Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Keuntungan Langsung Cabut saat Jam Pulang Kantor ala Gen Z
ilustrasi pulang kerja (pexels.com/Roberto Hund)
  • Gen Z dikenal disiplin pulang tepat waktu agar bisa istirahat penuh, menjaga kebugaran, dan tetap produktif keesokan harinya.
  • Kebiasaan langsung cabut setelah jam kerja membantu Gen Z menetapkan batasan profesional dengan atasan serta mendorong manajemen waktu yang lebih sehat.
  • Dengan pulang on time, Gen Z punya waktu untuk pengembangan diri, mempererat hubungan sosial, dan menghindari stres akibat kemacetan atau lembur berlebihan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Generasi Z sering menjadi bahan pembicaraan, bahkan sampai dibuat konten di media sosial. Termasuk soal kebiasaan-kebiasaan mereka di tempat kerja. Gen Z dikenal sebagai yang paling kreatif di kantor.

Karyawan lain duduk manis di kursi masing-masing sambil menghadap laptop. Karyawan generasi Z masih sempat bikin konten lucu-lucuan. Kebiasaan lain yang paling menonjol adalah kegemarannya pulang on time. Beda dengan karyawan dari usia di atasnya yang sering menunda jam pulang.

Baik karena alasan pekerjaan maupun sekadar nongkrong dulu sama teman-teman kantor. Banyak karyawan generasi Z sudah bersiap pulang 5 menit sebelum waktunya. Bahkan kadang absen foto terakhir pun dilakukan sembari sudah menggendong tas atau di atas motor. Sekilas terlihat seperti karyawan dengan etos kerja rendah. Namun, sebenarnya, ada keuntungan langsung cabut saat jam pulang kantor ala Gen Z, lho!

1. Besok masih kerja lagi, bisa istirahat penuh di rumah

ilustrasi pulang kerja (pexels.com/Felicity Tai)

Pulang tepat waktu ala Gen Z memberikan kesempatan untuk istirahat dengan optimal di rumah. Katakanlah jam pulang kantor 17.00. Dirimu tinggal di kota yang masih bebas macet parah. Maksimal 30 menit kamu sudah sampai di rumah.

Dirimu masih bisa bersantai sebelum makan malam. Setelah makan malam, kamu tinggal menonton televisi atau menikmati hiburan lain. Jam 22.00 atau bahkan lebih awal lagi, dirimu dapat tidur. Keesokannya kamu bangun dengan kondisi sangat fresh.

Beda dengan apabila dirimu ngobrol-ngobrol dulu dengan teman atau menonton berbagai video di kantor. Tahu-tahu sudah jam 21.00. Dirimu pulang ke rumah pun pasti gak bisa langsung tidur. Boleh jadi kamu baru terlelap pada tengah malam. Jika hampir tiap hari begini, tentu kondisi fisikmu lama-lama gak bugar.

2. Kasih batasan ke atasan biar gak biasa kasih tugas jelang pulang

ilustrasi pulang kerja (pexels.com/cottonbro studio)

Dengan karyawan yang langsung pulang setelah jam kerja berakhir, sebenarnya mereka sekaligus memberi batasan kepada atasan. Mereka tak mau atasan punya kebiasaan memberi tugas mendekati jam pulang dan harus diselesaikan saat itu juga. Kebiasaan begitu akan membuat waktu pulangnya molor.

Generasi Z yang buru-buru kabur ketika jam kerja berakhir memberikan isyarat agar atasan menghargai karyawannya. Hidup mereka tidak hanya untuk segala hal terkait pekerjaan. Atasan mesti belajar menjadwalkan tugas dengan baik.

Tugas harus diberikan maksimal siang. Lebih baik lagi sejak pagi atau hari sebelumnya untuk dikerjakan hari ini. Gak bisa pakai cara serba mendadak dan bikin karyawan pulang terlambat untuk gaji yang sama.

3. Punya waktu untuk mengembangkan diri di luar kantor

ilustrasi pulang kerja (pexels.com/olia danilevich)

Tidak berlama-lama di kantor setelah jam kerja habis juga memastikan dirimu masih punya cukup waktu serta energi buat pengembangan diri. Bukannya di kantor kamu gak bisa berkembang. Akan tetapi, kebutuhan serta mimpimu mungkin lebih dari itu.

Misal, pekerjaanmu sama sekali tak memerlukan kemampuan berbahasa asing. Namun, minatmu untuk mempelajarinya besar. Kamu berharap suatu saat dapat bekerja di bidang yang memakai bahasa asing.

Dengan dirimu bergegas pulang selepas jam kerja usai, kamu bisa belajar bahasa asing di rumah. Energi masih ada. Pikiran lebih mudah difokuskan. Terdapat waktu beberapa jam sebelum tidur malam. Atau kamu ikut kursus bahasa langsung sepulang kantor.

4. Menjalin relasi yang lebih sehat dengan keluarga, teman, dan tetangga

ilustrasi bersama teman-teman (pexels.com/Heru Dharma)

Kehidupan karyawan di dalam dan di luar kantor perlu diusahakan seimbang. Setidaknya gak terlalu jomplang. Termasuk soal hubunganmu dengan keluarga, teman di luar kantor, bahkan tetangga.

Apabila kamu suka pulang terlambat padahal gak ada keharusan lembur, keluarga di rumah tak lagi memperoleh waktu dan perhatianmu. Hubunganmu dengan kawan-kawan di luar kantor juga merenggang sebab tidak pernah lagi bertemu. Sebagai warga, kamu pun gak pernah memenuhi undangan rapat.

Di tengah kesibukan kerjamu, waktu tetap perlu dibagi-bagi. Menghabiskan seluruh hidupmu buat lingkungan kantor saja cenderung akan merugikan diri sendiri maupun orang-orang terdekatmu. Mereka memang tidak memberimu uang, tetapi ada hal-hal lain dalam hidup yang tak kalah penting. Seperti kasih sayang dan hubungan non-transaksional.

5. Mendahului gelombang pekerja yang pulang

ilustrasi menunggu di halte (pexels.com/Peter Kambey)

Untukmu yang gak indekos di dekat kantor cuma punya dua pilihan. Pulang lebih awal dari gelombang pekerja atau nanti sekalian menunggu jalanan serta antrean calon penumpang mulai lengang. Kamu sampai di stasiun 5 menit lebih cepat daripada kebanyakan pekerja. Sudah satu keuntungan.

Dirimu terhindar dari situasi berdesak-desakan yang sangat parah. Generasi Z yang tak membuang-buang waktu untuk mencabut sangat mempertimbangkan hal ini. Mereka harus berlomba dengan waktu.

Gak kebayang jika mereka menunda jam pulang lalu terjebak kemacetan yang lebih panjang atau kendaraan umum yang luar biasa penuh. Sementara menanti di kantor hingga suasana lebih sepi juga membosankan. Pun pulang kemalaman meningkatkan risiko keselamatan.

6. Lebih maksimal bekerja selama jam kantor

ilustrasi pulang kerja (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Generasi yang lebih senior kerap menyoroti kebiasaan Gen Z yang cepat-cepat pulang dengan kacamata negatif. Seakan-akan itu tanda dari kurangnya etos kerja. Mereka lupa bahwa karyawan generasi Z tidak meninggalkan kantor lebih awal dari jam seharusnya.

Mereka cuma sangat tepat waktu. Bila jam kerjanya sampai pukul 17.00. Mereka gak kabur jam 16.30, misalnya. Bahkan tidak 16.50. Generasi Z tetap menyelesaikan kewajiban jam kerjanya.

Malah dari segi pekerjaan, mereka bisa terlihat rapi sekali. Mereka paling anti pulang nanti-nanti. Oleh sebab itu, mereka memaksimalkan jam kerja untuk benar-benar mengerjakan semua tumpukan tugas. Mereka dapat diandalkan untuk bekerja sesuai deadline.

Kesukaan Gen Z untuk langsung pulang setelah jam kerja berakhir bukan hal buruk. Malahan, ada keuntungan langsung cabut saat jam pulang kantor ala Gen Z, dan hal ini dapat menjadi budaya kerja baru di perusahaan. Pekerjaan pun bisa tetap beres tanpa karyawan harus pulang molor, tentu lebih baik ketimbang mereka mudah burnout.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article