Sebagian besar masyarakat Indonesia usia produktif menghabiskan sepertiga waktunya di tempat kerja. Itulah kenapa, ikatan pertemanan atau persabahatan terbanyak mereka tumbuh di antara meja kubikel, ruang rapat, hingga obrolan singkat di pantry kantor.
Laporan terbaru Workplace Happiness Index yang dirilis oleh Jobstreet by SEEK pada Januari 2026 lalu mengungkapkan temuan menarik mengenai lanskap psikologis pekerja di Tanah Air. Meskipun aspek kompensasi jadi pertimbangan utama seseorang menerima atau bertahan dalam sebuah pekerjaan, tetapi data menjukan bahwa pendorong kebahagiaan yang sebenarnya adalah hubungan interpersonal yang kuat antar karyawan, keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance), serta tujuan kerja (purpose).
Secara tidak langsung, hubungan pertemanan antara karyawan dan keseimbangan pekerjaan bisa berdampak langsung terhadap bisnis dan retensi. Berikut beberapa alasannya!
