Profil Book Club Dua Lipa, Baru Saja Resmikan Manifesto Library

Selain dikenal lewat deretan hits lagu-lagunya, Dua Lipa juga punya sisi lain yang gak kalah menarik, yaitu kecintaannya pada dunia literasi. Lewat Service95 Book Club yang ia dirikan, sang penyanyi rutin membagikan rekomendasi buku pilihannya setiap bulan.
Bukan cuma soal rekomendasi bacaan, book club ini juga jadi ruang buat pembaca dari berbagai belahan dunia buat sama-sama menyelami cerita lewat sudut pandang yang beragam. Konsistensinya menghadirkan bacaan berkualitas ini bahkan baru-baru ini melahirkan proyek baru bernama Manifesto Library hasil kolaborasi bareng toko buku Livraria Lello di Porto, Portugal. Yuk, kenalan lebih jauh sama Service95 Book Club!
1. Mengenal Service95 Book Club

Service95 Book Club adalah bagian dari platform Service95 yang didirikan Dua Lipa pada Juni 2023. Platform ini digambarkan sebagai 'cultural concierge' yang menghadirkan rekomendasi budaya dan gaya hidup dari berbagai belahan dunia. Selain artikel dan perspektif dari para penulis serta tokoh budaya, Dua juga menghadirkan ruang khusus untuk para pecinta buku lewat book club ini.
Setiap bulan, Dua memilih satu buku secara personal untuk dibahas bareng pembaca. Pembahasannya dikemas dalam format wawancara eksklusif bareng penulisnya lewat video podcast. Selain rekomendasi bulanan, Service95 Book Club juga rutin membahas tren buku terbaru serta rekomendasi dari tim Service95.
2. Buku-buku yang direview menyuarakan activism

Buku-buku pilihan Service95 Book Club gak cuma soal hiburan, tapi juga sarat pesan aktivisme. Salah satu tema yang sering diangkat adalah identitas, ras, dan seksualitas lewat perjalanan personal yang menantang norma sosial. Contohnya Bad Habit karya Alana S. Portero yang mengangkat eksplorasi gender dan transisi. Ada juga Pachinko karya Min Jin Lee dan On Earth We're Briefly Gorgeous karya Ocean Vuong yang menyoroti imigrasi dan trauma antargenerasi.
Selain itu, isu kekuasaan dan kontrol sosial juga jadi sorotan lewat buku-buku distopia maupun memoar sejarah. Sebut saja The Memory Police karya Yoko Ogawa yang membedah bagaimana institusi bisa membatasi kebebasan individu. Service95 juga berkomitmen mengangkat suara-suara dari komunitas yang jarang terdengar di literatur arus utama. Ini tercermin lewat My Pen Is The Wing Of A Bird, kumpulan fiksi dari perempuan Afghanistan, hingga We Survived The Night karya Julian Brave NoiseCat yang mengangkat perjuangan masyarakat adat.
3. Baru saja meresmikan Manifesto Library

Dua Lipa baru saja meresmikan Manifesto Library, perpustakaan hasil kolaborasi antara Service95 Book Club dan toko buku bersejarah Livraria Lello di Porto, Portugal. Perpustakaan ini dibuka sebagai bagian dari festival literasi BABELL-City of Books dan akan menjadi koleksi permanen di Livraria Lello.
Manifesto Library menghadirkan sekitar 100 buku yang pernah dilarang, disensor, atau dibatasi peredarannya di berbagai negara karena mengangkat isu ras, seksualitas, identitas, hingga kritik terhadap kekuasaan. Beberapa judul yang tersedia antara lain The Handmaid's Tale karya Margaret Atwood, Felon karya Reginald Dwayne Betts, serta karya-karya Salman Rushdie dan Olga Tokarczuk.
Lewat siaran pers yang dibagikan Livraria Lello dan Service95, Dua Lipa mengatakan Manifesto Library dibuat sebagai bentuk penghormatan bagi buku-buku yang pernah dihilangkan serta para penulis yang berani menyuarakan pemikirannya. Seluruh koleksinya dikurasi berdasarkan empat tema utama, yaitu power, control, voice, dan memory.
Itu dia profil singkat Service95 Book Club milik Dua Lipa. Dua konsisten menyuarakan berbagai isu lewat ulasan buku-buku yang ia baca.














![[QUIZ] Dari Tokoh Upin Ipin Favorit, Ini Caramu Ekspresikan Kekecewaan](https://image.idntimes.com/post/20260325/pexels-cottonbro-6269969_6d2b0a3a-001f-4052-837c-e82f5136c4b2.jpg)



