Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Pertanyaan untuk Evaluasi Karier, Lanjut Setahun atau Resign?

menimbang-nimbang
ilustrasi menimbang-nimbang (pexels.com/MART PRODUCTION)
Intinya sih...
  • Pekerjaan sekarang belum sesuai harapan, tapi lebih baik dari pekerjaan sebelumnya. Jangan terburu-buru resign karena kepuasan kerja penting.
  • Pendapatan dan fasilitas di tempat kerja sekarang memadai. Jangan lepas pekerjaan yang memberikan kenyamanan finansial.
  • Pertimbangkan apakah ada hal-hal yang bertentangan dengan nuranimu, apakah kamu berkembang, dan apakah ada pekerjaan lain yang prospektif jika kamu resign.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Tahun baru bukan hanya diwarnai oleh berbagai resolusi. Banyak orang juga melakukan evaluasi termasuk terhadap terkait karier mereka. Momen ini dipandang sebagai waktu yang paling tepat buat mengambil keputusan besar dalam pekerjaan.

Apakah mereka hendak lanjut bekerja di suatu tempat atau hengkang? Tentu ini tidak mudah diputuskan karena menyangkut nasib dapurmu. Namun, bila pemikiran buat berhenti sampai muncul artinya ada pencetusnya.

Hanya saja, dirimu tidak boleh terburu-buru. Salah mengambil keputusan dapat mengancam kelanjutan hidupmu dan keluarga. Mumpung masih awal tahun, kamu bisa memikirkan jawaban pertanyaan untuk evaluasi karier di bawah ini. Bila hasilnya menunjukkan tak ada persoalan yang berarti, jangan coba-coba meninggalkan pekerjaanmu.

1. Apakah secara umum pekerjaan ini memuaskanmu?

menimbang-nimbang
ilustrasi menimbang-nimbang (pexels.com/Mikhail Nilov)

Kenapa soal kepuasan terhadap pekerjaan perlu dinilai secara umum saja? Sebab jika penilaian dilakukan lebih detail pasti ada hal-hal yang bikin kamu merasa gak puas. Seperti bosmu jutek sekali, libur cuma sekali dalam seminggu, harus siap dihubungi 24 jam nonstop, dan sebagainya.

Akan tetapi, secara umum boleh jadi pekerjaan ini kasih kamu kepuasan yang cukup tinggi. Indikatornya, dirimu bangga ketika menceritakan tentang pekerjaan tersebut ke orang lain. Kamu bahkan mungkin pernah melakoni beberapa pekerjaan.

Kesimpulannya, pekerjaanmu sekarang memang belum sesuai betul dengan harapan. Namun, pekerjaan itu masih lebih baik dari pekerjaan-pekerjaan lamamu. Sedikit rasa tidak sreg tak perlu membuatmu seakan-akan melupakan nilai kepuasan yang diberikan pekerjaan ini.

Sama seperti ketika kamu menjalin hubungan dengan seseorang. Beberapa kekurangannya yang tidak fatal tak perlu membuatmu mengakhiri hubungan kalian. Melepas sesuatu yang cukup baik demi yang lebih baik lagi kadang hanya berbuah penyesalan.

2. Bagaimana dengan pendapatan serta fasilitasnya?

menimbang-nimbang
ilustrasi menimbang-nimbang (pexels.com/Mike Jones)

Ini penting sekali karena berkaitan langsung dengan kebutuhanmu sehari-hari. Kalau penghasilanmu di sana bagus, jangankan kebutuhan primer dan sekunder. Kebutuhan tersier seperti barang mewah pun dapat terbeli.

Begitu pula jalan-jalan ke luar negeri bukan sekadar mimpi di siang bolong. Minimal, gajinya tidak membuatmu kudu berhitung dengan sangat cermat supaya uang cukup sampai akhir bulan. Kamu masih punya kelonggaran finansial.

Di luar pendapatan, ada fasilitas yang perlu dipertimbangkan. Seperti fasilitas kendaraan dan laptop yang belum tentu diberikan di kantor-kantor lain untuk posisi yang sama. Bahkan fasilitas kemudahan KPR, dukungan biaya pendidikan anak, asuransi kesehatan dengan jaminan lebih tinggi, bantuan biaya untuk S2, dan sebagainya. Sayang sekali bila kamu melepas pekerjaan yang baik gaji maupun fasilitasnya memuaskan.

3. Apakah ada hal-hal yang bertentangan dengan nuranimu?

menimbang-nimbang
ilustrasi menimbang-nimbang (pexels.com/Moose Photos)

Meski jawaban untuk dua pertanyaan pertama memuaskan, barangkali kegelisahanmu dipicu oleh hal ketiga ini. Yaitu, terkait pertentangan antara beberapa hal dalam pekerjaan dengan hati kecilmu. Soal ini memang tidak bisa disepelekan karena biasanya terkait standar moral.

Misal, bidang usaha kantormu sebenarnya baik-baik saja. Akan tetapi, kamu kerap dituntut buat mengegolkan proyek dengan segala cara. Termasuk cara-cara yang buruk seperti suap dan memfitnah kompetitor.

Mulanya kamu mungkin menurut saja. Dirimu sebatas melaksanakan perintah. Akan tetapi, lama-kelamaan ini amat membebani mentalmu. Ada rasa berdosa yang besar. Bila masalahnya seperti ini serta mustahil untukmu mengubah sistem, mungkin sebaiknya kamu ancang-ancang ganti pekerjaan.

4. Apakah kamu merasa berkembang atau justru mengalami kemunduran?

berpikir
ilustrasi berpikir (pexels.com/Thirdman)

Mengukur perkembangan dirimu selama bekerja di suatu tempat juga penting. Agar kamu tak mengambil keputusan gegabah dengan resign. Di tempat lain belum tentu kesempatan buat berkembang lebih baik.

Bandingkan dirimu yang dulu sebelum diterima bekerja di kantor itu dengan sekarang. Makin banyak perubahan positif dari segi kemampuan kerja, cara membawa diri, penampilan, jaringan, sampai posisi yang secara bertahap naik makin kamu harus berpikir ulang. Keluar dari pekerjaanmu boleh jadi bukan keputusan yang tepat.

Bahkan bila ada konflik antara dirimu dengan rekan kerja. Masalah itu hendaknya tak dibiarkan sampai menghentikan perkembangan dirimu di kantor. Justru kamu mesti dapat lebih maju lagi supaya kewenanganmu bertambah. Dengan begitu, orang yang berkonflik denganmu bakal lebih segan.

5. Seandainya kamu resign, apa ada pekerjaan lain yang prospektif?

menimbang-nimbang
ilustrasi menimbang-nimbang (pexels.com/Karola G)

Kamu gak cukup cuma memikirkan perlu berhenti bekerja sekarang atau bertahan setahun lagi. Jika tak ada orang yang menafkahimu, mau tidak mau dirimu harus bekerja. Pertanyaan, ada atau gak pekerjaan yang prospektif?

Prospektif di sini berarti dua hal. Pertama, pekerjaan itu menjanjikan kesejahteraan yang lebih baik dibandingkan kantormu kini. Kedua, peluangmu untuk diterima di sana besar atau bahkan kamu diberi karpet merah.

Tanpa adanya pekerjaan lain yang prospektif, meninggalkan pekerjaanmu sekarang sama saja dengan bunuh diri. Hindari rasa terlalu percaya diri kamu bakal dengan mudah mendapatkan pekerjaan lain. Bahkan dengan segudang pengalaman, belum tentu pekerjaan yang lebih atau sekadar sama baiknya diperoleh.

Jawaban dari pertanyaan untuk evaluasi karier mungkin gak bisa diperoleh dalam sekejap. Kamu butuh merenungkannya daripada keliru memutuskan. Berkarier memang kadang melelahkan. Namun, jika dirimu telanjur resign terus lama menganggur akan jauh lebih buruk.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Life

See More

9 Inspirasi Gaya Rambut Glamor ala Dewi Perssik, Memesona!

02 Jan 2026, 22:03 WIBLife