Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bukan Hanya Karya, Ekonomi Kreatif Juga Soal Kesetaraan
The Unseen Inequality of Creative Economy di The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026, yang berlangsung di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, pada Jumat (23/10/2026) (IDN Times/Maura Thirza)
  • Diskusi WCCE 2026 menyoroti ketimpangan ekonomi kreatif, termasuk akses terbatas bagi kelompok rentan serta kebutuhan agar pertumbuhan industri turut menjamin kesempatan dan manfaat yang merata.
  • Koalisi Seni mencatat 40 persen pekerja kreatif perempuan dan 43,5 persen pekerja beragam gender berpenghasilan di bawah upah minimum nasional, menunjukkan kesejahteraan belum otomatis mengikuti pertumbuhan industri.
  • Panelis mendorong ekosistem inklusif melalui kolaborasi, pelatihan, pembiayaan, perlindungan hak pekerja, dan fokus pada kebutuhan manusia, termasuk penyandang disabilitas, masyarakat adat, kaum muda, serta lansia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Ekonomi kreatif kerap dipandang sebagai industri yang terbuka bagi siapa saja untuk berkarya dan mengembangkan potensi. Namun, di balik peluang yang terus berkembang, masih ada pekerja yang berjuang mendapatkan penghasilan layak, seniman dengan disabilitas yang membutuhkan ruang berkarya, hingga masyarakat di daerah terpencil yang belum memiliki akses memadai. Persoalan ini menjadi sorotan dalam sesi The Unseen Inequality of Creative Economy di The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026, yang berlangsung di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, pada Jumat (23/10/2026).

Melalui diskusi tersebut, berbagai ketimpangan yang masih membayangi industri kreatif dibahas oleh beberapa panelis. Mereka menyoroti pentingnya membangun ekosistem yang bukan hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan setiap orang punya kesempatan untuk berpartisipasi dan menikmati hasilnya.

1. Industri kreatif juga perlu menjamin kesejahteraan pekerjanya

Menurut Irawan Karseno, Ketua Koalisi Seni, pekerja kreatif masih menghadapi berbagai kerentanan (IDN Times/Maura Thirza)

Berkarya di industri kreatif tidak selalu tentang memiliki penghasilan yang layak atau lingkungan kerja yang aman. Menurut Irawan Karseno, Ketua Koalisi Seni, pekerja kreatif masih menghadapi berbagai kerentanan, terutama perempuan dan kelompok dengan keberagaman gender.

Dalam paparannya, ia menyebutkan bahwa 40 persen pekerja kreatif perempuan di Indonesia memperoleh penghasilan di bawah upah minimum nasional. Sementara itu, angka tersebut mencapai 43,5 persen pada pekerja kreatif dengan keberagaman gender. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan industri belum otomatis menjamin kesejahteraan orang-orang di dalamnya.

Menurut Irawan Karseno, Ketua Koalisi Seni, “Pihak yang paling dirugikan adalah mereka yang telah mengalami kerentanan struktural yang lebih luas, seperti perempuan, kelompok beragam gender, pemuda, dan orang-orang yang tinggal di luar Jawa. Para praktisi memahami hal ini dengan sangat baik. Namun, pembuat kebijakan tidak selalu menyadarinya. Pekerjaan kreatif ada di luar karya seni itu sendiri,” tuturnya dalam sesi tersebut.

2. Kolaborasi bisa membuka ruang berkarya yang lebih inklusif

Imaniar Rizki, Founder dari TabSpace melalui TabSpace dan TAB Studio, mendukung seniman neurodivergent dan autis untuk menghasilkan karya desain profesional (IDN Times/Maura Thirza)

Kesempatan berkarya tidak cukup hanya dengan memberikan ruang bagi senimannya saja. Ekosistem kreatif juga membutuhkan kolaborator, fasilitator, dan klien yang bersedia untuk mendukung mereka. Hal ini menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan Imaniar Rizki, Founder dari TabSpace melalui TabSpace dan TAB Studio, yang mendukung seniman neurodivergen dan autis untuk menghasilkan karya desain profesional.

Alih-alih hanya mengandalkan hibah, TAB Studio mengembangkan model usaha sosial yang menggabungkan kreativitas dengan keberlanjutan. Mereka juga membangun jaringan kolaborasi agar seniman dapat terus berkarya dan memperoleh dukungan dari lingkungan sekitarnya.

“Satu hal yang pasti yang saya tahu adalah independensi bukan berarti isolasi. Kita harus bergerak secara kolektif dan menjadikan inklusivitas sebagai suatu bentuk ekosistem,” ujar Imaniar.

Imaniar juga menekankan bahwa setiap orang bisa mengambil peran berbeda dalam membangun ekosistem tersebut. Tidak semua orang harus mendirikan studio atau organisasi sendiri. Menjadi klien, fasilitator, kolaborator, maupun advokat juga bisa membantu menciptakan lingkungan kreatif yang lebih terbuka.

3. Pertumbuhan ekonomi kreatif harus dimulai dari kebutuhan manusia

Matthieu Cognac, Inter-Regional Adviser UNDESA, mengingatkan bahwa kelompok rentan berisiko tertinggal ketika pertumbuhan hanya diukur melalui angka ekonomi (IDN Times/Maura Thirza)

Besarnya kontribusi ekonomi kreatif terhadap perekonomian belum tentu mencerminkan pemerataan kesempatan. Matthieu Cognac, Inter-Regional Adviser UNDESA, mengingatkan bahwa kelompok rentan berisiko tertinggal ketika pertumbuhan hanya diukur melalui angka ekonomi, tanpa mempertimbangkan siapa saja yang bisa mengakses peluang tersebut.

Menurutnya, pendekatan yang lebih inklusif perlu menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan, termasuk kaum muda, lansia, penyandang disabilitas, dan masyarakat adat. Akses terhadap pelatihan, pembiayaan, serta pemahaman mengenai hak-hak pekerja menjadi bagian penting untuk membuka kesempatan yang lebih setara.

“Cara lainnya adalah dengan melihat manusia, menempatkan manusia sebagai yang utama. Tempatkan manusia terlebih dahulu, fokus pada manusia, seperti fokus pada kaum muda, lansia, penyandang disabilitas, dan masyarakat adat. Karena ketika Anda berfokus pada mereka, hal itu akan memikat pertumbuhan ekonomi dan semua orang akan mendapatkan manfaatnya,” ungkap Matthieu.

Pendekatan ini penting di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Teknologi memang dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi tidak serta-merta menyelesaikan persoalan akses terhadap modal, pelatihan, dan fasilitas yang dibutuhkan sebagian kelompok untuk berpartisipasi.

Pada akhirnya, industri kreatif memang menghasilkan karya yang menarik atau menciptakan peluang bisnis baru. Namun, tetap ada manusia dengan kebutuhan dan tantangan berbeda di balik setiap karya. Pertumbuhan yang benar-benar berarti adalah ketika semakin banyak orang bukan cuma bisa ikut berkarya, tetapi juga memperoleh kesempatan yang adil untuk mereka bisa berkembang.

Curated For You

Editorial Team

Related Article