi yang disertai strategi untuk mengatasi masalah bisnis akibat perbedaan latar budaya. Melalui buku ini, kamu akan memahami keunikan budaya kerja di sejumlah negara. Misalnya, orang Prancis menganggap konfrontasi terbuka sebagai suatu hal yang positif.
Dengan memahami budaya rekan kerja, kamu mampu mengambil keputusan lebih baik, meningkatkan kolaborasi, serta yang gak kalah penting adalah meminimalkan kesalahpahaman. Misalnya nih, kamu jadi tahu cara mengirimkan email kepada rekan kerja dari Jepang atau Korea, yakni dengan menggunakan bahasa yang lebih halus dan gak terlalu to the point layaknya gaya komunikasi orang Amerika. Kalau kamu merupakan seorang pebisnis atau ingin meningkatkan keterampilan komunikasi, buku ini cocok deh untuk kamu baca.
3. The Atlas of Happiness karya Helen Russell

Setelah sukses dengan buku sebelumnya yang berjudul The Year of Living Danishly (2015), Helen Russell menulis buku selanjutnya (buku ketiga) berjudul The Atlas of Happiness (2018). Jika di buku sebelumnya Helen berfokus pada budaya hygge di Denmark, di buku kali ini ia memperluas bahasannya dengan memetakan konsep kebahagiaan dari sekitar 30 negara berbeda.
Melalui The Atlas of Happiness, kamu akan memahami beragam kultur dari banyak negara di dunia yang membuat masyarakatnya hidup bahagia. Misalnya, Jepang dengan konsep Wabi Sabi, Italia dengan konsep Dolce Far Niente, Inggris dengan konsep Jolly, dan Islandia berkonsep Petta reddast.
Namun, ingat ya bahwa buku ini bukan rangkuman dari negara-negara paling bahagia di dunia. Di The Atlas of Happiness, Helen berusaha menjabarkan bagaimana setiap negara punya kultur yang unik dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Dari buku ini, kamu akan bisa memahami bahwa performa yang baik gak melulu datang dari produktivitas, melainkan bisa datang dari kemampuan untuk berhenti sejenak, menerima ketidakpastian, dan membangun koneksi.
4. Au Contraire! Figuring Out the French karya Gilles Asselin & Ruth Mastron

Selanjutnya adalah buku berjudul Au Contraire! Figuring Out the French karya Gilles Asselin & Ruth Mastron yang terbit pada tahun 2001 (dengan edisi revisi yang dirilis pada tahun 2010). Di buku ini, pembaca diajak untuk mendalami psikologi dan etos kerja masyarakat Prancis. Kamu akan memahami pola pikir suatu negara, yakni Prancis. Masyarakat Prancis lebih menghargai Siapa Anda, bukan Apa yang Anda Punya. Dengan kata lain, cara kamu mencapai sesuatu dengan cerdas akan lebih dihargai dibanding hasil akhir yang kamu peroleh. Kemudian, ketika di banyak negara orang pamer kekayaan atau jabatan, di Prancis orang justru lebih peduli pada latar belakang pendidikan, gaya bicara, dan selera seni.
Selain itu, mereka juga menganggap bahwa debat itu seru. Bagi masyarakat Prancis, adu argumen yang tajam dan intelektual merupakan bagian dari interaksi sosial. Namun, bukan berarti mereka membencimu saat punya pendapat yang berbeda denganmu, ya. Jadi, jangan heran dan baper saat di kantor-kantor Prancis, khususnya ketika rapat, suasana mendadak “panas” karena perdebatan yang sengit. Itu bukan serangan personal kok, melainkan konfrontasi ide untuk mencapai solusi terbaik.
5. Understanding Arabs karya Margaret K. Nydell

Kita mengetahui bahwa budaya Arab merupakan salah satu budaya paling berpengaruh di dunia. Nah, buku ini adalah pengantar untuk budaya Arab bagi kamu yang ingin memahami secara mendalam kultur negara tersebut. Melalui buku ini, Margaret K. Nydell mengajak pembaca untuk melihat karakter dan perasaan masyarakat Arab.
Sejumlah poin penting terkait budaya masyarakat Arab yang bisa kamu temukan di buku ini seperti pentingnya kehormatan, komunikasi yang hangat dan tidak langsung, serta prioritas hubungan keluarga dan teman. Kalau kamu baca buku ini, kamu akan punya perspektif yang lebih luas dan jernih dalam melihat dunia Arab. Dengan begitu, kamu pun bisa membangun hubungan sehat, entah itu secara pribadi maupun profesional, dengan teman atau kolega dari negara-negara tersebut.
Unik-unik kan budaya dan etos kerja masyarakat dari berbagai belahan dunia. Mengenal budaya mereka lewat literatur gak sekadar menambah perspektif atau pengetahuan, tapi juga bisa untuk jadi bahan refleksi gimana sih kita bekerja selama ini. Dari bacaan tersebut, kita bisa memetik pelajaran berharga untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.


















