Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Prompt AI yang Berguna untuk Mahasiswa dan Karyawan
Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Compagnons)

Kecerdasan buatan atau AI kini semakin dekat dengan aktivitas sehari-hari, termasuk belajar dan bekerja. Bagi mahasiswa, AI bisa digunakan untuk membantu memahami materi kuliah, mencari ide, membuat latihan soal, merapikan catatan, hingga memberikan masukan terhadap tulisan. Sementara bagi karyawan, AI dapat membantu menyusun email, membuat kerangka presentasi, merangkum dokumen, melakukan brainstorming, atau membantu menganalisis informasi.

Namun, hasil yang diberikan AI sangat dipengaruhi oleh cara seseorang memberikan instruksi. Prompt yang terlalu singkat dan tanpa konteks biasanya menghasilkan jawaban yang terlalu umum. Lalu, prompt seperti apa yang bisa membantu mahasiswa dan karyawan?

1. Prompt untuk memahami materi yang sulit

ilustrasi mengetik (pexels.com/cottonbro studio)

Mahasiswa sering menemukan materi kuliah yang sulit dipahami hanya dengan membaca buku atau slide. Dalam situasi seperti ini, AI dapat dimanfaatkan sebagai teman belajar untuk menjelaskan konsep menggunakan bahasa yang lebih sederhana. Kuncinya adalah jangan hanya mengetik, “Jelaskan teori ekonomi,” tetapi berikan konteks mengenai tingkat pemahaman dan bentuk penjelasan yang kamu butuhkan.

Contoh prompt yang bisa digunakan:

“Jelaskan konsep inflasi untuk mahasiswa semester awal dengan bahasa sederhana. Gunakan analogi kehidupan sehari-hari, berikan tiga contoh konkret, lalu buat lima pertanyaan untuk menguji apakah saya sudah memahami konsep tersebut. Jangan langsung berikan jawabannya.”

Prompt semacam ini membuat AI tidak hanya memberikan definisi, tetapi juga membantu proses belajar aktif. Wayne Holmes, profesor Critical Studies of Artificial Intelligence and Education di University College London sekaligus UNESCO Chair in the Ethics of Artificial Intelligence and Education, menekankan pentingnya kemampuan mahasiswa untuk mempertanyakan hasil AI.

"Siswa harus didorong untuk melihat hasil keluaran AI apa adanya. Ya, sistem ini mungkin menghasilkan informasi yang tampaknya berguna, tetapi 'informasi' tersebut tidak dapat dipercaya. Oleh karena itu, alih-alih pembelajaran menjadi tidak perlu, siswa sekarang juga perlu belajar bagaimana mengkaji hasil keluaran tersebut secara kritis," jelasnya dalam UNESCO Courier.

Bagi karyawan, pola yang sama dapat digunakan untuk memahami topik pekerjaan yang belum familiar. Misalnya, kamu mendapatkan istilah baru dalam laporan perusahaan dan belum memahaminya. Dengan begitu, AI berfungsi sebagai alat bantu memahami informasi, bukan pengganti sumber resmi.

Prompt yang bisa digunakan adalah:

“Jelaskan istilah [nama istilah] untuk karyawan nonspesialis. Berikan definisi sederhana, contoh penerapan dalam pekerjaan, istilah yang mirip tetapi berbeda, serta tiga pertanyaan yang perlu saya ajukan kepada tim agar tidak salah memahami konsep.”

2. Prompt untuk merangkum catatan, dokumen, dan materi

ilustrasi mengetik (pexels.com/LinkedIn Sales Navigator)

Membaca puluhan halaman materi kuliah atau dokumen pekerjaan dapat menghabiskan banyak waktu. AI bisa membantu membuat ringkasan awal sehingga kamu dapat menemukan poin penting dengan lebih cepat. Namun, sebaiknya masukkan materi yang memang boleh diproses oleh AI dan jangan sembarangan mengunggah data pribadi, rahasia perusahaan, atau informasi sensitif.

Untuk mahasiswa, kamu dapat menggunakan prompt berikut:

“Saya akan memberikan materi kuliah di bawah ini. Ringkas menjadi lima poin utama. Setelah itu, buat tabel berisi konsep penting, definisi, contoh, dan bagian yang berpotensi membingungkan. Jangan menambahkan informasi yang tidak terdapat dalam materi. Jika ada bagian yang tidak jelas, tandai sebagai ‘perlu dicek kembali’.”

Sementara itu, karyawan bisa mengubah prompt tersebut sesuai kebutuhan pekerjaan seperti ini:

“Ringkas dokumen berikut untuk dibaca oleh manajer dalam waktu dua menit. Pisahkan menjadi: tujuan dokumen, temuan utama, data penting, risiko, keputusan yang dibutuhkan, dan rekomendasi. Pertahankan angka dan fakta sesuai dokumen asli. Jangan membuat kesimpulan yang tidak didukung oleh isi dokumen.”

Cara seperti ini sejalan dengan prinsip bahwa AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu, sementara manusia tetap melakukan pemeriksaan. Ethan Mollick, profesor di Wharton School, Universitas Pennsylvania yang mempelajari kewirausahaan, inovasi, dan AI menyebut AI sebagai semacam 'intern' yang dapat membantu mengerjakan tugas, tetapi hasilnya tetap perlu diawasi.

"Tugas yang kamu berikan kepada AI, dan yang kamu harapkan untuk ditinjau dan diawasi. Ingat, AI selalu mengarang sesuatu, tetapi pada akhirnya kamu tidak ingin menghabiskan banyak waktu untuk itu," jelasnya dalam One Useful Thing.

3. Prompt untuk brainstorming ide tugas dan pekerjaan

ilustrasi mengetik dengan laptop (unsplash.com/Kenny Eliason)

AI juga berguna ketika kamu mengalami blank page syndrome atau tidak tahu harus mulai dari mana. Mahasiswa dapat memakainya untuk mencari alternatif topik tugas, ide presentasi, pertanyaan penelitian, atau sudut pandang berbeda. Karyawan dapat memanfaatkannya untuk mencari ide kampanye, strategi komunikasi, konsep konten, hingga solusi awal terhadap masalah pekerjaan.

Untuk mahasiswa, coba gunakan prompt:

“Saya sedang mengerjakan tugas tentang [topik]. Berikan 10 ide sudut pandang yang bisa dikembangkan menjadi tulisan akademik. Untuk setiap ide, jelaskan pertanyaan utama, argumen yang mungkin dibahas, data yang perlu dicari, dan kelemahan dari ide tersebut. Jangan menulis tugasnya, saya hanya membutuhkan bahan untuk mengembangkan pemikiran sendiri.”

Sedangkan untuk karyawan:

“Saya sedang mencari ide untuk meningkatkan [proses/produk/kampanye]. Bertindak sebagai rekan brainstorming. Berikan 10 ide yang berbeda, termasuk tiga ide berbiaya rendah, tiga ide yang bisa diterapkan dalam satu bulan, dan dua ide yang lebih eksperimental. Untuk setiap ide, tuliskan manfaat, risiko, serta langkah pertama yang perlu dilakukan.”

Penelitian Harvard Business School bersama Boston Consulting Group menunjukkan bahwa penggunaan AI dapat meningkatkan performa pada tugas-tugas tertentu. Dalam eksperimen terhadap 758 konsultan, penggunaan AI membuat peserta menyelesaikan 12,2 persen lebih banyak tugas, bekerja 25,1 persen lebih cepat, dan menghasilkan pekerjaan dengan kualitas yang dinilai lebih tinggi.

Namun, pada tugas yang berada di luar kemampuan AI, pengguna justru lebih sering menghasilkan jawaban yang salah. Artinya, AI sangat berguna untuk memperbanyak pilihan ide, tetapi manusia tetap perlu menentukan ide mana yang masuk akal dan relevan.

 

4. Prompt untuk menulis dan memperbaiki email atau tugas

ilustrasi mengetik di keyboard (pexels.com/Vitaly Gariev)

Menulis email profesional, laporan, esai, atau proposal sering kali membutuhkan waktu karena kamu harus menentukan struktur, pilihan kata, dan nada komunikasi. AI dapat digunakan sebagai editor atau writing assistant, terutama ketika kamu sudah mempunyai ide utama tetapi kesulitan menyusunnya menjadi tulisan yang rapi.

Mahasiswa dapat menggunakan prompt:

“Saya sudah menulis draft tugas berikut. Jangan mengubah gagasan utama saya. Periksa struktur paragraf, kejelasan argumen, tata bahasa, dan kalimat yang terlalu bertele-tele. Tandai bagian yang masih membutuhkan bukti atau sumber. Setelah memberikan kritik, buat versi revisi yang tetap mempertahankan gaya tulisan saya.”

Untuk karyawan, prompt berikut dapat digunakan:

“Tolong ubah pesan berikut menjadi email profesional untuk atasan. Pertahankan maksud dan fakta asli. Gunakan bahasa yang sopan, ringkas, dan tidak terlalu kaku. Buat subject email, pembuka singkat, inti informasi dalam paragraf yang jelas, serta penutup yang menyebutkan tindakan yang saya harapkan. Jangan menambahkan fakta baru.”

OpenAI dalam panduan resminya tentang prompt engineering menyarankan agar instruksi dibuat jelas dan spesifik, serta memberikan konteks yang cukup supaya model memahami kebutuhan pengguna. OpenAI juga menyarankan proses perbaikan secara bertahap: mulai dari prompt awal, periksa hasilnya, lalu tambahkan konteks atau ubah instruksi jika diperlukan.

"Pastikan prompt kamu jelas, spesifik, dan memberikan konteks yang cukup agar model memahami apa yang Akamu minta. Hindari ambiguitas dan bersikaplah seakurat mungkin untuk mendapatkan respons yang akurat dan relevan," dikutip dari OpenAI Help Center.

5. Prompt untuk mengecek hasil kerja dan melatih berpikir kritis

Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Compagnons)

Salah satu penggunaan AI yang sering dilupakan adalah menjadikannya pengkritik. Alih-alih hanya meminta AI menghasilkan jawaban, kamu dapat meminta AI mencari kelemahan dari ide atau tulisanmu. Cara ini berguna bagi mahasiswa yang ingin mengecek argumen tugas maupun karyawan yang perlu menguji proposal sebelum dipresentasikan kepada atasan.

Contoh prompt untuk mahasiswa:

“Saya akan memberikan jawaban tugas saya. Bertindak sebagai dosen yang kritis. Jangan langsung memperbaiki jawaban saya. Identifikasi lima kelemahan dalam argumen, asumsi yang belum terbukti, informasi yang perlu diverifikasi, dan pertanyaan yang mungkin diajukan dosen. Setelah itu, berikan saran perbaikan tanpa menulis ulang seluruh jawaban.”

Untuk karyawan:

“Saya akan memberikan proposal berikut. Bertindak sebagai reviewer yang skeptis. Cari kelemahan terbesar dari proposal ini, risiko yang mungkin tidak saya sadari, asumsi yang belum memiliki data, serta tiga pertanyaan sulit yang mungkin diajukan atasan. Jangan hanya memuji. Jika informasi tidak cukup untuk menilai suatu klaim, katakan bahwa datanya belum tersedia.”

Pendekatan ini penting karena AI tidak selalu mengetahui kapan jawabannya salah. Dalam penelitian Harvard Business School tentang "Humans vs. Machines: Untangling the Tasks AI Can (and Can't) Handle", AI memberikan manfaat besar pada jenis pekerjaan tertentu, tetapi pada tugas manajerial yang lebih kompleks tidak.

"Sebuah tim multidisiplin yang mencakup beberapa fakultas Harvard Business School bekerja sama dengan BCG untuk menguji AI dalam simulasi dunia nyata. Mereka menemukan bahwa konsultan yang menggunakan AI menyelesaikan jenis tugas tertentu lebih cepat, dengan hasil yang 40 persen lebih berkualitas (meskipun AI mungkin agak menghambat keragaman ide mereka). Namun pada tugas yang lebih kompleks, konsultan yang menggunakan AI 19 poin persentase lebih kecil kemungkinannya untuk menghasilkan jawaban yang benar," demikian laporan Harvard Business School.

Karena itu, prompt terbaik bukan selalu yang menghasilkan jawaban paling panjang. Prompt yang baik justru membantu kamu berpikir lebih terarah: menjelaskan konteks, menentukan tujuan, memberikan batasan, meminta format tertentu, lalu menguji kembali hasilnya.

AI dapat menjadi alat yang membantu mahasiswa belajar lebih efisien dan karyawan bekerja lebih produktif. Tetapi manfaat tersebut bergantung pada cara penggunaannya. Gunakan prompt untuk memahami, merangkum, mencari ide, mengedit, dan menguji pemikiran, bukan sekadar meminta AI mengerjakan semuanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article