Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Alat Rumah Tangga yang Sering Dibeli karena Lapar Mata

7 Alat Rumah Tangga yang Sering Dibeli karena Lapar Mata
ilustrasi blender (pexels.com/Yaroslav Shuraev)
Intinya Sih
  • Fenomena “lapar mata” saat belanja online bikin banyak orang membeli alat rumah tangga bukan karena butuh, tapi tergoda promo, tampilan estetik, dan video review yang meyakinkan.
  • Banyak alat seperti air fryer, blender mini, hingga coffee maker akhirnya jarang dipakai karena tidak sepraktis ekspektasi dan hanya jadi pajangan di dapur atau kamar.
  • Artikel menekankan pentingnya berpikir ulang sebelum checkout agar belanja lebih bijak dan barang yang dibeli benar-benar berguna dalam kehidupan sehari-hari.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pernah gak kamu lagi scroll toko online cuma buat lihat-lihat, eh tahu-tahu keranjang sudah penuh barang rumah tangga? Awalnya cuma niat cari satu barang penting, tapi algoritma dan foto produk yang menggiurkan bikin fokus buyar. Apalagi kalau lihat video review yang kelihatan praktis banget, rasanya semua alat itu mendadak jadi kebutuhan primer. Banyak anak muda, termasuk kamu mungkin, akhirnya belanja bukan karena butuh, tapi karena lapar mata. Padahal setelah barang datang, belum tentu kepakai sesering yang dibayangkan.

Fenomena ini makin sering terjadi sejak belanja online semudah sekali klik. Promo tanggal kembar, gratis ongkir, dan flash sale bikin logika mendadak libur. Kamu merasa menemukan solusi untuk masalah yang sebenarnya gak ada. Alat rumah tangga yang tadinya kelihatan canggih berubah jadi pajangan di sudut dapur. Supaya kamu gak terjebak lagi, yuk kita bahas alat apa saja yang paling sering dibeli karena lapar mata.

1. Air fryer yang niatnya buat hidup sehat

ilustrasi air fryer (freepik.com/freepik)
ilustrasi air fryer (freepik.com/freepik)

Banyak orang, mungkin termasuk kamu, membeli air fryer dengan mimpi besar ingin hidup lebih sehat. Iklannya meyakinkan seolah semua makanan bisa jadi rendah minyak tanpa mengubah rasa. Di awal pembelian, semangat mencoba resep pasti membara. Kamu membayangkan akan rutin bikin ayam panggang, kentang renyah, sampai camilan sehat tiap hari. Rasanya seperti menemukan alat ajaib yang mengubah pola makan. Tapi realitanya sering gak seindah ekspektasi.

Setelah beberapa minggu, air fryer mulai jarang disentuh. Membersihkannya ternyata gak sesimpel di video promosi. Ukurannya juga cukup besar dan memakan tempat di dapur kecil kamu. Belum lagi waktu memasak yang kadang lebih lama dari menggoreng biasa. Akhirnya alat ini lebih sering jadi saksi bisu niat hidup sehat yang perlahan memudar. Kamu pun sadar, yang dibeli sebenarnya bukan alatnya, tapi ilusi gaya hidupnya.

2. Blender mini estetik warna pastel

ilustrasi blender (pexels.com/Mikhail Nilov)
ilustrasi blender (pexels.com/Mikhail Nilov)

Blender mini sering banget bikin kamu jatuh cinta pada pandangan pertama. Warnanya lucu, bentuknya kecil, dan fotonya cocok untuk konten media sosial. Kamu membayangkan setiap pagi bikin smoothie segar seperti influencer favorit. Harganya juga terasa murah dibanding blender besar. Tanpa pikir panjang, tombol checkout langsung kamu tekan. Rasanya seperti membeli langkah awal menuju hidup lebih produktif.

Namun setelah dicoba, kapasitasnya sering terlalu kecil untuk kebutuhan nyata. Blender mini juga gak selalu kuat menghancurkan bahan beku seperti yang dijanjikan. Kamu jadi tetap pakai blender lama atau malah beli jus di luar. Lama-lama alat lucu ini hanya jadi penghias rak dapur. Estetik memang, tapi fungsinya gak seestetik fotonya.

3. Pemotong sayur serbaguna yang katanya praktis

ilustrasi potongan sayur (pexels.com/Ron Lach)
ilustrasi potongan sayur (pexels.com/Ron Lach)

Alat pemotong sayur multifungsi sering terlihat seperti penyelamat hidup. Dalam iklan, kamu cuma perlu menekan sekali dan bawang langsung rapi sempurna. Gak ada lagi drama mata perih atau potongan berantakan. Kamu merasa alat ini akan menghemat banyak waktu memasak. Apalagi harganya sering diskon dan bonus banyak mata pisau. Siapa yang gak tergoda?

Kenyataannya, alat ini sering lebih ribet dari pisau biasa. Membersihkan sela-sela pisaunya butuh usaha ekstra. Belum lagi kalau bahannya agak keras, hasil potongannya gak serapi iklan. Kamu akhirnya kembali ke cara lama yang lebih cepat. Alat canggih itu pun menganggur di laci paling dalam. Setiap melihatnya, kamu sadar sudah tertipu video promosi yang terlalu sempurna.

4. Coffee maker demi gaya hidup ala kafe

ilustrasi kopi (pexels.com/Pixabay)
ilustrasi kopi (pexels.com/Pixabay)

Banyak orang membeli coffee maker karena ingin hemat dari beli kopi harian. Kamu membayangkan bisa bikin latte sendiri tiap pagi tanpa antre. Aroma kopi segar di kamar terdengar seperti mimpi indah. Desain mesinnya juga biasanya elegan dan bikin dapur terlihat naik kelas. Rasanya seperti investasi untuk kebahagiaan kecil setiap hari. Apalagi kalau kamu memang pencinta kopi sejati.

Tapi membuat kopi sendiri ternyata butuh niat lebih besar dari sekadar menekan tombol. Ada proses membersihkan, membeli biji kopi, dan belajar takaran yang pas. Saat sedang buru-buru, kamu tetap memilih beli di luar. Coffee maker akhirnya hanya menyala sesekali saat akhir pekan. Impian jadi barista rumahan pun pelan-pelan menguap.

5. Alat pel otomatis yang terlihat ajaib

ilustrasi vacuum cleaner wireless
ilustrasi vacuum cleaner wireless (unsplash.com/Kevin Bogaard)

Iklan alat pel otomatis sering bikin kamu merasa hidup akan langsung lebih mudah. Cukup tekan tombol, lantai kinclong tanpa perlu memeras kain. Buat kamu yang malas bersih-bersih, ini terdengar seperti solusi masa depan. Bentuknya modern dan terlihat seperti teknologi mahal. Banyak yang akhirnya membeli demi janji rumah bersih tanpa capek. Padahal realitanya gak selalu sepraktis itu.

Beberapa alat pel otomatis ternyata gak cocok untuk semua jenis lantai. Tenaganya kadang kurang kuat mengangkat noda membandel. Kamu tetap harus menyikat manual di beberapa bagian. Mengisi daya dan merawatnya juga butuh perhatian khusus. Akhirnya alat ini hanya dipakai sesekali, sementara kamu kembali ke pel kain biasa.

6. Dispenser sabun otomatis biar serba higienis

ilustrasi dispenser (unsplash.com/Joseph Mutalwa)
ilustrasi dispenser (unsplash.com/Joseph Mutalwa)

Sejak isu kebersihan makin ramai, dispenser sabun otomatis mendadak laris. Kamu merasa alat ini penting supaya tangan lebih higienis. Desainnya futuristik dan terlihat keren di wastafel. Harganya gak terlalu mahal sehingga mudah masuk keranjang. Rasanya seperti langkah kecil menuju rumah yang lebih modern. Banyak orang membelinya bahkan tanpa benar-benar butuh.

Masalah muncul saat baterainya cepat habis atau sensornya kurang responsif. Sabun yang dipakai juga harus jenis tertentu supaya gak macet. Kadang sabun keluar terlalu banyak dan malah boros. Kamu akhirnya kembali menuang sabun manual seperti dulu. Dispenser otomatis itu hanya jadi pajangan yang jarang disentuh.

7. Vacuum cleaner mini yang imut

ilustrasi vacuum cleaner wireless
ilustrasi vacuum cleaner wireless (unsplash.com/Kowon vn)

Vacuum cleaner mini sering dipromosikan sebagai penyelamat kamar kos. Kamu membayangkan bisa membersihkan debu di kasur dan meja dengan mudah. Ukurannya yang kecil bikin terlihat praktis dan ringan. Ditambah video sebelum-sesudah yang meyakinkan, kamu langsung merasa harus punya. Apalagi kalau kamu bukan penggemar sapu konvensional.

Sayangnya daya hisap versi mini sering gak sekuat harapan. Debu halus memang terangkat, tapi kotoran agak besar tetap bandel. Baterainya cepat habis saat dipakai lama. Kamu jadi tetap membutuhkan vacuum besar atau sapu biasa. Lagi-lagi kamu sadar membeli karena tergoda visual, bukan kebutuhan nyata.

Belanja alat rumah tangga memang menyenangkan, apalagi kalau tampilannya lucu dan kelihatan canggih. Tapi kamu perlu ingat bahwa gak semua yang menarik itu benar-benar dibutuhkan. Banyak barang akhirnya hanya memenuhi sudut rumah tanpa pernah dipakai maksimal. Lapar mata sering membuat logika belanja kamu kalah telak. Padahal tujuan awalnya ingin mempermudah hidup, bukan menambah beban.

Sebelum klik checkout lagi, coba kamu berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri. Apakah alat itu benar akan sering dipakai atau cuma memuaskan rasa penasaran sesaat? Kalau jawabannya masih ragu, mungkin lebih baik ditunda dulu. Dompet kamu akan berterima kasih, begitu juga ruang di rumahmu. Belanja cerdas bukan soal banyaknya barang, tapi seberapa berguna barang itu untuk hidup kamu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us

Latest in Life

See More