Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Greenwashing: Sudah Peduli Bumi atau Cuma Ikut Tren Ramah Lingkungan?
ilustrasi orang melukis label keberlanjutan (pexels.com/Thirdman)
  • Hari Lingkungan Hidup Sedunia jadi momentum meningkatkan kesadaran global terhadap krisis planet, termasuk perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, dan polusi.
  • Greenwashing muncul sebagai strategi pemasaran yang menampilkan produk seolah ramah lingkungan melalui jargon, kemasan hijau, atau sertifikasi palsu tanpa bukti nyata keberlanjutan.
  • Konsumen diajak lebih kritis menghadapi promosi berlabel ramah lingkungan agar tidak terjebak tren konsumtif yang justru memperburuk dampak terhadap bumi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tanggal 5 Juni diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Peringatan hari besar ini menjadi salah satu cara meningkatkan kesadaran global akan kelestarian bumi. Dilansir laman Kementerian Lingkungan Hidup, Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen dan aksi nyata dalam menghadapi Triple Planetary Crisis yang meliputi perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, dan polusi.

Nah, di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat akan hal tersebut, momen ini juga kerap dimanfaatkan oleh para jenama untuk mempromosikan produk mereka yang dinilai sebagai produk ramah lingkungan. Greenwashing muncul di tengah tren ini. Maka, kamu harus berhati-hati. Sederhananya, greenwashing adalah strategi pemasaran untuk membuat sesuatu terlihat berkelanjutan, padahal kenyataannya gak demikian. Berikut ciri-ciri produk yang cuma gimik peduli bumi.

1. Menggunakan jargon keberlanjutan yang tampak manis

ilustrasi orang melakukan kampanye peduli bumi (pexels.com/Thirdman)

Pernah membaca kata-kata seperti “eco-friendly” atau “100 persen natural” dalam sebuah produk? Gak semua produk yang punya jargon keberlanjutan itu berarti ramah lingkungan, ya. Biasanya produk semacam ini hanya mengeklaim alami tanpa adanya penjelasan lebih lanjut. Misalnya, ada sebuah produk kecantikan yang melabeli dirinya alami. Namun, saat kamu melihat komposisinya, terdapat bahan kimia sintetis yang berbahaya dan dapat merusak ekosistem.

Dalam praktik greenwashing, klaim-klaim semacam itu memang gak punya dasar atau bukti pendukung. Sebuah jenama mungkin menggunakan jargon keberlanjutan yang terdengar manis, tetapi gak menunjukkan makna dari keberlanjutan itu sama sekali.

2. Menggunakan logo generik atau kemasan hijau yang estetik dan mengecoh mata

ilustrasi orang sedang minum (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Setiap kali ada produk yang dibungkus dengan kemasan hijau, orang-orang mungkin akan menganggapnya sebagai produk ramah lingkungan dan aman untuk bumi. Visual memang jadi senjata utama untuk mengecoh mata dan isi kepala kita, kan.

Gak sedikit kok produsen yang dengan sengaja memilih warna-warna earth tone atau menggunakan logo generik seperti ilustrasi pohon maupun hewan dalam produknya. Tujuannya jelas, yakni untuk memberikan kesan bahwa produk itu dekat dengan alam. Namun, jangan sampai terkecoh dengan estetika kemasannya, ya. Kemasan dengan desain yang tampak ramah lingkungan sering kali terbuat dari bahan yang sulit terurai.

3. Menggalakkan promosi produk untuk menutupi aktivitas berbahaya

ilustrasi orang bekerja di pabrik (pexels.com/Alexander Isreb)

Fenomena ini jadi salah satu ciri praktik greenwashing. Secara istilah, the sin of the hidden trade-off menggambarkan situasi ketika sebuah masalah lingkungan tampaknya terpecahkan, tetapi solusinya berkontribusi pada masalah lain yang mengkhawatirkan. Misalnya, sebuah jenama mungkin merilis produk berbahan dasar botol plastik hasil daur ulang. Promosi ini digaungkan besar-besaran di media sosial dengan narasi keberlanjutan.

Namun, di baliknya, mereka memproduksi produk lain secara massal dan menyisakan limbah kimia berbahaya yang mampu mencemari lingkungan. Atau, membuang limbah beracun dari produk daur ulang itu ke sungai. Atau lagi, membayar pekerja dengan upah rendah. Jelasnya, satu poin kebaikan yang dipamerkan ke publik dijadikan pelindung untuk menutupi kejahatan lingkungan maupun sosial yang lebih besar.

4. Menggunakan sertifikasi yang lemah atau bias

ilustrasi orang bekerja sama (pexels.com/cottonbro studio)

Dilansir laman Green Network Asia, salah satu ciri greenwashing adalah penggunaan bukti dan sertifikasi yang lemah atau gak berbasis sains untuk mendukung klaim keberlanjutan mereka. Ingat ya bahwa label atau sertifikat yang tampak resmi itu gak selalu sah.

Bisa jadi, logo sertifikasi yang ada di kemasan hanyalah buatan internal perusahaan itu sendiri atau self-declared. Atau mungkin, logo sertifikasinya merupakan buatan asosiasi industri yang bias dan gak independen. Tujuannya jelas, yakni untuk memberikan validasi palsu agar konsumen langsung percaya begitu saja. Ada lho perusahaan yang membayar untuk memperoleh kredensial.

5. Promosi yang mendorong konsumsi terus menerus

ilustrasi orang berbelanja (pexels.com/Max Fischer)

Pernah melihat produk yang mengeklaim dirinya ramah lingkungan dan mendorong konsumsi terus menerus? Ingat, hal mendasar untuk mendukung keberlanjutan adalah dengan tindakan mengurangi (reduce). Jelasnya, esensi dari gaya hidup peduli bumi itu menekan hasrat belanja, bukan sebaliknya.

Nah, produsen yang melakukan praktik greenwashing gencar membuat program promosi yang mendorong konsumsi lebih banyak, seperti promosi beli 2 gratis 1 atau strategi pemasaran limited edition. Kalau kamu terus menerus membeli barang yang gak perlu, emisi karbon dan limbah yang dihasilkan dari proses produksi dan pengiriman akan menumpuk, kan. Maka, berhati-hatilah dengan program promosi semacam ini.

Mengatasi praktik greenwashing memang bukan perkara yang mudah. Sebagai konsumen, langkah penting yang bisa kita lakukan adalah dengan menumbuhkan sikap kritis dalam diri. Melalui momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini, yuk latih diri kita untuk menjadi pembeli yang lebih jeli dan bijak!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article