Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jadi Content Creator Masih Menjanjikan? Ini Peluangnya
ilustrasi konten kreator (pexels.com/Kampus Production)

Menjadi content creator beberapa tahun lalu mungkin masih dianggap sebagai pekerjaan sampingan. Sekarang, profesi ini sudah berkembang menjadi bagian dari industri kreatif dan pemasaran digital. Banyak orang tidak hanya membuat video untuk mendapatkan views, tetapi juga membangun komunitas, bekerja sama dengan brand, menjual produk, hingga mengembangkan bisnis sendiri melalui konten.

Peluangnya pun masih terbuka, meski persaingannya semakin ketat. Jadi, content creator masih punya pasar, tetapi cara untuk menghasilkan uang dari profesi ini juga ikut berubah.

1. Creator economy masih terus bertumbuh

ilustrasi konten kreator (pexels.com/Ron Lach)

Salah satu alasan profesi content creator masih menjanjikan adalah semakin banyak brand yang menjadikan kreator sebagai bagian penting dari strategi pemasaran. Data Interactive Advertising Bureau (IAB) mencatat hampir setengah pembeli iklan creator, atau 48 persen, kini menganggap creator sebagai kanal yang wajib dipertimbangkan. Hal ini menunjukkan bahwa kreator tidak lagi hanya dipandang sebagai pelengkap kampanye media sosial, tetapi sudah menjadi saluran pemasaran tersendiri.

“Memanfaatkan Ekonomi Kreator untuk terhubung dengan audiens bukan lagi eksperimen bagi pemasar – ini sangat penting,” kata David Cohen, CEO, IAB.

“Pertumbuhan signifikan yang kita lihat mencerminkan komitmen yang semakin dalam dari merek untuk berinvestasi dalam strategi yang digerakkan oleh kreator. Namun, dengan kematangan tersebut muncul kebutuhan akan standar yang jelas, pengukuran yang lebih baik, dan alat untuk menavigasi ekosistem yang sangat terfragmentasi,” lanjutnya.

Belanja iklan creator di AS sendiri diproyeksikan mencapai US$37 miliar pada 2025, naik 26 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan, IAB memperkirakan angka tersebut meningkat menjadi US$44 miliar pada 2026. Yang menarik, tujuan brand bekerja sama dengan kreator tidak hanya untuk meningkatkan awareness, tetapi juga menjangkau audiens baru, membangun kepercayaan, dan mendorong penjualan.

2. Tidak harus jadi selebritas untuk mendapatkan peluang

Ilustrasi konten kreator (freepik.com/dragonimages)

Kesalahpahaman yang masih sering muncul adalah content creator harus memiliki jutaan followers agar bisa menghasilkan uang. Padahal, brand semakin mempertimbangkan kecocokan audiens, reputasi, relevansi konten, dan kualitas hubungan kreator dengan pengikutnya. Dalam laporan IAB, reputasi creator menjadi salah satu pertimbangan utama bagi 58 persen brand, sedangkan kesesuaian audiens menjadi pertimbangan bagi 56 persen brand.

“Ekosistem pemasaran kreator masih sangat terfragmentasi, dengan berbagai model kemitraan, anggaran yang terpisah-pisah, dan standardisasi yang terbatas sehingga menyulitkan pemasar untuk menilai hal-hal seperti kesesuaian audiens atau kredibilitas kreator dalam skala besar,” kata Zoe Soon, Wakil Presiden, Experience Center, IAB.

Kondisi ini membuka peluang bagi micro creator atau kreator dengan komunitas yang lebih kecil tetapi spesifik. Misalnya, kreator yang fokus membahas skincare untuk kulit sensitif, makanan murah untuk mahasiswa, tips karier Gen Z, teknologi untuk pemula, buku, olahraga tertentu, atau kehidupan anak kos. Audiensnya mungkin tidak sebesar akun hiburan umum, tetapi mereka bisa lebih relevan bagi brand yang ingin menyasar kelompok tertentu.

3. Sumber penghasilan creator kini semakin beragam

Ilustrasi konten kreator (instagram.com/Gustavo Fring)

Menjadi content creator juga tidak harus bergantung pada pendapatan iklan. Ada banyak sumber penghasilan yang dapat dikembangkan, seperti kerja sama brand, affiliate marketing, penjualan produk sendiri, membership, donasi atau dukungan penggemar, kelas online, jasa konsultasi, hingga merchandise.

Semakin beragam sumber pendapatan, semakin kecil ketergantungan creator terhadap satu platform atau satu jenis pemasukan. YouTube misalnya, menyediakan beberapa jalur monetisasi melalui YouTube Partner Program, termasuk pembagian pendapatan iklan, YouTube Premium, fan funding, dan Shopping.

"Di Indonesia, ide kreatif telah bertransformasi menjadi profesi utama yang berkelanjutan. Banyak kreator YouTube berkembang dari pengelola kanal pribadi menjadi pelaku UMKM yang mampu membuka lapangan kerja dan menggerakkan roda ekonomi. Dampak ekosistem ini pun meluas ke luar platform; berbagai studio, pemasok, hingga penyedia layanan lokal di seluruh negeri ikut bertumbuh subur," dikutip dari YouTube dalam laporannya "Dampak ekonomi pada tahun 2025".

"Ekosistem kreatif YouTube berkontribusi lebih dari Rp8,4 triliun terhadap PDB Indonesia pada tahun 2025. Ekosistem kreatif YouTube mendukung lebih dari 190.000 lapangan kerja setara penuh waktu (FTE) di Indonesia pada tahun 2025," lanjutnya.

4. Niche dan kepercayaan justru bisa jadi modal utama

ilustrasi konten kreator (pexels.com/RDNE Stock project)

Di tengah banyaknya konten yang beredar setiap hari, menjadi generalis bukan selalu pilihan terbaik. Kreator yang memiliki niche jelas lebih mudah membangun identitas dan membuat audiens tahu alasan mereka harus mengikuti akun tersebut. Konten edukasi, finansial, kuliner, fashion, kecantikan, gaming, parenting, olahraga, karier, teknologi, hingga DIY masih memiliki ruang selama dikemas dengan sudut pandang yang menarik.

Namun, niche saja tidak cukup. Kreator juga harus membangun kepercayaan. Penelitian yang diterbitkan di Journal of Marketing pada 2025 Sage Journals, menemukan bahwa autentisitas influencer berkaitan dengan beberapa dimensi, termasuk expertise, connectedness, integrity, originality, dan transparency. Artinya, audiens tidak hanya melihat apakah kontennya menarik, tetapi juga apakah kreator dianggap memiliki pengetahuan, konsisten, jujur, dan benar-benar terhubung dengan komunitasnya.

5. AI bukan akhir dari content creator, tetapi alat baru

ilustrasi konten kreator (pexels.com/Kampus Production)

Kemunculan AI generatif memang membuat produksi konten menjadi lebih mudah. Kreator kini dapat menggunakan AI untuk mencari ide, membuat outline, melakukan transkripsi, membantu riset awal, menyusun caption, menerjemahkan konten, hingga mempercepat proses editing.

Artinya, kreator yang memahami AI berpotensi memproduksi konten secara lebih efisien tanpa harus mengerjakan semuanya secara manual. Namun, penggunaan AI juga membawa tantangan. Jika semua kreator menggunakan alat yang sama untuk menghasilkan konten dengan pola serupa, internet bisa dipenuhi konten yang terasa generik.

IAB menemukan bahwa hampir tiga dari empat pembeli iklan creator sudah menggunakan atau berencana menggunakan AI untuk pekerjaan creator marketing. Namun, 95 persen pengiklan tetap memiliki kekhawatiran terhadap penggunaan AI dalam creator marketing, terutama karena potensi hilangnya hubungan manusia yang dianggap penting dalam membangun pengalaman yang autentik.

"Pada saat yang sama, kecerdasan buatan dengan cepat beralih dari teori ke praktik, muncul sebagai pendorong yang berarti bagi efisiensi dan efektivitas di seluruh ekosistem,” kata David Cohen dikutip dari IAB.

Bagi content creator, pesan ini dapat diterjemahkan sebagai peluang. Jadi gunakan AI untuk mempercepat pekerjaan teknis, tetapi tetap pertahankan ide orisinal, pengalaman, opini, cerita, dan karakter personal sebagai pembeda.

Lalu, apakah menjadi content creator masih menjanjikan? Masih, tetapi bukan berarti mudah. Peluang ekonominya semakin besar, sementara brand juga semakin serius menggunakan creator sebagai bagian dari strategi pemasaran. Jadi, apakah kamu tertarik?

Curated For You

Editorial Team

Related Article