Kenapa Membeli Barang Berkualitas Bisa Lebih Ramah Lingkungan?

Barang berkualitas lebih awet sehingga mengurangi kebutuhan membeli dan memproduksi barang pengganti.
Barang yang tahan lama dan mudah diperbaiki dapat mengurangi sampah serta penggunaan bahan baku baru.
Memilih barang berkualitas membantu mengurangi pembelian impulsif dan budaya konsumsi berlebihan.
Pernah merasa harga barang berkualitas terlalu mahal? Sebagai contoh, ada dua produk dengan fungsi yang sama, tetapi salah satunya dijual jauh lebih murah. Sekilas, membeli produk murah memang terasa lebih menguntungkan.
Namun, bagaimana jika barang tersebut hanya bertahan beberapa bulan dan akhirnya harus dibeli lagi? Di sinilah, konsep “buy less, buy better” atau "membeli lebih sedikit, tetapi dengan kualitas lebih baik" mulai masuk akal. Punya barang berkualitas bukan hanya soal mendapatkan produk yang lebih awet, tetapi juga bisa menjadi salah satu cara untuk mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan. Lantas, kenapa membeli barang berkualitas bisa lebih ramah lingkungan? Berikut penjelasannya!
1. Barang yang awet mengurangi kebutuhan untuk membeli lagi

ilustrasi berbelanja pakaian (unsplash.com/charlesdeluvio) Salah satu keuntungan terbesar dari produk berkualitas adalah daya tahannya. Barang yang dibuat dengan material dan konstruksi yang baik biasanya dapat digunakan lebih lama sehingga tidak perlu sering diganti. Semakin jarang kita membeli barang baru, semakin sedikit pula sumber daya yang dibutuhkan untuk memproduksi barang tersebut. Pasalnya, setiap produk membutuhkan berbagai proses, mulai dari pengambilan bahan baku, produksi, pengemasan, hingga distribusi ke konsumen.
Menurut laman Sustainability Directory Digital, memperpanjang masa pakai produk sebesar 50 persen diperkirakan dapat mengurangi kebutuhan penggantian dan dampak lingkungan terkait sekitar 33 persen. Sederhananya, jika sebuah barang dapat digunakan selama 10 tahun, bukan 5 tahun, kebutuhan untuk memproduksi barang pengganti dapat berkurang secara signifikan.
2. Mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan

ilustrasi tempat sampah (unsplash.com/Jilbert Ebrahimi) Barang yang cepat rusak pada akhirnya akan menjadi sampah. Masalahnya, tidak semua barang mudah didaur ulang. Elektronik, peralatan rumah tangga, pakaian, hingga berbagai produk yang menggunakan campuran material dapat menjadi tantangan tersendiri ketika sudah tidak digunakan.
Dengan membeli barang yang lebih tahan lama, kita bisa menunda waktu ketika barang tersebut menjadi limbah. Bahkan, jika produk masih bisa diperbaiki, masa pakainya dapat diperpanjang lebih jauh. Menurut European Council, di Uni Eropa saja, pembuangan barang yang sebenarnya masih bisa diperbaiki diperkirakan menghasilkan sekitar 35 juta ton sampah dan 261 juta ton emisi gas rumah kaca setiap tahunnya. Artinya, memperpanjang usia barang bukan sekadar membuat dompet lebih hemat, tetapi juga dapat membantu mengurangi beban lingkungan.
3. Produk berkualitas biasanya lebih mudah diperbaiki

ilustrasi servis jam tangan (unsplash.com/Ruben Caldera) Barang yang berkualitas tidak selalu berarti barang yang tidak pernah rusak. Bedanya, produk yang dirancang dengan baik biasanya memiliki komponen yang dapat diganti atau diperbaiki, contohnya baterai, layar, ritsleting, roda, atau bagian tertentu dari sebuah peralatan. Ketika satu komponen rusak, kita tidak selalu harus membuang seluruh produk. Kita cukup mengganti bagian yang bermasalah, barang tersebut bisa kembali digunakan.
Konsep ini juga berkaitan dengan repairability atau kemudahan suatu produk untuk diperbaiki. Semakin mudah sebuah produk diperbaiki, semakin besar kemungkinan pemiliknya memilih memperbaikinya daripada membeli barang baru. Karena itu, saat membeli sesuatu, jangan hanya melihat apakah barang tersebut terlihat bagus. Cari tahu juga apakah suku cadangnya tersedia, ada layanan perbaikan, dan komponennya dapat diganti?
4. Membantu mengurangi penggunaan bahan baku baru

ilustrasi berbelanja (pexels.com/Anna Tarazevich) Setiap kali kita membeli produk baru, ada sumber daya yang digunakan untuk membuatnya, mulai dari air, energi, mineral, kayu, minyak bumi, hingga berbagai bahan mentah lainnya. Jika sebuah barang harus diganti berkali-kali karena cepat rusak, kebutuhan terhadap bahan baku baru pun ikut meningkat. Sebaliknya, satu barang yang dapat digunakan dalam waktu lama memungkinkan kita mendapatkan lebih banyak manfaat dari sumber daya yang sudah digunakan untuk membuatnya.
Inilah salah satu alasan mengapa prinsip “buy less, buy better” dianggap penting dalam gaya hidup berkelanjutan. Prinsip ini mendorong kita untuk memilih barang yang benar-benar dibutuhkan dan memiliki masa pakai panjang. Dengan begitu, jumlah produk yang perlu diproduksi sekaligus penggunaan sumber daya untuk membuatnya dapat dikurangi.
5. Membantu melawan budaya konsumsi berlebihan

ilustrasi berbelanja bersama (pexels.com/Arina Krasnikova) Tren belanja cepat membuat kita semakin mudah membeli sesuatu hanya karena harganya murah atau sedang diskon. Akibatnya, tidak sedikit barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan akhirnya menumpuk di rumah. Memilih produk berkualitas mendorong kita untuk berpikir lebih panjang sebelum membeli.
Alih-alih bertanya, “Mana yang paling murah?” kita bisa mulai bertanya, “Apakah aku benar-benar membutuhkannya?”, “Berapa lama barang ini bisa digunakan?”, “Apakah barang ini bisa diperbaiki jika rusak?” Perubahan cara berpikir tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, itu dapat membantu mengurangi pembelian impulsif dan konsumsi berlebihan.
Pada akhirnya, membeli barang berkualitas bukan hanya soal mendapatkan produk yang lebih awet, melainkan juga menjadi langkah sederhana untuk mengurangi sampah, penggunaan sumber daya, dan konsumsi berlebihan. Dengan memilih lebih sedikit barang yang tahan lama dan bisa diperbaiki, kita turut mengurangi dampak lingkungan dari kebiasaan belanja sehari-hari. Itu semua bisa kamu jadikan pertimbangan untuk membeli barang.






















