Strategic Laziness, Cara Malas untuk Menghemat Energi

- Strategic laziness mengajak seseorang memakai energi secara selektif, dengan membedakan tugas utama yang butuh fokus penuh dari pekerjaan kecil yang tidak perlu mendapat tenaga setara.
- Menunda tugas yang tidak mendesak dapat menjadi langkah strategis, bukan procrastination, jika membantu memprioritaskan pekerjaan besar dan mencegah energi habis sebelum tugas penting selesai.
- Waktu kosong dan istirahat tanpa aktivitas tetap dianggap penting untuk memulihkan energi; konsep ini bukan menghindari tanggung jawab, melainkan mengatur kapan perlu bekerja dan berhenti.
Pernah merasa sibuk seharian, tetapi pekerjaan penting justru malah belum banyak yang selesai? Kondisi ini bisa terjadi ketika terlalu banyak energi habis untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting. Konsep strategic laziness menawarkan cara berbeda untuk mengatur tenaga tanpa harus terus-terusan terlihat produktif.
Alih-alih mengerjakan semuanya sekaligus, kamu memilih mana yang memang layak mendapatkan perhatian lebih. Cara ini bisa diterapkan saat bekerja, belajar, maupun menjalani rutinitas sehari-hari.
Istilah strategic laziness pada dasarnya mengajak seseorang untuk lebih selektif menggunakan energi. Konsep ini mulai banyak dibicarakan karena budaya kerja yang serba cepat sering membuat orang merasa harus selalu sibuk. Padahal, bekerja lebih lama tidak otomatis menghasilkan pekerjaan yang lebih baik.
Dengan mengurangi aktivitas yang kurang penting, kamu bisa menyimpan energi untuk tugas yang membutuhkan fokus lebih besar. Lalu, bagaimana cara “malas” justru bisa membuat aktivitas sehari-hari lebih efisien?
1. Tidak semua tugas harus dikerjakan dengan energi yang sama

Ilustrasi bekerja (pexels.com/Ivan Samkov) Salah satu prinsip strategic laziness adalah berhenti menganggap semua pekerjaan memiliki tingkat kepentingan yang sama. Ada tugas yang membutuhkan konsentrasi penuh, tetapi ada juga pekerjaan sederhana yang sebenarnya tidak memerlukan seluruh energi kita. Membalas email singkat, merapikan file, atau memilih desain untuk hal kecil, misalnya tidak harus dilakukan dengan standar yang sama seperti mengerjakan sebuah proyek utama.
Dalam laman Fast Company, seorang executive coach sekaligus penulis buku Relentless: The Power of Doing Less in a Workplace That Demands More, Chris Lovett, menjelaskan menjadi malas secara strategis bukan berarti menghindari pekerjaan besar yang memang penting. Konsep ini lebih tentang memilih hal-hal yang benar-benar layak mendapatkan energimu dan melepaskan sisanya.
Jadi, “malas” di sini bukan berarti sengaja menghindari pekerjaan. Kamu hanya berhenti memberikan 100 persen tenaga dan energi untuk setiap hal yang muncul di depan mata. Energi yang tersisa bisa dialihkan ke pekerjaan lain yang hasilnya benar-benar berpengaruh.
2. Tunda pekerjaan yang gak mendesak

ilustrasi orang menunda pekerjaan (pexels.com/Arina Krasnikova) Menunda pekerjaan sering langsung dianggap sebagai kebiasaan buruk. Padahal, tidak semua bentuk penundaan merupakan procrastination. Ada kalanya menunda tugas tertentu justru membantu kamu menyusun prioritas dan menghindari penggunaan energi pada waktu yang kurang tepat.
Dalam Psychology Today, seorang psikiater Neel Burton, M.D. menjelaskan bahwa menunda tugas untuk tujuan yang konstruktif atau strategis tidak termasuk procrastination. Sehingga, persoalannya bukan sekadar kapan sebuah tugas dikerjakan, melainkan apakah menunda tersebut membuat pekerjaan menjadi lebih terencana atau malah menambah masalah.
Misalnya, kamu punya satu tugas besar yang membutuhkan konsentrasi dan beberapa pekerjaan kecil yang bisa diselesaikan nanti. Daripada buru-buru membereskan semuanya sekaligus, pekerjaan kecil tersebut bisa menunggu sementara kamu menyelesaikan tugas utama. Kedengarannya malas, tetapi justru bisa membuat energi tidak habis sebelum sampai ke pekerjaan yang paling penting.
3. Menyisakan waktu untuk tidak melakukan apa-apa

Ilustrasi istirahat sejenak dari rutinitas (pexels.com/Vitaly Gariev) Waktu istirahat bukan berarti harus selalu diisi dengan kegiatan lain. Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan, kamu bisa memberi diri sendiri waktu untuk benar-benar berhenti tanpa merasa harus melakukan sesuatu. Duduk sebentar, menikmati kopi, melihat ke luar jendela, atau sekadar membiarkan pikiran kosong juga bisa menjadi bagian dari menghemat energi.
Dalam konsep strategic laziness, waktu kosong seperti ini bukan sesuatu yang perlu dianggap sebagai pemborosan. Ada kalanya tubuh dan pikiran memang membutuhkan jeda sebelum kembali mengerjakan hal lain. Kalau setiap waktu luang langsung diisi dengan pekerjaan, scrolling, atau aktivitas lain, rasanya hari tetap penuh meski sebenarnya tidak banyak hal penting yang selesai.
Jadi, kamu gak perlu merasa bersalah ketika kamu memilih rebahan sebentar setelah menyelesaikan pekerjaan yang penting. Kamu bukan sedang membuang waktu, tetapi sedang memberi kesempatan diri sendiri untuk mengisi ulang energi sebelum kembali beraktivitas.
Strategic laziness bukan alasan untuk menghindari tanggung jawab. Ini lebih seperti cara memilih kapan harus bergerak dan kapan kita tidak perlu menghabiskan tenaga. Jadi kalau hari ini kamu sengaja tidak mengerjakan satu hal yang kurang penting demi menyelesaikan pekerjaan yang lebih berarti, mungkin kamu bukan sedang malas, tetapi sedang pintar menghemat energi.

























