Ilustrasi bekerja (pexels.com/Photo by MART PRODUCTION)
Di era AI, memahami cara kerja teknologi menjadi nilai tambah yang semakin penting. Namun, literasi AI bukan berarti semua orang harus menjadi programmer atau ilmuwan data. Yang lebih dibutuhkan adalah kemampuan memahami cara menggunakan AI secara efektif, mengevaluasi hasil yang diberikan, mengenali keterbatasannya, serta menerapkannya secara etis dalam pekerjaan sehari-hari.
"Bagi pemberi kerja, perlu inisiatif pelatihan dan peningkatan keterampilan yang berfokus baik pada keterampilan penulisan prompt tingkat lanjut maupun literasi GenAI yang lebih luas," jelas laporan WEF.
Karyawan yang mampu memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas akan memiliki daya saing yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang mengabaikan perkembangan teknologi. Selain literasi AI, perusahaan juga mencari individu yang memiliki semangat belajar sepanjang hayat atau lifelong learning.
"Keterampilan yang relevan dengan AI dan big data, jaringan serta keamanan siber, ditambah dengan rasa ingin tahu dan semangat belajar sepanjang hayat, diperkirakan akan semakin banyak dibutuhkan," dikutip dari laporan WEF.
Perubahan dunia kerja berlangsung begitu cepat sehingga keterampilan yang relevan saat ini bisa saja berubah dalam beberapa tahun ke depan. Karena itu, kemampuan mempelajari hal baru, mengikuti perkembangan teknologi, dan terus meningkatkan kompetensi menjadi investasi karier yang sangat berharga.
Perkembangan AI memang mengubah kebutuhan dunia kerja. Tetapi bukan berarti peran manusia menjadi tidak penting. Justru di tengah pesatnya otomatisasi, perusahaan semakin menghargai keterampilan yang tidak mudah digantikan mesin, seperti kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, berkomunikasi, berkolaborasi, berkreasi, serta kemauan untuk terus belajar.