Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Hal yang Ternyata Lebih Menakutkan daripada Mengajukan Resign
ilustrasi resign (vecteezy.com/nuttawan jayawan)

Keputusan resign tanpa backup plan sering dianggap sebagai langkah paling berani sekaligus paling menegangkan dalam kehidupan orang dewasa. Padahal, ada banyak hal lain yang diam-diam lebih menguras energi. Sebagian bahkan terjadi saat seseorang masih memiliki pekerjaan, penghasilan tetap, dan rutinitas yang tampak baik-baik saja.

Situasi semacam ini kerap luput dari perhatian, padahal dampaknya bisa terasa hingga bertahun-tahun. Nah, berikut beberapa hal yang ternyata bisa terasa lebih menakutkan daripada sekadar mengajukan surat pengunduran diri.

1. Bertahan terlalu lama di tempat yang sudah tidak memberi ruang tumbuh

ilustrasi stres (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Banyak orang takut resign karena khawatir kehilangan kepastian. Namun, bertahan terlalu lama di lingkungan yang membuat kamu terus berjalan di tempat sering kali jauh lebih merugikan. Hari demi hari berlalu tanpa ada pengalaman baru, tantangan baru, atau kesempatan untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki.

Sekilas kondisi ini terlihat baik-baik saja karena tidak ada perubahan besar yang harus dihadapi. Masalahnya, rasa nyaman yang berlebihan kadang membuat seseorang baru sadar setelah beberapa tahun berlalu. Ketika melihat teman sebaya mencoba hal baru atau memiliki pengalaman yang lebih beragam, muncul perasaan tertinggal yang sulit diabaikan. Bukan karena hidup harus berlomba, melainkan karena waktu yang sudah lewat tidak bisa diputar kembali.

2. Mengorbankan banyak hal demi pekerjaan yang tidak lagi sejalan

ilustrasi pekerjaan yang tidak sehat (pexels.com/ANTONI SHKRABA production)

Ada masa ketika pekerjaan memang perlu menjadi prioritas utama. Namun, keadaan menjadi berbeda saat hampir seluruh waktu, tenaga, dan perhatian habis untuk sesuatu yang sebenarnya sudah tidak lagi memberi rasa puas. Akhir pekan terasa seperti waktu yang singkat sebelum kembali mengulang rutinitas yang sama.

Namun yang sering terlupakan, biaya terbesar dari kondisi ini bukan selalu soal kesehatan atau karier. Banyak momen sederhana yang ikut terlewat, mulai dari acara keluarga, waktu bersama sahabat, hingga kesempatan mencoba hal-hal yang selama ini ingin dilakukan. Saat disadari, sebagian kesempatan tersebut sudah lewat begitu saja dan tidak selalu bisa diulang pada waktu lain.

3. Membiarkan rasa takut mengambil semua keputusan hidup

ilustrasi takut (pexels.com/Mikhail Nilov)

Takut adalah hal yang wajar, termasuk saat memikirkan masa depan pekerjaan. Namun, keadaan menjadi rumit ketika hampir setiap keputusan diambil semata-mata untuk menghindari risiko. Akibatnya, pilihan hidup semakin sempit karena semuanya diukur berdasarkan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi.

Banyak orang akhirnya menunda berbagai rencana bukan karena tidak mampu, melainkan karena terus menunggu kondisi yang dianggap benar-benar sesuai. Padahal, situasi ideal sering kali tidak pernah datang sesuai harapan. Waktu terus berjalan sementara daftar hal yang ingin dilakukan hanya berpindah dari satu tahun ke tahun berikutnya. Bagi sebagian orang, penyesalan semacam ini justru terasa lebih berat daripada menghadapi ketidakpastian setelah resign.

4. Kehilangan kesempatan yang datang pada waktu yang tepat

ilustrasi kesempatan (unsplash.com/Cytonn Photography)

Tidak semua peluang hadir dua kali. Ada tawaran pindah kota, kesempatan belajar hal baru, ajakan membangun usaha kecil, atau peluang kerja yang sebenarnya menarik tetapi terlewat karena terlalu lama dipertimbangkan. Saat kesempatan itu hilang, tidak ada jaminan penggantinya akan datang dengan bentuk yang sama.

Menariknya, banyak orang baru menyadari nilai sebuah kesempatan setelah kesempatan tersebut benar-benar pergi. Bukan soal gagal atau berhasil, melainkan karena tidak pernah memberi diri sendiri peluang untuk mencoba. Perasaan penasaran terhadap kemungkinan yang tidak pernah dijalani sering bertahan jauh lebih lama dibanding rasa gugup saat mengajukan resign.

5. Menjalani hidup sesuai ekspektasi orang lain sepenuhnya

ilustrasi ekspektasi (pexels.com/Danik Prihodko)

Nasihat dari orangtua, pasangan, teman, atau lingkungan sekitar tentu penting untuk dipertimbangkan. Meski begitu, keputusan hidup yang sepenuhnya dibentuk oleh ekspektasi orang lain kadang meninggalkan beban yang tidak kecil. Seseorang bisa terlihat berhasil di mata banyak orang, tetapi tidak benar-benar menikmati jalan yang sedang dijalani.

Keadaan ini sering muncul secara perlahan sehingga sulit dikenali sejak awal. Pilihan yang diambil terasa masuk akal, aman, dan mendapat banyak persetujuan. Namun, setelah bertahun-tahun, muncul pertanyaan sederhana tentang apakah semua keputusan tersebut memang berasal dari keinginan pribadi. Pertanyaan itu mungkin terdengar sepele, tetapi bagi sebagian orang jawabannya jauh lebih menakutkan daripada keputusan resign tanpa backup plan.

Resign tanpa backup plan memang bukan keputusan yang bisa dianggap gampang. Namun, ketakutan terbesar dalam hidup tidak selalu datang dari meninggalkan pekerjaan. Jika harus memilih, mana yang lebih sulit dijalani menghadapi ketidakpastian baru atau terus bertahan dalam keadaan yang sebenarnya sudah tidak lagi sesuai dengan diri sendiri?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article