ilustrasi konten kreator (pexels.com/Kampus Production)
Kemunculan AI generatif memang membuat produksi konten menjadi lebih mudah. Kreator kini dapat menggunakan AI untuk mencari ide, membuat outline, melakukan transkripsi, membantu riset awal, menyusun caption, menerjemahkan konten, hingga mempercepat proses editing.
Artinya, kreator yang memahami AI berpotensi memproduksi konten secara lebih efisien tanpa harus mengerjakan semuanya secara manual. Namun, penggunaan AI juga membawa tantangan. Jika semua kreator menggunakan alat yang sama untuk menghasilkan konten dengan pola serupa, internet bisa dipenuhi konten yang terasa generik.
IAB menemukan bahwa hampir tiga dari empat pembeli iklan creator sudah menggunakan atau berencana menggunakan AI untuk pekerjaan creator marketing. Namun, 95 persen pengiklan tetap memiliki kekhawatiran terhadap penggunaan AI dalam creator marketing, terutama karena potensi hilangnya hubungan manusia yang dianggap penting dalam membangun pengalaman yang autentik.
"Pada saat yang sama, kecerdasan buatan dengan cepat beralih dari teori ke praktik, muncul sebagai pendorong yang berarti bagi efisiensi dan efektivitas di seluruh ekosistem,” kata David Cohen dikutip dari IAB.
Bagi content creator, pesan ini dapat diterjemahkan sebagai peluang. Jadi gunakan AI untuk mempercepat pekerjaan teknis, tetapi tetap pertahankan ide orisinal, pengalaman, opini, cerita, dan karakter personal sebagai pembeda.
Lalu, apakah menjadi content creator masih menjanjikan? Masih, tetapi bukan berarti mudah. Peluang ekonominya semakin besar, sementara brand juga semakin serius menggunakan creator sebagai bagian dari strategi pemasaran. Jadi, apakah kamu tertarik?