Ada sesuatu yang menarik dari cara manusia modern memberi nama pada pengalaman batinnya. Ketika seseorang terlalu mencintai dirinya sendiri, kita menyebutnya narsis. Ketika seseorang mengalami ketakutan yang berlebihan terhadap objek tertentu, kita mengenalnya sebagai fobia. Saat kepanikan datang tiba-tiba dan tubuh seolah kehilangan kendali, kita menggunakan istilah panik. Sekilas, semua itu terdengar seperti kosakata ilmiah yang lahir dari laboratorium psikologi, buku teks kedokteran, atau ruang konsultasi.
Namun, sebagian istilah tersebut justru memiliki akar yang jauh lebih tua. Sebelum psikologi berkembang menjadi disiplin ilmu modern, masyarakat Yunani telah menceritakan manusia melalui dewa, pahlawan, monster, dan tragedi keluarga. Kisah-kisah itu bukan hanya hiburan tentang dunia para dewa, melainkan juga cermin mengenai kesombongan, ketakutan, cinta, kehilangan, dan konflik manusia.
Menariknya, hubungan antara mitologi dan psikologi tidak selalu berarti bahwa sebuah diagnosis berasal dari kisah dewa. Ada istilah yang hanya mengambil nama tokoh, ada yang berkembang melalui teori psikoanalisis, dan ada pula yang digunakan sebagai metafora untuk pengalaman hidup. Karena itu, memahami asal-usulnya membutuhkan sedikit kehati-hatian. Berikut delapan istilah yang memperlihatkan bagaimana cerita kuno terus meninggalkan jejak dalam bahasa psikologi modern. Cek, yuk!
