Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sering Cangkul Kebun? Kesalahan Ini Malah Bikin Gulma makin Banyak!

5 min read
Sering Cangkul Kebun? Kesalahan Ini Malah Bikin Gulma makin Banyak!
ilustrasi gardening (pexels.com/Greta Hoffman)
  • Terlalu sering mencangkul atau membalik tanah dapat mengangkat biji gulma ke permukaan, memicu perkecambahan, serta mengganggu struktur dan nutrisi tanah.
  • Pendekatan minim olah tanah bisa diterapkan dengan mulsa setebal 2–4 inci, tanaman penutup, atau kardus bersih untuk menghalangi cahaya dan menekan gulma.
  • Pengendalian gulma perlu disesuaikan kondisi kebun, termasuk air mendidih untuk akar dangkal, kain lanskap, atau flame weeding dengan langkah keselamatan kebakaran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kalau melihat gulma mulai memenuhi kebun, mencangkul tanah mungkin terasa seperti solusi paling masuk akal. Cara ini memang bisa mengangkat gulma yang terlihat di permukaan dan membuat tanah tampak lebih bersih dalam waktu singkat.

Namun, terlalu sering mengolah atau membalik tanah ternyata bisa membuat masalah gulma muncul lagi, lho. Biji gulma yang sebelumnya terkubur di dalam tanah dapat naik ke permukaan dan mendapatkan kondisi yang mendukung untuk tumbuh.

Kabar baiknya, kamu gak harus terus-terusan mencangkul untuk menjaga kebun tetap rapi. Ada beberapa cara sederhana yang bisa membantu menekan pertumbuhan gulma sekaligus menjaga kondisi tanah.

  1. 1. Terlalu sering membalik tanah

    ilustrasi berkebun
    ilustrasi berkebun (magnific.com/magnific)

    Mencangkul atau mengolah tanah alias tilling merupakan kegiatan membalik lapisan atas tanah menggunakan alat seperti cangkul, sekop, atau alat pengolah tanah lainnya. Menurut Lauren Lovejoy, petani regeneratif sekaligus pendiri Regenerative Farmers of America, proses ini memang dapat mengangkat gulma yang sudah tumbuh. Masalahnya, kegiatan tersebut juga bisa membawa biji gulma yang sebelumnya terkubur ke permukaan tanah. Ketika terkena cahaya matahari, biji-biji tersebut berpeluang untuk berkecambah dan menghasilkan gulma baru.

    Selain membawa biji gulma ke permukaan, pengolahan tanah secara berlebihan juga dapat mengganggu struktur tanah dan mengurangi kandungan nutrisinya. Kondisi tersebut kemudian dapat menciptakan ruang bagi gulma untuk kembali tumbuh. Karena itu, pendekatan no-till atau berkebun tanpa banyak membalik tanah bisa menjadi alternatif. Dengan membiarkan tanah tetap relatif tak terganggu, biji gulma yang berada di dalam tanah memiliki peluang lebih kecil untuk mencapai permukaan.

  2. 2. Tutup gulma dengan lapisan mulsa

    ilustrasi mulsa
    ilustrasi mulsa (pexels.com/Ron Lach)

    Kalau kamu ingin mengurangi gulma tanpa harus mengandalkan cangkul, mulsa bisa menjadi pilihan yang lebih praktis. Mulsa seperti jerami atau serpihan kayu dapat menutupi permukaan tanah sehingga cahaya matahari lebih sulit mencapai gulma. Lauren Lovejoy menjelaskan bahwa lapisan mulsa setebal sekitar 2-4 inci dapat membantu menghambat pertumbuhan gulma. Mulsa dengan tekstur lebih kasar, seperti serpihan kayu, juga cenderung efektif ketika digunakan dalam lapisan yang cukup tebal.

    Cara ini sekaligus membuat pekerjaan merawat kebun terasa lebih ringan karena kamu gak perlu terus mengorek tanah setiap kali melihat gulma. Namun, jangan menumpuk mulsa terlalu dekat dengan batang tanaman utama, ya. Jarak tersebut penting karena tumpukan material yang menempel pada batang dapat meningkatkan risiko terjadinya pembusukan akar. Jadi, tutupi area tanahnya dengan cukup tebal, tapi tetap beri ruang di sekitar batang tanaman.

  3. 3. Manfaatkan tanaman penutup tanah

    ilustrasi kacang polong
    ilustrasi kacang polong (pixabay.com/CJ)

    Tanaman penutup atau cover crops juga bisa digunakan untuk membantu menekan pertumbuhan gulma secara alami. Tanaman seperti kacang polong dan oat dapat ditanam khusus untuk menutupi tanah dan biasanya gak ditujukan untuk dipanen. Menurut Eric Nieusma, petani regeneratif sekaligus salah satu pemilik Maine Hill Farm, tanaman penutup dapat digunakan pada area kebun yang sedang tidak ditanami. Keberadaan tanaman tersebut membantu membuat permukaan tanah lebih sulit dikuasai oleh gulma.

    Sekitar satu bulan sebelum menanam tanaman utama, kamu bisa menutup tanaman penutup tersebut menggunakan kardus bersih kemudian menambahkan kompos atau jerami di atasnya. Saat memasuki akhir masa tanam, tanaman penutup juga bisa dibiarkan mati secara alami di tempat sebelum area tersebut digunakan kembali. Menurut Nieusma, cara tersebut membantu menjaga area kebun tetap minim gulma sekaligus memberikan manfaat bagi kondisi tanah sebelum penanaman berikutnya. Metode ini juga dapat diterapkan pada area kebun yang sedang tidak digunakan agar permukaan tanah tetap terlindungi.

  4. 4. Gunakan kardus untuk menutup permukaan tanah

    ilustrasi kemasan kardus
    ilustrasi kemasan kardus (pexels.com/https://kaboompics.com/)

    Kardus bekas yang bersih ternyata bisa dimanfaatkan sebagai bagian dari metode berkebun tanpa banyak menggali tanah. Menurut Eric Nieusma, lapisan kardus yang diletakkan langsung di atas tanah dapat menghalangi cahaya matahari dan membantu mencegah biji gulma berkecambah. Cara ini juga relatif sederhana karena kamu hanya perlu menutupi area kebun dengan kardus. Seiring waktu, kardus akan terurai dan ikut memberikan tambahan material organik pada tanah.

    Pilihlah kardus bersih yang gak memiliki lapisan mengilap atau sisa selotip. Tutupi seluruh area kebun dan tumpuk bagian tepinya supaya gulma gak memiliki celah untuk tumbuh dari sela-sela kardus. Kamu juga bisa membasahi kardus supaya lebih gampang menempel di tanah sekaligus membantu proses penguraian. Setelah itu, tambahkan lapisan mulsa, kompos, atau jerami di atasnya agar permukaan tetap tertutup dengan baik.

  5. 5. Pilih cara membasmi gulma sesuai kondisi kebun

    ilustrasi air mendidih
    ilustrasi air mendidih (freepik.com/valeria_aksakova)

    Untuk gulma yang tumbuh di area tertentu, air mendidih bisa menjadi pilihan sederhana tanpa bahan kimia. Air yang sudah mendidih dapat dituangkan secara hati-hati langsung ke gulma, terutama pada bagian pangkal dan akar. Gulma dengan sistem akar dangkal biasanya lebih mudah ditangani menggunakan metode ini, sedangkan gulma berakar tunggang mungkin membutuhkan pengulangan. Pastikan air panas tidak mengenai tanaman yang ingin kamu pertahankan karena tanaman tersebut juga bisa mengalami kerusakan.

    Ada pula metode lain seperti kain lanskap dan flame weeding untuk kondisi tertentu. Kain lanskap bekerja dengan menghalangi cahaya matahari mencapai tanah sehingga pertumbuhan gulma dapat ditekan, sementara air dan nutrisi masih bisa melewati material tertentu. Menurut Nieusma, flame weeding menggunakan panas dari obor propana untuk merusak struktur sel gulma sehingga gulma gak bisa melakukan fotosintesis secara normal. Jika memilih metode api, pastikan selang air tersedia, ya, hindari hari yang kering dan berangin, serta perhatikan tingkat risiko kebakaran di area tempat kamu berkebun.

    Mencangkul memang bisa membuat kebun terlihat bersih dalam waktu singkat, tapi terlalu sering membalik tanah justru berpotensi membawa biji gulma ke permukaan. Akibatnya, kamu bisa merasa seperti gak pernah selesai berurusan dengan gulma karena tanaman liar terus bermunculan.

    Mulai sekarang, kamu bisa mengombinasikan metode seperti mulsa, tanaman penutup, kardus, atau metode pengendalian lainnya sesuai kondisi kebun. Dengan mengurangi gangguan pada tanah dan menutup permukaannya, perawatan kebun bisa menjadi lebih ringan sekaligus membantu menjaga kondisi tanah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More