Matthieu Cognac, Inter-Regional Adviser UNDESA, mengingatkan bahwa kelompok rentan berisiko tertinggal ketika pertumbuhan hanya diukur melalui angka ekonomi (IDN Times/Maura Thirza)
Besarnya kontribusi ekonomi kreatif terhadap perekonomian belum tentu mencerminkan pemerataan kesempatan. Matthieu Cognac, Inter-Regional Adviser UNDESA, mengingatkan bahwa kelompok rentan berisiko tertinggal ketika pertumbuhan hanya diukur melalui angka ekonomi, tanpa mempertimbangkan siapa saja yang bisa mengakses peluang tersebut.
Menurutnya, pendekatan yang lebih inklusif perlu menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan, termasuk kaum muda, lansia, penyandang disabilitas, dan masyarakat adat. Akses terhadap pelatihan, pembiayaan, serta pemahaman mengenai hak-hak pekerja menjadi bagian penting untuk membuka kesempatan yang lebih setara.
“Cara lainnya adalah dengan melihat manusia, menempatkan manusia sebagai yang utama. Tempatkan manusia terlebih dahulu, fokus pada manusia, seperti fokus pada kaum muda, lansia, penyandang disabilitas, dan masyarakat adat. Karena ketika Anda berfokus pada mereka, hal itu akan memikat pertumbuhan ekonomi dan semua orang akan mendapatkan manfaatnya,” ungkap Matthieu.
Pendekatan ini penting di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Teknologi memang dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi tidak serta-merta menyelesaikan persoalan akses terhadap modal, pelatihan, dan fasilitas yang dibutuhkan sebagian kelompok untuk berpartisipasi.
Pada akhirnya, industri kreatif memang menghasilkan karya yang menarik atau menciptakan peluang bisnis baru. Namun, tetap ada manusia dengan kebutuhan dan tantangan berbeda di balik setiap karya. Pertumbuhan yang benar-benar berarti adalah ketika semakin banyak orang bukan cuma bisa ikut berkarya, tetapi juga memperoleh kesempatan yang adil untuk mereka bisa berkembang.