5 Jobdesk Interpreter, Bukan Cuma Menerjemahkan Saja

Interpreter melakukan riset acara untuk memahami konteks dan materi yang akan dibahas, termasuk terminologi khusus.
Interpreter menerjemahkan secara real time tanpa kesempatan untuk menyunting kalimat atau waktu jeda lama.
Interpreter berperan sebagai jembatan budaya, menafsirkan perbedaan nilai, kebiasaan, dan cara berkomunikasi antara kedua pihak.
Pekerjaan interpreter sering dianggap menerjemahkan secara lisan. Padahal peran interpreter jauh lebih besar dari itu. Interpreter harus memiliki kemampauan yang melampaui keahlian bilingual semata.
Seorang interpreter dituntut untuk menangkap makna dan konteks pembicara secara cepat dan akurat. Oleh sebab itu, pekerjaan seorang interpreter punya tanggung jawab yang besar. Berikut jobdesk lengkap dari seorang interpreter, lebih sekadar dari menerjemahkan.
1. Melakukan riset acara

Interpreter biasanya bekerja dari satu acara ke acara lain yang berbeda. Oleh karena itu, seorang interpreter harus membedah konteks dan materi yang akan dibahas. Hal ini melibatkan pemahaman mendalam terhadap profil pembicara, agenda pertemuan, dan dokumen seperti presentasi. Tanpa riset yang matang, seorang interpreter gak memiliki pengetahuan dan konteks saat pembicara menggunakan istilah spesifik yang jarang dipakai dalam percakapan sehari-hari.
Jadi sebelum pertemuan atau acara berlangsung, interpreter harus menyusun rangkuman terminologi khusus yang sesuai dengan tema acara. Contohnya dengan mencari padanan kata yang akurat dari tema tersebut. Interpreter juga harus peka terhadap isu terkini yang berhubung dengan bidang sensitif seperti medis, hukum, politik, atau teknik.
2. Menerjemahkan secara real time

Perbedaan mendasar antara interpreter dan translator atau terletak pada media dan kecepatan eksekusinya. Jika translator atau penerjemah fokus pada dokumen tertulis, mereka punya banyak waktu untuk membuka kamus atau menyunting kalimat supaya sempurna.
Sedangkan, interpreter atau juru bahasa, harus menerjemahkan secara lisan dan secara langsung. Interpreter gak punya kesempatan untuk menyunting kalimat atau waktu jeda lama. Mereka harus memproses informasi, menerjemahkan, dan menyampaikan kembali dalam hitungan detik setelah pembicara berbicara.
3. Mediasi budaya

Interpreter lebih dari mengalihkan bahasa, tetapi juga berperan sebagai jembatan untuk menyamakan persepsi dan perbedaan dalam nilai, kebiasaan, dan cara berkomunikasi antara kedua pihak. Peran ini sangat krusial, karena perbedaan latar budaya sering kali memengaruhi seseorang dalam menyampaikan pendapat dan berbicara.
Seorang interpreter perlu mengenali perbedaan makna yang muncul karena perbedaan norma budaya, seperti sopan santun, humor, gestur. Secara gak langsung, interpreter menafsirkan apa yang dimaksudkan oleh pembicara agar dipahami oleh lawan bicara dalam konteks budaya yang benar.
4. Notulensi khusus

Seorang interpreter juga harus menulis notulensi khusus, tetapi berbeda dengan notulensi rapat kantor biasa. Interpreter bertugas menyaring informasi penting seperti keputusan, kesepakatan, dan poin-poin krusial yang muncul selama pertemuan. Seorang interpreter harus memiliki kemampuan memahami makna dan konteks mendalam agar gak terpaku pada terjemahan literal.
Selain keterampilan bahasa, peran notulensi ini membutuhkan ketelitian dan konsistensi istilah. Notulensi dari interpreter harus mencerminkan komunikasi lintas budaya secara adil dan netral. Dengan begitu, hasil dari notulensi bukan sekadar catatan administratif, tapi representasi dari proses komunikasi dua arah.
5. Menjaga kode etik kerahasiaan

Dalam menjalankan tugasnya, seorang interpreter sering kali terpapar informasi sensitif. Baik bersifat pribadi atau institusional. Oleh sebab itu, segala informasi yang diperoleh selama proses komunikasi gak boleh dibagikan secara bebas. Interpreter wajib menjaga kerahasiaan baik dokumen atau informasi lisan yang didapatnya.
Ini berkaitan dengan profesionalisme yaitu menjaga kode etik kerahasiaan. Klien dan peserta acara bergantung penuh pada integritas interpreter sebagai pihak yang netral. Dengan mematuhi kode etik kerahasiaan, secara langsung interpreter melindungi kepentingan berbagai pihak. Juga melindungi kredibilitasnya sebagai profesi interpreter.
Pekerjaan interpreter atau juru bahasa lebih dari sekadar menerjemahkan. Namun, juga menafsirkan dan menjamin kelancaran selama komunikasi berlangsung. Oleh sebab itu, seorang interpreter harus memiliki keahlian riset yang mendalam, kepekaan budaya, dan mental yang kuat dalam menjalankan tugasnya.








![[QUIZ] Dari Karakter Upin dan Ipin Pilihan Kamu, Kami Tahu Gaya Berpakaianmu!](https://image.idntimes.com/post/20250820/1000114574_6f910799-c6d7-463a-aed3-fd68d548d97b.jpg)








