Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BRIN Ingin Industri Kreatif Indonesia Berbasis Riset Kompetitif Secara Global

4 min read
BRIN Ingin Industri Kreatif Indonesia Berbasis Riset Kompetitif Secara Global
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria dalam World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta, Kamis (22/10/2026). (Dok. YouTube/ Conference on Creative Economy).
  • Kepala BRIN Arif Satria memaparkan strategi penguatan ekonomi kreatif dan budaya di WCCE 2026, dengan menghubungkan riset, teknologi, warisan budaya, serta bakat kreatif Indonesia.

  • BRIN menempuh tiga jalur: memperluas akses inovasi bagi UMKM dan startup, memperkuat kemitraan industri, serta menghubungkan riset dengan kebutuhan pasar dan adopsi teknologi.

  • Untuk menutup kesenjangan laboratorium-ke-pasar, BRIN mendorong akses fasilitas riset, kreasi bersama, serta ekosistem kekayaan intelektual, inkubasi, investasi, dan pasar bagi sektor kreatif.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, memaparkan langkah strategis pemerintah dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif dan kebudayaan nasional pada World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Dia mengatakan, BRIN telah menyiapkan jalur strategis untuk memangkas kesenjangan antara riset laboratorium dan produk pasar. Sejumlah aspek lainnya yang dia sebut mendukung ekonomi kreatif seperti penguatan aksesibilitas, perlindungan kekayaan intelektual, riset berbasis warisan budaya seperti pada sektor gim dan kuliner. Aspek-aspek ini diharapkan mampu menghasilkan produk yang berdaya saing global tanpa kehilangan identitas bangsa Indonesia.

"Kami berupaya memperkuat fondasi industri kreatif, mempercepat bisnis kreatif berbasis penelitian, serta mendorong adopsi teknologi baru yang responsif dan pada akhirnya, kami ingin potensi kreatif Indonesia menghasilkan produk, layanan, dan kekayaan intelektual yang kompetitif secara global, sekaligus melestarikan identitas budaya kita," ujar Arif, melalui pantauan siaran langsung Kanal YouTube WCCE.

  1. 1. Visi dan integrasi riset dengan ekonomi kreatif

    Arif Satria, Supratman Andi Agtas, Fadli Zon, dan Teuku Riefky Harsa berfoto usai diskusi WCCE 2026 di Jakarta.
    (Dari kiri ke kanan) Narasumber Plenary Session, Kepala BRIN Arif Satria, Menteri Hukum Supratman Andi Agtas, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, dan Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsa berfoto bersama usai sesi diskusi dalam gelaran The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta, Kamis (22/10/2026). (Dok. YouTube/ Conference on Creative Economy).

    Arif membuka penuturannya dengan mengacu pada visi Presiden Prabowo Subianto yang menekankan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai landasan utama kemajuan bangsa serta kedaulatan ekonomi.

    "Saya ingin memulai dengan visi Presiden kita, Bapak Prabowo Subianto, yang secara konsisten menekankan pentingnya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai landasan kemajuan bangsa, kedaulatan ekonomi, dan daya saing nasional," ujar Arif.

    Arif menilai, visi ini sangat relevan bagi ekonomi kreatif, di mana ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi dapat membuka nilai ekonomi yang lebih besar dari warisan budaya Indonesia yang kaya, pengetahuan tradisional, dan bakat kreatif.

    "Dengan menghubungkan kekuatan-kekuatan nasional ini dengan kemampuan riset dan teknologi, kita dapat memperkuat daya saing industri kreatif kita dan memperluas kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi," kata dia.

  2. 2. Tiga jalur strategis BRIN memangkas kesenjangan riset laboratorium dan produk pasar

    Kepala BRIN Arif Satria berbicara dalam World Conference on Creative Economy 2026 di Jakarta pada Kamis.
    Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria dalam World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta, Kamis (22/10/2026). (Dok. YouTube/ Conference on Creative Economy).

    Arif menyampaikan, BRIN telah menerjemahkan visi tersebut ke dalam tiga jalur strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang unggul.

    Jalur pertama, dia menyoroti pemberdayaan UMKM dan perusahaan rintisan.

    "Memberdayakan ekonomi skala menengah dan kecil serta startup melalui inovasi terdepan, menjadikan teknologi lebih mudah diakses sehingga para wirausahawan, termasuk pelaku usaha kreatif, dapat mengembangkan produk yang lebih baik dan menjangkau pasar yang lebih luas," kata dia.

    Dengan memberikan akses inovasi dan teknologi modern agar wirausaha kreatif dapat meningkatkan mutu produk serta memperluas jangkauan pasar.

    Jalur kedua, memperkuat kemitraan ilmiah dan inovasi dengan industri dalam negeri, termasuk industri strategis milik negara dan badan usaha milik negara seperti WIKA atau Danantara.

    Jalur ketiga, menghubungkan kemampuan penelitian dengan kebutuhan industri serta mempercepat adopsi teknologi. Dia mengatakan, cara memanfaatkan dana yaitu melalui pengembangan teknologi terdepan bersama mitra global sehingga Indonesia tidak hanya sekadar mengadopsi teknologi, tetapi juga membangun kemampuannya sendiri.

    Ketiga jalur ini memiliki satu tujuan yang sama yaitu mentransformasi pengetahuan ilmiah menjadi nilai ekonomi dan sosial yang nyata. Secara spesifik, Arif menggawrisbawahi pihak-pihak yang terlibat di dalamnya harus mencakup para pencipta, praktisi budaya, dan masyarakat.

  3. 3. Arif canangkan solusi atasi kesenjangan lab to market

    Kepala BRIN Arif Satria berbicara dalam World Conference on Creative Economy 2026 di Jakarta pada Kamis, 22 Oktober 2026.
    Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria dalam World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta, Kamis (22/10/2026). (Dok. YouTube/ Conference on Creative Economy).

    Arif mengatakan, saat ini, kesenjangan terbesar antara laboratorium dan produk kreatif seringkali bukan disebabkan atas kurangnya pengetahuan ilmiah atau pemikiran kreatif, melainkan lemahnya hubungan antara peneliti, kreator, teknologi, pendanaan, dan pasar.

    Oleh sebab itu, dia mencanangkan tiga pendekatan yang saling terkait. Pertama, aksesibilitas yang memberikan kemudahan bagi kreator untuk mengakses fasilitas, teknologi, dan keahlian riset. Kedua, kreasi bersama atau co-creation yang memungkinkan para peneliti dan praktisi kreatif dapat mengembangkan solusi bersama sejak awal. Ketiga, ekosistem yang mendukung yang menghubungkan inovasi dengan perlindungan kekayaan intelektual, inkubasi, investasi, dan akses pasar.

    Arif mengatakan, hal-hal tersebut relevan bagi kemakmuran berbagai industri kreatif dan memberikan gambaran melalui bidang Game Aset Nusantara. Game tersebut menggambarkan potensi untuk mengubah warisan budaya Indonesia menjadi aset kreatif digital.

    Dia juga memaparkan kontribusi sektor kuliner bagi Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

    "Di sektor kuliner menyumbang lebih dari 40 persen PDB ekonomi kreatif. Kolaborasi BRIN dengan industri dalam mengoperasikan teknologi sterilisasi makanan modern menunjukkan bagaimana penelitian dapat mendukung keamanan pangan, masa simpan yang lebih lama, dan daya saing produk Indonesia yang lebih tinggi," ucap dia.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More