Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Quote Tentang Rusaknya Suatu Negara dari Novel Orang-Orang Proyek

5 Quote Tentang Rusaknya Suatu Negara dari Novel Orang-Orang Proyek
Buku Orang-Orang Proyek karya Ahmad Tohari (dok. Gramedia Pustaka Utama/Orang-Orang Proyek)
Intinya Sih
  • Novel 'Orang-Orang Proyek' karya Ahmad Tohari menggambarkan kerusakan moral dan sosial akibat korupsi yang merajalela dalam proyek pembangunan jembatan.
  • Melalui analogi rumah kayu dan rayap, Tohari menyoroti bagaimana kerakusan pejabat dari bawah hingga atas perlahan menghancurkan fondasi negara.
  • Kutipan-kutipan dalam novel ini menegaskan bahwa rakyat sering menjadi korban kekuasaan, sementara penguasa kebal hukum terus memperkuat dominasi mereka.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Sebuah buku sering kali lahir dari keresahan seorang penulis. Mungkin salah satunya adalah Orang-Orang Proyek, sebuah novel karya Ahmad Tohari yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2002 silam. Sebab, novel satu ini membahas keresahan sosial yang masih relevan hingga sekarang.

Dalam novel ini, Ahmad Tohari menggambarkan betapa bobroknya suatu negara melalui proyek pembangunan jembatan. Kabul, sang tokoh utama dalam cerita menjalani realitas politik yang pelik. Proyek jembatan yang harusnya menjadi harapan rakyat malah dijadikan ladang korupsi. Bahkan korupsi dilakukan mulai dari tingkat akar rumput hingga para petinggi.

Mendengar berita korupsi yang tengah berseliweran, rasanya novel satu ini sangat realte dengan kondisi negara kita saat ini. Berikut beberapa kutipan yang cukup menampar tentang rusaknya suatu negara dari novel Orang-Orang Proyek.

1. Perilaku korup yang sudah dianggap biasa

ilustrasi memperebutkan uang sebagai simbol keserakahan
ilustrasi memperebutkan uang sebagai simbol keserakahan (pexels.com/carlos guevara)

"Bila masyarakat sudah menganggap perilaku edan adalah hal biasa, sehingga tak usah dirisaukan dan dicegah, kita akan ambruk. Andaikan tidak, bila kita adalah negara, jadilah negara-negaraan. Kalau kita adalah masyarakat, jadi masyarakat-masyarakatan."

Kutipan satu ini menyinggung pola pikir masyarakat yang rusak. Kecurangan kecil yang dianggap sudah biasa menjadi bibit lahirnya kecurangan yang lebih besar. Tidak ada kerisauan ataupun pencegahan yang berarti. Jika hal tersebut terus dibiarkan, maka suatu negara pelan-pelan akan ambruk.

2. Analogi ambruknya rumah kayu

ilustrasi rumah kayu yang ambruk
ilustrasi rumah kayu yang ambruk (pexels.com/Shamasana)

"Ibarat kita sebuah rumah kayu, rayap sudah makan dari tiang sampai hubungan. Semua kayu telah keropos. Kalau hal itu dibiarkan, hanya satu hal yang akan kita temui di depan; rumah kayu itu akan ambruk."

Ahmad Tohari menggambarkan kerakusan koruspi melalui analogi rumah kayu. Korupsi terjadi mulai dari kalangan bawah hingga kalangan atas seperti rayap yang terus menggerogoti tiang hingga inti rumah. Apabila rayap (pejabat korup) terus dibiarkan, maka rumah kayu (negara) tersebut akan hancur.

3. Penguasa rakus tidak akan berhenti menggerogoti

ilustrasi orang diborgol sambil memegang uang hasil korupsi
ilustrasi orang diborgol sambil memegang uang hasil korupsi (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

"Rayap baru berhenti makan bila kayu yang digerogotinya sudah habis. Atau bila mereka disiram racun antiserangga."

Masih menggunakan analogi rayap dan kayu. Saking rakusnya, rayap hanya akan berhenti menggerogoti apabila kayu tersebut telah habis. Semakin mendapatkan kesempatan, penguasa rakus akan semakin haus merampas hak rakyat. Oleh karena itu, mau menunggu sampai habis atau segera dibasmi?

4. Rakyat menjadi korban kekuasaan

ilustrasi aksi menyerukan demokrasi
ilustrasi aksi menyerukan demokrasi (pexels.com/Sima Ghaffarzadeh)

"Rakyat sebagai pemilik sah kekuasaan malah jadi objek yang terinjak kekuasaan."

Dalam sistem negara republik, kedaulatan tertinggi dipegang oleh rakyat. Para pejabat hanya perwakilan yang diberi mandat untuk menjalankan negara. Ironisnya, yang terjadi sering kali sebaliknya. Kutipan satu ini seperti menampar realita, di mana rakyat sebagai pemilik sah kekuasaan malah jadi korban kekuasaan itu sendiri.

5. Pepatah tentang penguasa yang kebal hukum

ilustrasi para penguasa berkumpul di kantor
ilustrasi para penguasa berkumpul di kantor (pexels.com/August de Richelieu)

"The king can do no wrong Nah, ubahlah menjadi: The country can do no wrong."

Pepatah lama mengatakan bahwa raja tidak bisa berbuat salah. Dalam buku Orang-Orang Proyek, pepatah diganti menjadi "negara tidak bisa berbuat salah". Maknanya, kekuatan penguasa membuat mereka tidak bisa dituntut meski telah melakukan kesalahan fatal. Mereka memainkan politik sedemikian rupa agar kebal dari hukuman.

Segala bentuk kecurangan dan korupsi yang merajalela digambarkan dengan baik dalam novel Orang-Orang Proyek. Pesan yang disampaikan sangat jelas. Jangan biarkan negara hancur perlahan akibat kerakusan para penguasa yang zalim. Sudah pernah baca novelnya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More