"Sindrom (burnout) ini ditandai dengan perasaan kehabisan energi atau kelelahan, peningkatan jarak mental dari pekerjaan atau perasaan negatif atau sinisme terkait pekerjaan," kata psikoterapis dan hipnoterapis Daniel Fryer, M.Sc., MBSCH, dikutip dari Psychology Today.
“Orang yang mengalami burnout menggambarkan stres dalam kehidupan sehari-hari mereka yang menyebabkan suatu bentuk depresi. Kamu bisa menyebutnya stres depresif dalam kehidupan,” tambah psikolog Renzo Bianchi dalam laman yang sama.
Mengapa Kita Harus Punya 2-3 Pekerjaan biar Bisa Hidup 'Normal'?

Dulu punya pekerjaan tetap dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Gaji bulanan bisa dipakai untuk bayar kontrakan, makan, transportasi, sampai masih ada sisa buat menabung sedikit demi sedikit. Tapi sekarang, tampaknya banyak orang merasa satu pekerjaan saja tidak lagi cukup untuk menjalani hidup yang dianggap ‘normal’.
Bukan hidup mewah, melainkan sekadar hidup tanpa terus-menerus khawatir soal tagihan dan kebutuhan harian. Fenomena inilah yang membuat side hustle culture berkembang. Banyak orang mulai jadi freelance, jualan online, buka jasa kecil-kecilan, sampai kerja sampingan di malam hari setelah jam kantor selesai.
1. Side hustle yang dulu tren kini jadi 'alat bertahan hidup'

Beberapa tahun lalu, side hustle sering dipromosikan sebagai jalan menuju kebebasan finansial. Media sosial dipenuhi cerita orang yang punya penghasilan tambahan dari konten, affiliate, freelance, atau bisnis kecil-kecilan. Namun realitanya sekarang berbeda.
Banyak orang mengambil pekerjaan tambahan bukan karena ingin kaya, melainkan karena gaji utama sudah tidak cukup mengejar biaya hidup. Tentu hal ini membuatmu kelelahan hingga mungkin burnout. Orang bekerja dari pagi sampai malam, bahkan tetap membalas chat atau email kerja di akhir pekan.
2. Gaji naik, tapi harga hidup lari lebih cepat

Banyak pekerja sebenarnya mengalami kenaikan gaji dari tahun ke tahun. Masalahnya, kenaikan pengeluaran terasa jauh lebih cepat. Harga makan naik, ongkos transportasi naik, biaya kontrakan naik, bahkan hiburan sederhana pun terasa makin mahal.
Akibatnya, tambahan penghasilan sering kali langsung habis untuk menutup kebutuhan dasar. Kondisi ini semakin berat ketika rupiah melemah terhadap dolar AS. Dalam beberapa bulan terakhir, nilai tukar rupiah terus berada dalam tekanan dan bahkan sempat menyentuh level terlemah sepanjang sejarah modern Indonesia.
Reuters melaporkan bahwa rupiah telah melemah sekitar 6 persen sepanjang 2026 dan sempat berada di kisaran Rp17.745 per dolar AS. Akibatnya harga kebutuhan kita sehari-hari akan ikut naik, semakin mahal, dan menyebabkan inflasi.
“Sekitar 70-80 persen komponen industri manufaktur Indonesia masih bergantung pada impor. Ketika rupiah melemah, biaya produksi otomatis naik,” ujar Ekonom Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty.
Lebih lanjut Aulia bahwa kenaikan biaya produksi ini akan dibebankan kepada konsumen melalui penyesuaian harga barang di pasaran. Akibatnya, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling rentan terdampak oleh pelemahan nilai tukar rupiah.
3. Hidup sekarang bukan soal kaya, tapi soal bertahan

Ada perubahan besar dalam cara generasi sekarang memandang pekerjaan. Banyak orang tidak lagi bekerja untuk mengejar kemewahan, melainkan untuk menjaga hidup tetap stabil. Punya tabungan darurat, bisa bayar biaya kesehatan, atau sekadar makan enak sesekali sudah terasa seperti kemewahan bagi sebagian pekerja muda.
Mungkin banyak dari kita juga merasakan tekanan ekonomi ini. Banyak yang mengeluhkan bahwa nilai rupiah yang terus melemah membuat masa depan terasa semakin tidak pasti. Hal ini bisa memicu kecemasan tersendiri. Itulah kenapa, banyak dari kita yang mencoba mencari pekerjaan tambahan agar bisa bertahan dalam situasi ini.
4. Burnout jadi risiko yang makin 'normal'

Ketika seseorang punya dua sampai tiga pekerjaan sekaligus, tubuh sebenarnya dipaksa terus berada dalam mode produktif. Banyak orang mulai merasa bersalah ketika beristirahat karena takut tertinggal secara finansial. Akibatnya, rasa lelah menjadi sesuatu yang dianggap normal.
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) bahkan mengakui burnout sebagai fenomena akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola. WHO menyebut burnout ditandai dengan rasa lelah ekstrem, meningkatnya jarak emosional terhadap pekerjaan, dan menurunnya efektivitas kerja. Walhasil produktivitas yang tanpa jeda ini bisa membuat seseorang kehilangan waktu untuk menikmati hidup dan ini menjadi hal yang terasa 'normal' bagi sebagian orang.
5. Ekonomi yang sulit membuat 'kerja keras' jadi standar baru

Di media sosial, bekerja tanpa henti sering dianggap keren dan produktif. Orang yang punya tiga pekerjaan dipuji sebagai pekerja keras, sementara orang yang memilih hidup lebih santai sering dianggap kurang ambisius.
Padahal, di balik semua itu, banyak orang sebenarnya hanya sedang berusaha bertahan dari kondisi ekonomi yang makin berat. Bahkan gak sedikit yang memilih bertahan pada pekerjaan yang terasa toxic, karena tidak punya pilihan lain.
Tekanan ekonomi saat ini membuat banyak orang merasa situasi begitu komplek. Rupiah melemah, harga energi naik, biaya impor naik, bahkan sekarang banyak orang mikir dua kali untuk membeli sesuatu dan lebih menahan diri.
"Pelemahan rupiah dapat mendorong kenaikan harga kebutuhan sehari-hari meski masyarakat tidak menggunakan mata uang asing secara langsung," ucap Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet pada IDN Times.
“Orang mulai menunda belanja, menahan liburan, mengurangi konsumsi nonprimer, dan lebih hati-hati mengambil cicilan. Jadi pelemahan kurs bukan hanya soal dolar mahal, tetapi juga soal turunnya rasa percaya diri ekonomi masyarakat,” tambahnya.
Memiliki lebih dari satu pekerjaan kini bukan lagi sekadar simbol ambisi. Bagi banyak orang, itu adalah cara agar hidup tetap berjalan ‘normal’ di tengah ekonomi yang terus berubah. Ironisnya, standar hidup ‘normal’ sekarang justru menuntut tenaga dan waktu yang jauh lebih besar dibanding beberapa tahun lalu.


















