ilustrasi mahasiswa baru(pexels.com/www.kaboompics.com)
Setelah melalui berbagai gejolak emosi, perlahan kamu mulai memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan. Terdapat hal-hal yang tidak bisa diubah, tetapi masih banyak hal yang bisa diusahakan. Kesadaran ini biasanya membuatmu lebih plong dalam melihat situasi. Fokusmu tidak lagi tertuju pada penyesalan di masa lalu, melainkan pada kesempatan-kesempatan yang masih layak untuk diperjuangkan.
Pada fase ini, kamu mulai mencari cara untuk berkembang meski berada di jurusan yang kurang sesuai. Mengasah keterampilan di luar kampus, mengikuti pelatihan secara rutin, atau membangun pengalaman melalui organisasi dan komunitas. Langkah-langkah kecil tersebut membantumu memperluas peluang di masa depan. Jurusan memang krusial, tetapi bukan satu-satunya penentu arah hidup seseorang.
Merasa salah memilih jurusan memang bisa memunculkan berbagai emosi yang naik turun. Mulai dari antusias yang berubah jadi keraguan, penyesalan yang tidak berkesudahan, hingga perasaan terjebak yang membuat masa kuliah terasa berat. Meski demikian, pengalaman tersebut tidak harus menjadi akhir dari perjalananmu. Dengan mengenali apa yang kamu rasakan dan berani mencari jalan keluar, kamu tetap bisa tumbuh, belajar, dan menemukan kesempatan baru yang mungkin belum pernah terpikirkan sebelumnya.