Media sosial membuat informasi tentang pendidikan semakin mudah ditemukan. Mulai dari pengalaman kuliah, beasiswa, kehidupan mahasiswa, hingga cerita sukses mendapatkan pekerjaan setelah lulus, semuanya dapat muncul hanya dalam beberapa detik. Konten-konten tersebut tentu bisa menjadi sumber inspirasi, tetapi tidak semua informasi yang terlihat di media sosial menggambarkan kondisi secara utuh. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah ambiguous framing yaitu cara penyajian informasi yang dapat menimbulkan lebih dari satu interpretasi atau membuat konteks tertentu terlihat berbeda dari kenyataan.
Dalam konteks pendidikan, ambiguous framing dapat terjadi ketika sebuah pengalaman ditampilkan hanya dari sisi tertentu tanpa menjelaskan proses, tantangan, atau kondisi yang melatarbelakanginya. Misalnya, seseorang membagikan cerita berhasil mendapatkan beasiswa tanpa menjelaskan bahwa ia telah mencoba berkali-kali, atau menampilkan kehidupan kampus yang terlihat sempurna tanpa memperlihatkan beban akademik yang dihadapi. Jika dikonsumsi tanpa sikap kritis, konten seperti ini dapat membentuk ekspektasi pendidikan yang kurang realistis. Berikut lima dampaknya yang perlu kamu ketahui.
