5 Buku untuk Sembuhkan Luka dan Berdamai dengan Duka

Telephone of the Tree karya Alison McGhee menceritakan perjalanan Ayla yang merasa kehilangan luar biasa setelah sahabatnya, Kiri, pergi ke "tempat yang sangat jauh" dan tak kunjung kembali.
Memorial Perfume Shop karya Jin Seolla mengisahkan sebuah toko parfum ajaib milik Jin Doo Ri dan peracik jenius bernama Joyful yang mampu meramu aroma dari molekul kenangan.
Seminggu Sebelum Aku Mati karya Seo Eun-chae mengisahkan tentang Hee Wan, seorang perempuan yang kehilangan semangat hidup sejak cinta pertamanya, Ram Woo, meninggal dunia pada usia 17 tahun.
Kehilangan adalah bagian dari kehidupan yang tidak pernah benar-benar kita siapkan kehadirannya. Selain itu, duka bukan sekadar rasa sedih, melainkan sebuah proses panjang bagi jiwa untuk beradaptasi dengan kekosongan yang ditinggalkan oleh seseorang atau sesuatu yang sangat dicintai.
Menghadapi duka bukanlah tentang "melupakan" agar bisa cepat pulih, melainkan tentang bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan rasa sakit tersebut melalui penerimaan dan dukungan yang tepat. Menariknya, banyak pelajaran hidup yang justru baru bisa kita pahami melalui kehilangan, sebagaimana yang tertuang dalam lima rekomendasi buku untuk sembuhkan luka dan berdamai dengan duka berikut ini.
1. Telephone of the Tree karya Alison McGhee

Telephone of the Tree karya Alison McGhee menceritakan perjalanan Ayla yang merasa kehilangan luar biasa setelah sahabatnya, Kiri, pergi ke "tempat yang sangat jauh" dan tak kunjung kembali. Di tengah rasa rindunya, sebuah telepon tua misterius muncul di dahan pohon milik Ayla dan menarik orang-orang untuk berbicara ke kabel yang tidak terhubung ke mana pun. Ayla awalnya enggan menggunakan telepon tersebut karena ia hanya ingin Kiri pulang, tetapi keberadaan telepon itu perlahan menjadi saksi bagaimana setiap orang memiliki caranya sendiri untuk menyampaikan pesan yang tak sempat terucap kepada mereka yang telah tiada.
Buku ini adalah "obat" bagi duka karena mampu memvalidasi bahwa merindukan dan berbicara kepada orang yang telah pergi adalah kebutuhan emosional yang wajar, bukan hal yang aneh. Melalui gaya bahasa yang puitis dan tenang, penulis tidak memaksa pembaca untuk cepat pulih, melainkan mengajak untuk duduk sejenak bersama rasa sedih dan belajar hidup berdampingan dengannya. Kisah ini juga mengajarkan bahwa meski duka tidak pernah benar-benar hilang, kapasitas hati kita akan tumbuh semakin kuat untuk menampung kenangan dan lebih menghargai setiap percakapan yang masih kita miliki saat ini.
2. Memorial Perfume Shop karya Jin Seolla

Memorial Perfume Shop mengisahkan sebuah toko parfum ajaib milik Jin Doo Ri dan peracik jenius bernama Joyful yang mampu meramu aroma dari molekul kenangan. Toko ini menjadi pelabuhan bagi orang-orang terpilih yang didera kerinduan mendalam, mulai dari orang tua yang kehilangan anak hingga pemilik yang ditinggal hewan peliharaan. Melalui wewangian khusus, para klien diberi kesempatan untuk "bertemu" kembali dengan orang terkasih di dalam mimpi guna menyampaikan pesan yang belum sempat terucap, sehingga mereka bisa melepaskan beban penyesalan dan menyembuhkan jiwa yang terluka.
Buku ini menawarkan cara unik untuk memproses duka melalui kekuatan memori aroma yang sering kali menjadi pemicu kenangan terkuat. Dengan pesan moral bahwa "tidak ada satu pun kehidupan yang tidak berkilau," penulis mengajak kita memahami bahwa mengingat orang yang telah tiada bukan untuk membuat kita terpuruk, melainkan untuk mengubah rasa sakit menjadi cinta yang abadi. Meskipun kematian itu ada, jejak kehidupan seseorang akan tetap harum dan berharga bagi mereka yang ditinggalkan.
3. Seminggu Sebelum Aku Mati karya Seo Eun-chae

Seminggu Sebelum Aku Mati mengisahkan tentang Hee Wan, seorang perempuan yang kehilangan semangat hidup sejak cinta pertamanya, Ram Woo, meninggal dunia pada usia 17 tahun. Bertahun-tahun kemudian, Ram Woo kembali muncul di hadapan Hee Wan sebagai sosok Malaikat Maut untuk memberitahu bahwa Hee Wan akan meninggal dalam waktu tujuh hari. Dalam waktu yang terbatas ini, mereka berdua berusaha menyelesaikan berbagai daftar keinginan dan menghadapi perasaan cinta yang selama ini terpendam, memberikan kesempatan bagi Hee Wan untuk berpamitan dengan tenang dan menemukan kembali makna kehidupan di saat-saat terakhirnya.
Buku ini memberikan perspektif baru tentang kematian, yakni bukan sebagai akhir yang menakutkan, melainkan sebagai cermin untuk menilai kejujuran dan keberhargaan hidup kita. Melalui perjalanan emosional Hee Wan dan Ram Woo, pembaca diingatkan akan pentingnya kejujuran perasaan agar tidak menyisakan penyesalan di kemudian hari. Kisah ini menjadi proses healing bagi siapa pun yang merasa "mati secara emosional" akibat duka, serta mengajarkan kita bahwa keberanian untuk mengungkapkan rahasia dan kasih sayang adalah kunci untuk berdamai dengan masa lalu.
4. Frankie: Kucing Abu-Abu Bertelinga Satu Setengah karya Jochen Gutsch, Maxim Leo

Kisah ini menceritakan tentang Frankie, seekor kucing liar sinis yang secara tak sengaja mengubah hidup Richard Gold, seorang pria yang sedang berada di titik terendah dan hampir menyerah pada hidupnya. Pertemuan mereka dimulai saat Frankie memutuskan untuk "pindah" ke rumah Gold demi fasilitas yang nyaman seperti televisi dan tempat tidur empuk. Lewat sudut pandang Frankie yang jujur dan sering kali jenaka, pembaca diajak mengikuti persahabatan unik antara dua makhluk yang sama-sama merasa terpinggirkan, yang perlahan-lahan saling menyembuhkan luka hati melalui kehadiran satu sama lain.
Buku ini menggunakan humor untuk membahas tema duka dan depresi yang berat sehingga terasa lebih ringan dan menyegarkan. Frankie membuktikan bahwa hewan peliharaan bisa menjadi penyelamat hidup bukan melalui kata-kata motivasi, melainkan hanya dengan keberadaan mereka yang menuntut tanggung jawab kecil—seperti meminta makan—yang memaksa seseorang untuk tetap bertahan setiap hari. Kisah ini juga mengajarkan bahwa hidup tetap sangat berharga untuk dijalani meskipun kondisi kita tidak lagi sempurna, baik secara fisik maupun emosional.
5. Ferdinand Tikus Mondok dan Kenangan yang Hilang karya Mickael Brun–Arnaud

Di tengah Hutan Bellécorce, Archibald si Rubah menjalankan sebuah toko buku unik tempat para hewan menyimpan buku karya mereka sendiri. Suatu hari, Ferdinand si Tikus Mondok datang dengan putus asa karena ingatannya mulai memudar akibat penyakit "Lupa-Lupa". Ia mencari buku memoar miliknya untuk mengingat kembali orang-orang yang ia cintai, tetapi buku itu baru saja terjual kepada pelanggan misterius. Bersama Archibald, Ferdinand pun memulai petualangan menyusuri hutan untuk melacak jejak sang pembeli sekaligus mengumpulkan kembali kepingan kenangan yang tersisa melalui foto-foto lama.
Buku ini menggunakan metafora yang lembut untuk membahas duka akibat penyakit kehilangan ingatan, yang sering disebut sebagai "kehilangan seseorang yang masih ada secara fisik". Melalui kisah persahabatan Archibald dan Ferdinand, pembaca diajak memahami bahwa meskipun identitas dan ingatan seseorang bisa memudar, ikatan cinta dan jejak perasaan yang ditinggalkan tidak akan pernah hilang. Cerita ini menjadi pengingat yang menyentuh agar kita menghargai setiap momen selagi ingat masih utuh, serta tetap mencintai mereka yang mulai kehilangan memorinya dengan penuh kesabaran.
Berdamai dengan duka bukan berarti kita harus menghapus kenangan, melainkan belajar untuk terus melangkah sambil membawa cinta yang tersisa di dalam hati. Melalui kelima rekomendasi buku untuk sembuhkan luka dan berdamai dengan duka, pembaca diingatkan bahwa setiap orang memiliki cara dan waktu yang berbeda untuk pulih. Semoga rekomendasi buku di atas dapat menjadi teman setia yang memeluk kesedihanmu, sekaligus memberikan cahaya baru untuk melihat bahwa hidup, meskipun tidak lagi sama, tetap memiliki makna yang berharga untuk dijalani.


















