Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Tanda Kamu Sebenarnya Belum Siap Resign dari Pekerjaan Lama
ilustrasi resign (vecteezy.com/ bestyy38105321)

Keinginan resign sering muncul setelah hari yang melelahkan, konflik di kantor, atau melihat orang lain tampak lebih bahagia setelah pindah kerja. Namun, keputusan sebesar ini tidak selalu cocok diambil saat emosi sedang memuncak.

Ada kalanya yang dibutuhkan bukan surat pengunduran diri, melainkan waktu untuk melihat situasi dengan lebih jernih. Sebelum benar-benar melangkah, ada baiknya memperhatikan beberapa tanda yang sering luput disadari berikut ini.

1. Masih menghitung gaji berikutnya sebelum tanggal muda

ilustrasi gaji (pexels.com/Ahsanjaya)

Bukan soal nominal yang besar atau kecil, melainkan seberapa jauh pemasukan saat ini masih menjadi penyangga kebutuhan sehari-hari. Banyak orang merasa sudah muak dengan pekerjaan lama, tetapi tetap cemas setiap kali membayangkan rekening tanpa pemasukan rutin. Perasaan itu sering muncul bukan karena kurang berani, melainkan karena masih ada tanggung jawab yang harus dipenuhi. Cicilan, biaya rumah, kebutuhan orangtua, hingga pengeluaran yang tidak bisa ditunda tetap berjalan meski status pekerjaan berubah.

Ketika bayangan kehilangan penghasilan terasa lebih besar dibanding semangat mencari jalan baru, itu layak dipertimbangkan kembali. Resign memang bukan keputusan yang salah, tetapi terburu-buru keluar tanpa kesiapan finansial sering membuat orang menerima pekerjaan apa saja hanya demi bertahan. Akhirnya, situasi yang dihadapi tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Bedanya, ruang memilih menjadi jauh lebih sempit.

2. Rasa kesalmu sebenarnya tertuju pada satu kejadian tertentu

ilustrasi kesal (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Ada masa ketika pekerjaan terasa menyebalkan hanya karena satu masalah yang terus teringat. Bisa jadi karena penilaian atasan yang dianggap tidak adil, proyek yang berantakan, atau kesempatan promosi yang gagal didapatkan. Kejadian seperti ini memang menguras energi dan membuat kantor terasa tidak nyaman. Namun, satu pengalaman buruk belum tentu mencerminkan keseluruhan kondisi pekerjaan.

Coba ingat kembali beberapa bulan terakhir, bukan hanya satu minggu terakhir. Jika keinginan resign muncul tepat setelah sebuah konflik, ada kemungkinan keputusan itu lahir dari kekecewaan sesaat. Banyak orang baru menyadari hal ini setelah emosinya mereda. Saat masalah utamanya sebenarnya selesai, keinginan untuk keluar pun perlahan ikut menghilang.

3. Kamu belum tahu ingin pergi ke mana setelah keluar

ilustrasi bingung (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Tidak semua orang harus memiliki rencana lima tahun yang rinci. Namun, setidaknya ada gambaran mengenai langkah berikutnya setelah meninggalkan pekerjaan sekarang. Jika satu-satunya tujuan hanyalah "pokoknya keluar dulu", keputusan tersebut sering berakhir membingungkan. Setelah euforia bebas dari kantor mereda, pertanyaan baru mulai bermunculan.

Mencari pekerjaan baru, membangun usaha, atau mengambil jeda karier tentu sama-sama memungkinkan. Masalahnya, banyak orang baru memikirkan hal itu setelah resmi resign. Akibatnya, waktu yang seharusnya digunakan untuk berkembang justru habis untuk mencari arah. Keluar dari satu tempat memang penting, tetapi mengetahui tujuan berikutnya tidak kalah penting.

4. Kamu masih menikmati beberapa bagian pekerjaan saat ini

ilustrasi pekerjaan (pexels.com/Chevanon Photography)

Menariknya, tanda belum siap resign kadang bukan terlihat dari hal yang dibenci, melainkan dari hal yang masih disukai. Mungkin pekerjaan utamanya melelahkan, tetapi rekan kerja terasa menyenangkan. Bisa juga target kerja membuat stres, tetapi bidang yang digeluti masih memunculkan rasa penasaran. Hal-hal seperti ini sering dianggap sepele karena tertutup oleh rasa jenuh yang lebih besar.

Padahal, jika masih ada bagian yang membuatmu bersemangat datang ke kantor, masalahnya belum tentu terletak pada pekerjaan secara keseluruhan. Bisa jadi yang perlu diubah hanya lingkungan tim, sistem kerja, atau posisi yang dijalani saat ini. Tidak semua ketidaknyamanan harus diselesaikan dengan keluar. Kadang solusi yang dicari ternyata masih berada di tempat yang sama.

5. Kamu lebih sering membandingkan hidup dengan orang lain

ilustrasi membandingkan hidup (pexels.com/Artem Podrez)

Media sosial membuat keputusan resign terlihat sangat mudah. Ada yang membagikan kisah sukses setelah keluar kantor, ada yang mendadak memiliki bisnis sendiri, bahkan ada yang tampak lebih santai menjalani hidup. Melihat cerita seperti itu memang bisa memunculkan keinginan untuk melakukan hal serupa. Namun, yang terlihat di layar belum tentu menggambarkan seluruh kenyataan.

Setiap orang memiliki kondisi yang berbeda. Ada yang memiliki tabungan besar, ada yang mendapat dukungan keluarga, ada pula yang sudah menyiapkan pekerjaan baru jauh-jauh hari. Jika alasan terbesar ingin resign adalah karena merasa tertinggal dari orang lain, mungkin yang perlu dievaluasi bukan pekerjaannya terlebih dahulu. Keputusan penting biasanya lebih aman dibuat berdasarkan kebutuhan diri sendiri, bukan berdasarkan kehidupan yang terlihat menarik dari kejauhan.

Keputusan resign memang bersifat pribadi dan tidak ada waktu yang benar-benar sempurna untuk melakukannya. Namun, mengenali tanda-tanda di atas bisa membantu melihat apakah keinginan tersebut lahir dari kesiapan atau sekadar dorongan sesaat. Setelah membaca poin-poin tadi, apakah alasanmu ingin resign masih terasa sama kuatnya seperti sebelumnya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article