Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Skill yang Dicari Perusahaan di Era AI, Rahasia untuk Tetap Relevan!
Ilustrasi bekerja (pexels.com/Photo by MART PRODUCTION)

Perkembangan kecerdasan buatan Artificial Intelligence atau AI telah mengubah cara perusahaan bekerja di hampir semua sektor industri. Berbagai tugas yang sebelumnya dilakukan secara manual kini dapat diselesaikan lebih cepat dengan bantuan AI, mulai dari mengolah data, membuat laporan, hingga menghasilkan konten. Perubahan ini memunculkan kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan banyak pekerjaan manusia.

Namun, di sisi lain, AI juga membuka peluang baru bagi mereka yang memiliki keterampilan yang sulit digantikan oleh teknologi. Oleh karena itu, memahami keterampilan yang paling dibutuhkan perusahaan menjadi langkah penting bagi siapa saja yang ingin membangun karier yang berkelanjutan.

1. Kemampuan beradaptasi menjadi nilai utama di dunia kerja

Ilustrasi diskusi dengan rekan kerja (pexels.com/Photo by Antoni Shkraba Studio)

Perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat membuat perusahaan membutuhkan karyawan yang mampu belajar hal-hal baru dan menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan. Kemampuan beradaptasi tidak hanya berarti mampu menggunakan perangkat atau aplikasi terbaru, tetapi juga bersedia mengubah cara berpikir, menerima tantangan baru, dan terus mengembangkan kompetensi sesuai kebutuhan industri.

Karyawan yang fleksibel cenderung lebih siap menghadapi transformasi bisnis dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan satu jenis keahlian. Kemampuan ini menjadi semakin penting karena perkembangan AI akan terus mengubah jenis pekerjaan yang tersedia. Banyak tugas rutin diperkirakan akan diotomatisasi, sementara pekerjaan baru yang membutuhkan kreativitas, analisis, dan kolaborasi akan terus bermunculan.

"Berpikir analitis tetap menjadi keterampilan inti utama bagi pemberi kerja, dengan tujuh dari sepuluh perusahaan menganggapnya sebagai hal yang esensial. Hal ini diikuti oleh ketangguhan, fleksibilitas, dan kelincahan, serta kepemimpinan dan pengaruh sosial, yang menegaskan peran krusial kemampuan beradaptasi dan kolaborasi di samping keterampilan kognitif," demikian laporan studi The Future of Jobs Report 2025 oleh World Economic Forum (WEF).

2. Berpikir kritis dan problem solving tetap menjadi keunggulan manusia

Ilustrasi bekerja (pexels.com/Photo by RDNE Stock project)

Meski AI mampu menganalisis data dalam jumlah besar dan memberikan rekomendasi dengan cepat, teknologi ini tetap bergantung pada data dan instruksi yang diberikan manusia. Dalam praktiknya, perusahaan membutuhkan karyawan yang mampu menafsirkan informasi, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, serta mengambil keputusan yang tepat ketika menghadapi situasi yang kompleks.

Di sinilah kemampuan berpikir kritis atau critical thinking dan pemecahan masalah (problem solving) menjadi sangat penting. Berpikir kritis bukan sekadar menemukan jawaban yang benar, tetapi juga mampu mempertanyakan asumsi, mengevaluasi bukti, dan memahami konsekuensi dari setiap keputusan.

"Perubahan ini (kemajuan AI) menyoroti semakin kompleksnya proses pengambilan keputusan serta perlunya kemampuan pemecahan masalah secara kritis di dunia yang berbasis data," dikutip dari laporan WEF.

Jadi di era AI, keterampilan tersebut justru semakin dibutuhkan karena informasi yang dihasilkan teknologi perlu diverifikasi dan disesuaikan dengan konteks bisnis, etika, maupun kebutuhan pelanggan. Dengan kata lain, AI dapat membantu proses analisis, tetapi manusia tetap memegang peran utama dalam menentukan keputusan akhir.

3. Komunikasi dan kolaborasi semakin penting di era AI

Ilustrasi sibuk bekerja (pexels.com/Photo by Matheus Bertelli)

Semakin banyak pekerjaan yang melibatkan AI, semakin besar pula kebutuhan akan kemampuan komunikasi dan kolaborasi antarmanusia. AI memang dapat membantu membuat presentasi, merangkum dokumen, atau menyusun laporan, tetapi membangun hubungan dengan klien, memimpin tim, menyelesaikan konflik, dan menyampaikan ide secara persuasif tetap menjadi keunggulan manusia.

Oleh karena itu, perusahaan kini tidak hanya mencari kandidat yang cerdas secara teknis, tetapi juga mampu bekerja sama dengan berbagai latar belakang dan disiplin ilmu. Kemampuan komunikasi juga berperan penting dalam penggunaan AI. Misalnya, seseorang perlu mampu menjelaskan kebutuhan bisnis kepada tim, menyampaikan hasil analisis AI kepada pemangku kepentingan, atau bahkan membuat prompt yang efektif agar AI menghasilkan jawaban yang relevan.

"Para pemimpin mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk sukses mengelola tim jarak jauh, seperti pemikiran strategis, komunikasi, dan kepemimpinan inklusif. Kami juga menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi serta pemanfaatan teknologi terkini seperti AI," jelas Corina Kolbe, VP Talent Success di Zillow dalam laporan LinkedIn Workplace Learning Report.

4. Kreativitas dan inovasi menjadi pembeda yang sulit digantikan AI

Ilustrasi bekerja (pexels.com/Photo by Yan Krukau)

Kemampuan AI dalam menghasilkan teks, gambar, maupun ide memang berkembang sangat pesat. Namun, kreativitas manusia tetap memiliki keunggulan karena lahir dari pengalaman hidup, empati, intuisi, dan pemahaman terhadap konteks sosial maupun budaya.

AI dapat membantu menghasilkan berbagai alternatif ide, tetapi manusia tetap berperan dalam memilih, menyempurnakan, dan mengubah ide tersebut menjadi solusi yang benar-benar bernilai. Di dunia kerja, perusahaan semakin menghargai karyawan yang mampu berpikir kreatif untuk menciptakan produk baru, meningkatkan pengalaman pelanggan, atau menemukan cara kerja yang lebih efisien.

"Para pemberi kerja di Maroko dan Tunisia, melihat adanya peningkatan permintaan yang sangat signifikan terhadap keterampilan kepemimpinan dan pengaruh sosial, pemikiran kreatif, serta keterampilan AI dan big data," demikian laporan WEF.

5. Literasi AI dan kemauan belajar menjadi investasi karier

Ilustrasi bekerja (pexels.com/Photo by MART PRODUCTION)

Di era AI, memahami cara kerja teknologi menjadi nilai tambah yang semakin penting. Namun, literasi AI bukan berarti semua orang harus menjadi programmer atau ilmuwan data. Yang lebih dibutuhkan adalah kemampuan memahami cara menggunakan AI secara efektif, mengevaluasi hasil yang diberikan, mengenali keterbatasannya, serta menerapkannya secara etis dalam pekerjaan sehari-hari.

"Bagi pemberi kerja, perlu inisiatif pelatihan dan peningkatan keterampilan yang berfokus baik pada keterampilan penulisan prompt tingkat lanjut maupun literasi GenAI yang lebih luas," jelas laporan WEF.

Karyawan yang mampu memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas akan memiliki daya saing yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang mengabaikan perkembangan teknologi. Selain literasi AI, perusahaan juga mencari individu yang memiliki semangat belajar sepanjang hayat atau lifelong learning.

"Keterampilan yang relevan dengan AI dan big data, jaringan serta keamanan siber, ditambah dengan rasa ingin tahu dan semangat belajar sepanjang hayat, diperkirakan akan semakin banyak dibutuhkan," dikutip dari laporan WEF.

Perubahan dunia kerja berlangsung begitu cepat sehingga keterampilan yang relevan saat ini bisa saja berubah dalam beberapa tahun ke depan. Karena itu, kemampuan mempelajari hal baru, mengikuti perkembangan teknologi, dan terus meningkatkan kompetensi menjadi investasi karier yang sangat berharga.

Perkembangan AI memang mengubah kebutuhan dunia kerja. Tetapi bukan berarti peran manusia menjadi tidak penting. Justru di tengah pesatnya otomatisasi, perusahaan semakin menghargai keterampilan yang tidak mudah digantikan mesin, seperti kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, berkomunikasi, berkolaborasi, berkreasi, serta kemauan untuk terus belajar.

Curated For You

Editorial Team

Related Article