ilustrasi perempuan bekerja untuk diri sendiri (pexels.com/Samson Katt)
Kecelakaan kereta jarak jauh Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur yang terjadi pada 27 April 2026 lalu, merenggut enam belas nyawa, dan seluruh korban adalah perempuan. Peristiwa ini menjadi refleksi publik bagaimana kebijakan yang dirancang untuk melindungi mereka justru menempatkan mereka pada posisi yang paling rentan secara struktural. Posisi gerbong khusus perempuan yang berada di rangkaian paling belakang itulah yang pertama kali menerima benturan.
Respons yang muncul setelah peristiwa tersebut tak kalah menarik perhatian publik. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mengusulkan agar gerbong khusus perempuan dipindahkan ke bagian tengah rangkaian kereta, sementara gerbong laki-laki ditempatkan di bagian depan. Pernyataan ini lantas memicu gelombang protes yang menilai solusi tersebut tidak menyentuh akar persoalan dan hanya memindahkan risiko kepada kelompok lain.
Peristiwa ini dapat dilihat secara lebih luas, tak hanya dapat dilihat sebagai kegagalan teknis dalam sistem transportasi. Kebijakan yang berupaya untuk mendukung perempuan tak sepenuhnya memahami kebutuhan dan risiko yang dihadapi secara struktural. Dari respons terkait peristiwa tersebut dapat dilihat bahwa kegagalan dalam memahami kebutuhan perempuan secara mendalam terus berulang ketika kebutuhan tersebut diasumsikan, bukan dipahami.
Pola lain juga terus terulang dalam berbagai industri yang ditujukan kepada kelompok perempuan. Terdapat tiga bentuk ketidaksesuaian yang secara konsisten muncul dalam strategi industri.
Pertama, asumsi bahwa perempuan adalah pencari nafkah sekunder masih menjadi dasar banyak strategi tidak sepenuhnya mendukung kebutuhan perempuan. Meski dalam praktiknya, perempuan kerap berperan sebagai pengambil keputusan utama.
Kedua, produk dan layanan masih banyak dirancang berdasarkan asumsi bahwa pendapatan seseorang bersifat tetap dan hanya berasal dari satu sumber. Padahal, realitas ekonomi kini makin beragam. Ketiga, pendekatan komunikasi masih didominasi oleh pola penyampaian satu arah, sementara ekosistem komunikasi masa kini menuntut kredibilitas media dan validasi sosial.
IDN menggelar Indonesia Summit 2026, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age". Indonesia Summit 2026 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.
Indonesia Summit 2026 diadakan di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17-18 Juni 2026. Dalam IS 2026, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.
Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei ini menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jakarta Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.