Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Realitas Perempuan Pekerja: Beban Ganda dan Kebijakan yang Memberatkan
ilustrasi perempuan bekerja (pexels.com/@tima miroshnichenko)
  • Perempuan muda kini menjadi pengambil keputusan utama dalam konsumsi dan isu sosial, menunjukkan pergeseran besar dari peran pasif menuju partisipasi aktif yang memengaruhi arah budaya dan ekonomi.
  • Perempuan pekerja menghadapi beban ganda antara pekerjaan profesional dan tanggung jawab domestik, diperparah oleh minimnya dukungan kebijakan seperti cuti orang tua dan infrastruktur penitipan anak yang aman.
  • Kebijakan publik sering dirancang berdasarkan asumsi, bukan kebutuhan nyata perempuan, terlihat dari kasus transportasi hingga strategi industri yang belum memahami kompleksitas peran ekonomi perempuan masa kini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Perempuan kian berdaya, tak lagi puas sebagai segmen pendukung, perempuan muda masa kini menjadi pusat pengambilan keputusan baru dalam konsumsi, struktur keluarga, dan arah budaya di Indonesia. Meski masih banyak kebijakan publik yang menempatkan perempuan sebagai target market yang pasif dan pencari nafkah sekunder.

Perempuan memiliki pengaruh besar terhadap berbagai keputusan. Mereka mengambil peran untuk mempertimbangkan aspek keamanan yang semakin kompleks, pemanfaatan layanan kesehatan preventif, hingga dinamika fandom dan ekonomi kreator. Perubahan ini menunjukkan, bahwa keputusan konsumsi tidak lagi semata-mata ditentukan oleh pihak yang menghasilkan pendapatan, melainkan oleh pihak yang memiliki pertimbangan dan pengaruh terbesar dalam proses pengambilan keputusan.

Pandangan tersebut diperdalam dalam data Indonesia Millenial and Gen Z Report 2027. Melalui laporan IDN Research Institute, fenomena tersebut dikupas lebih mendalam, pemaparannya terdapat dalam artikel di bawah ini.

1. Perempuan muda masa kini memengaruhi daya beli hingga keputusan sosial

ilustrasi perempuan bekerja (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Menurut Annisa Paramita, Head of Lifestyle Publisher di IDN, perempuan muda yang aktif mencari informasi cenderung memiliki tanggung jawab yang lebih tinggi dalam mengambil keputusan, daya beli yang lebih kuat, serta niat pembelian yang lebih jelas dibandingkan segmen lainnya.

Perempuan tak lagi bersikap pasif terhadap fenomena atau isu yang terjadi secara publik. Kelompok ini justru memiliki kemampuan untuk merespons, mempertanyakan, dan memengaruhi berbagai isu. Kehadiran media sosial telah mengubah posisi perempuan menjadi partisipan aktif dalam yang mampu membentuk persepsi publik sekaligus memengaruhi pandangan publik.

Implikasi dari perkembangan ini pun cukup jelas. Sebuah merek atau brand yang masih menempatkan laki-laki sebagai pengambil keputusan utama memiliki risiko kehilangan relevansinya. Terlebih, dalam pembelian yang melibatkan pertimbangan emosional dan keputusan jangka panjang.

2. Beban ganda dan minimnya dukungan jadi realitas perempuan pekerja masa kini

ilustrasi perempuan bekerja (pexels.com/@olly)

Data global dari US Bureau of Labor Statistics (2024) menunjukkan bahwa perempuan memiliki tingkat adopsi kerja jarak jauh (remote work) yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Realitas tersebut tak sekadar dianggap sebagai referensi gaya hidup. Lebih dari itu, lifestyle ini diadaptasi sebagai bagian dari respons atas berbagai kondisi yang kompleks, termasuk beban ganda antara tanggung jawab profesional dan domestik serta kebutuhan untuk memiliki kontrol yang lebih besar atas waktu mereka sendiri.

Konsekuensinya, perempuan kian masif untuk mengambil beberapa tipe pekerjaan, antara pekerjaan formal, pekerjaan informal, pekerjaan lepas (freelance), dan pekerjaan berbasis ekonomi gig (gig-based engagements). Hal ini didorong atas kondisi pasar tenaga kerja yang belum sepenuhnya mampu mengakomodasi kebutuhan perempuan. Terutama dalam konteks pendapatan dan kebijakan ketenagakerjaan yang masih didasarkan pada asumsi pendapatan linear dan stabilitas jangka panjang.

Kebutuhan akan fleksibilitas juga berkaitan dengan kemampuan pendukung yang dimiliki perempuan pekerja, mulai dari kebijakan cuti orang tua hingga infrastruktur penitipan anak. Ketika aspek yang dianggap esensial bagi perempuan tidak saling menguatkan, maka perempuan tidak memiliki banyak pilihan selain beradaptasi.

Fenomena ini tertuang dalam kasus kekerasan di Little Aresha Daycare di Yogyakarta yang terungkap pada April 2026, di mana 53 dari 103 anak dipastikan menjadi korban di sebuah fasilitas daycare tanpa izin operasional. Kasus ini mengingatkan bahwa infrastruktur pengasuhan anak di Indonesia masih belum mampu mendukung realitas kehidupan perempuan pekerja.

Peristiwa ini terjadi karena anak-anak ditinggalkan dalam pengasuhan yang tidak aman sementara pra ibu bekerja. Kondisi tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana sistem tenaga kerja belum sepenuhnya dirancang untuk mendukung kebutuhan perempuan.

3. Suatu kebijakan kerap kali dirancang berdasarkan asumsi, bukan kebutuhan perempuan

ilustrasi perempuan bekerja untuk diri sendiri (pexels.com/Samson Katt)

Kecelakaan kereta jarak jauh Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur yang terjadi pada 27 April 2026 lalu, merenggut enam belas nyawa, dan seluruh korban adalah perempuan. Peristiwa ini menjadi refleksi publik bagaimana kebijakan yang dirancang untuk melindungi mereka justru menempatkan mereka pada posisi yang paling rentan secara struktural. Posisi gerbong khusus perempuan yang berada di rangkaian paling belakang itulah yang pertama kali menerima benturan.

Respons yang muncul setelah peristiwa tersebut tak kalah menarik perhatian publik. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mengusulkan agar gerbong khusus perempuan dipindahkan ke bagian tengah rangkaian kereta, sementara gerbong laki-laki ditempatkan di bagian depan. Pernyataan ini lantas memicu gelombang protes yang menilai solusi tersebut tidak menyentuh akar persoalan dan hanya memindahkan risiko kepada kelompok lain.

Peristiwa ini dapat dilihat secara lebih luas, tak hanya dapat dilihat sebagai kegagalan teknis dalam sistem transportasi. Kebijakan yang berupaya untuk mendukung perempuan tak sepenuhnya memahami kebutuhan dan risiko yang dihadapi secara struktural. Dari respons terkait peristiwa tersebut dapat dilihat bahwa kegagalan dalam memahami kebutuhan perempuan secara mendalam terus berulang ketika kebutuhan tersebut diasumsikan, bukan dipahami.

Pola lain juga terus terulang dalam berbagai industri yang ditujukan kepada kelompok perempuan. Terdapat tiga bentuk ketidaksesuaian yang secara konsisten muncul dalam strategi industri.

Pertama, asumsi bahwa perempuan adalah pencari nafkah sekunder masih menjadi dasar banyak strategi tidak sepenuhnya mendukung kebutuhan perempuan. Meski dalam praktiknya, perempuan kerap berperan sebagai pengambil keputusan utama.

Kedua, produk dan layanan masih banyak dirancang berdasarkan asumsi bahwa pendapatan seseorang bersifat tetap dan hanya berasal dari satu sumber. Padahal, realitas ekonomi kini makin beragam. Ketiga, pendekatan komunikasi masih didominasi oleh pola penyampaian satu arah, sementara ekosistem komunikasi masa kini menuntut kredibilitas media dan validasi sosial.

IDN menggelar Indonesia Summit 2026, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age". Indonesia Summit 2026 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.

Indonesia Summit 2026 diadakan di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17-18 Juni 2026. Dalam IS 2026, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.

Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei ini menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jakarta Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.

Editorial Team

Related Article