Eks Petinggi Google: Kuliah Terlalu Lama Sudah Gak Relevan di Era AI

- Mantan petinggi Google, Jad Tarifi, menilai pendidikan tinggi terlalu lama dan berisiko ketinggalan zaman karena perkembangan AI jauh lebih cepat dari kurikulum kampus.
- Bahkan bidang seperti kedokteran dan hukum dinilai bisa kehilangan relevansi karena AI mampu mengambil alih sebagian fungsi profesional yang sebelumnya bergantung pada manusia.
- Tokoh teknologi seperti Sam Altman dan Mark Zuckerberg turut mempertanyakan efektivitas kuliah panjang, menekankan pentingnya kemampuan adaptif dan kualitas manusiawi di era AI.
Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan, muncul perdebatan baru soal relevansi pendidikan tinggi. Seorang mantan petinggi Google bahkan terang-terangan menilai bahwa beberapa gelar kuliah kini terlalu lama dan berisiko ketinggalan zaman sebelum lulus.
Untuk kamu yang sedang mempertimbangkan S2 atau S3 demi masa depan karier, peringatan ini tentu bikin mikir ulang. Apalagi, teknologi AI disebut berkembang jauh lebih cepat dibanding kurikulum kampus. Jadi, apakah benar kuliah panjang sudah gak lagi relevan di era AI?
Yuk, kamu simak poin-poin pentingnya sampai selesai supaya bisa mengambil keputusan dengan lebih bijak.
1. Gelar panjang bisa kalah cepat dari perkembangan AI

Dilansir fortune.com, Jad Tarifi, pendiri tim generative-AI pertama di Google, mengingatkan bahwa menempuh pendidikan hingga doktoral bisa memakan waktu bertahun-tahun. Ia menyampaikan bahwa dalam kurun waktu tersebut, teknologi AI bisa berkembang sangat cepat hingga melampaui apa yang dipelajari di awal masa studi. Menurutnya, ada risiko mahasiswa “membuang” waktu jika hanya mengejar gelar tanpa mempertimbangkan kecepatan perubahan teknologi.
Tarifi sendiri lulus PhD di bidang AI pada 2012, ketika AI belum sepopuler sekarang. Namun ia menjelaskan bahwa kondisi saat ini berbeda jauh, karena inovasi terjadi dalam hitungan bulan, bukan lagi tahun. Ia bahkan menyebut bahwa saat kamu selesai PhD, banyak masalah AI yang sedang diteliti hari ini bisa jadi sudah terpecahkan.
2. Bahkan kedokteran dan hukum ikut dipertanyakan

Biasanya, gelar seperti dokter atau pengacara dianggap jalur aman menuju karier mapan. Namun Tarifi menilai bahwa pendidikan di bidang seperti kedokteran dan hukum memakan waktu terlalu lama dibanding laju perkembangan AI. Ia menyampaikan bahwa sistem medis saat ini masih banyak bertumpu pada hafalan dan materi yang cepat usang.
Dalam pandangannya, apa yang kamu pelajari di sekolah kedokteran bisa saja sudah ketinggalan saat benar-benar terjun ke lapangan. Dengan AI yang semakin canggih dalam menganalisis data medis dan dokumen hukum, sebagian fungsi profesional bisa berubah drastis. Artinya, lamanya masa studi belum tentu menjamin relevansi jangka panjang.
3. Bos teknologi lain ikut menyuarakan kekhawatiran

Pandangan ini bukan hanya datang dari satu orang. CEO OpenAI, Sam Altman, mengatakan bahwa model AI terbaru perusahaannya sudah mampu memberikan respons setara pakar tingkat PhD. Ia menggambarkan GPT-5 seperti berbicara dengan ahli doktoral di berbagai topik. Pernyataan ini semakin menegaskan bahwa batas antara keahlian akademik dan kemampuan AI kini makin tipis di mata para pemimpin industri teknologi.
Selain itu, CEO Meta, Mark Zuckerberg, juga mempertanyakan apakah kampus benar-benar mempersiapkan mahasiswa untuk pekerjaan masa kini. Ia menyampaikan bahwa gak semua orang harus kuliah, terutama jika banyak pekerjaan gak lagi mensyaratkan gelar formal seperti dulu. Bahkan pendiri Microsoft, Bill Gates, mengakui bahwa laju perkembangan AI mengejutkan dirinya sendiri.
4. Pendidikan tinggi dinilai mendekati titik usang

Tarifi menyampaikan bahwa sistem pendidikan tinggi seperti yang kita kenal sekarang berada di ambang perubahan besar. Ia menilai bahwa masa depan gak lagi ditentukan oleh seberapa banyak kredensial yang kamu kumpulkan. Sebaliknya, yang akan membedakan seseorang adalah perspektif unik, kemandirian, kesadaran emosional, dan kemampuan membangun relasi.
Ia mendorong generasi muda untuk fokus pada dua hal penting: kemampuan terhubung secara mendalam dengan orang lain dan kemampuan memahami diri sendiri. Menurutnya, kualitas manusiawi inilah yang sulit digantikan oleh AI. Jadi, alih-alih hanya mengejar titel panjang, kamu perlu membangun nilai yang gak gampang diotomatisasi.
5. Jalur PhD ke gaji tinggi memang masih terbuka (untuk sekarang)

Meski begitu, jalur PhD ke pekerjaan bergaji tinggi masih kuat, terutama di bidang AI. Data dari Massachusetts Institute of Technology menunjukkan bahwa pada 2023, sekitar 70 persen mahasiswa doktoral AI memilih bekerja di sektor swasta setelah lulus. Angka ini melonjak drastis dibanding dua dekade lalu yang hanya sekitar 20 persen.
Namun, tren ini juga memicu kekhawatiran soal brain drain di dunia akademik. Henry Hoffmann dari University of Chicago menjelaskan bahwa banyak mahasiswa PhD direkrut perusahaan teknologi dengan tawaran gaji tinggi bahkan sebelum lulus. Ia menceritakan ada mahasiswa tanpa pengalaman profesional yang keluar dari program doktoral demi menerima tawaran enam digit dari ByteDance.
Perdebatan soal relevansi kuliah panjang di era AI memang makin panas. Di satu sisi, gelar tinggi masih membuka pintu ke gaji besar dan peluang karier elit. Namun di sisi lain, perkembangan AI yang super cepat membuatmu perlu berpikir ulang sebelum menghabiskan bertahun-tahun hanya untuk mengejar titel.
Mungkin yang paling penting bukan sekadar gelar, tapi bagaimana kamu terus belajar, beradaptasi, dan mengembangkan kualitas manusiawi yang tak tergantikan. Jadi, sebelum memutuskan lanjut kuliah panjang, pastikan kamu tahu alasan dan strateginya, bukan sekadar ikut arus, ya.


















