Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Secondary Trauma: Kapan Empati Mulai Mengganggu Kesehatan Mental?

5 min read
Secondary Trauma: Kapan Empati Mulai Mengganggu Kesehatan Mental?
Ilustrasi mengalami trauma (pexels.com/https://kaboompics.com/)
  • Trauma sekunder dapat muncul setelah terpapar cerita atau konten traumatis orang lain, baik lewat percakapan, pekerjaan, berita, maupun media sosial; kondisi ini juga dapat dialami siapa saja.
  • Risiko meningkat akibat paparan berulang, kedekatan emosional, trauma pribadi, stres tinggi, kurang tidur, dan minim dukungan sosial. Gejalanya meliputi kecemasan, pikiran mengganggu, sulit tidur, penghindaran, serta kewaspadaan berlebih.
  • Empati normal tidak sama dengan trauma sekunder. Jika respons mengganggu aktivitas sehari-hari, penting mengenali batas diri, mengambil jeda dari paparan, beristirahat, mencari dukungan, dan mempertimbangkan penilaian profesional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah merasa sangat sedih, takut, cemas, atau gelisah setelah mendengar cerita traumatis yang dialami orang lain, meskipun kejadian tersebut tidak pernah kamu alami sendiri? Misalnya, kamu membaca cerita korban kekerasan di media sosial, mengikuti berita tentang bencana, atau mendengarkan pengalaman menyakitkan seorang teman. Setelahnya, cerita tersebut terus terbayang dan membuatmu merasa tidak nyaman. Kondisi seperti ini dapat berkaitan dengan secondary trauma atau trauma sekunder.

Secondary trauma menunjukkan bahwa paparan terhadap pengalaman traumatis orang lain dapat memberikan dampak emosional tertentu pada orang yang mendengarkan atau menyaksikannya. Hal ini tidak berarti setiap kali merasa sedih setelah mendengar cerita orang lain seseorang otomatis mengalami trauma sekunder. Namun, ketika paparan tersebut mulai memengaruhi pikiran, emosi, perilaku, atau aktivitas sehari-hari secara signifikan, penting untuk mengenali tanda-tandanya dan mengetahui cara menjaga diri.

  1. 1. Apa Itu secondary trauma?

    Ilustrasi alami trauma
    Ilustrasi alami trauma (pexels.com/https://kaboompics.com/)

    Secondary trauma adalah respons stres atau trauma yang dapat muncul setelah seseorang terpapar pengalaman traumatis orang lain. Paparan tersebut bisa terjadi secara langsung ketika mendengarkan cerita korban, maupun secara tidak langsung melalui pekerjaan, media sosial, berita, foto, video, atau konten digital lainnya. Kondisi ini sering dibicarakan dalam konteks profesi yang rutin berhadapan dengan cerita traumatis, seperti tenaga kesehatan, pekerja sosial, konselor, jurnalis, atau relawan.

    Namun, secondary trauma tidak hanya terbatas pada profesi tertentu. Orang biasa juga dapat merasa terdampak ketika terlalu sering terpapar cerita traumatis, terutama jika memiliki kedekatan emosional dengan korban. Contohnya, seseorang mendengarkan cerita kekerasan yang dialami sahabatnya lalu mulai mengalami kecemasan, sulit tidur, atau terus memikirkan kejadian tersebut. Respons setiap orang tentu berbeda, sehingga intensitas dan bentuk reaksinya tidak selalu sama.

  2. 2. Mengapa secondary trauma bisa terjadi?

    Ilustrasi alami secondary trauma
    Ilustrasi alami secondary trauma (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Salah satu faktor yang dapat membuat seseorang lebih rentan adalah paparan berulang terhadap cerita atau materi traumatis. Semakin sering seseorang melihat atau mendengar konten yang menggambarkan penderitaan, semakin besar pula kemungkinan munculnya stres emosional, terutama jika tidak memiliki kesempatan untuk memproses perasaan tersebut. Media sosial dapat memperkuat situasi ini karena berbagai cerita traumatis dapat muncul berulang kali melalui algoritma dan rekomendasi konten.

    Kedekatan emosional juga dapat berperan. Mendengarkan pengalaman traumatis orang yang kita sayangi dapat membuat kita lebih mudah membayangkan apa yang mereka rasakan. Selain itu, pengalaman traumatis pribadi sebelumnya, tingkat stres yang sedang tinggi, kurang tidur, serta minimnya dukungan sosial dapat membuat seseorang lebih sulit mengelola dampak emosional dari paparan tersebut. Meski begitu, memiliki empati yang tinggi bukan berarti seseorang pasti mengalami secondary trauma.

  3. 3. Apa saja tanda-tanda secondary trauma?

    Ilustrasi merasa cemas
    Ilustrasi merasa cemas (pexels.com/Timur Weber)

    Tandanya dapat muncul dalam bentuk perubahan emosional dan pikiran. Seseorang mungkin menjadi lebih mudah cemas, takut, sedih, mudah marah, atau merasa tidak berdaya setelah mendengar cerita traumatis. Ada pula yang mengalami pikiran berulang tentang kejadian tersebut, sulit berkonsentrasi, atau merasa seolah-olah harus terus memikirkan keselamatan orang lain.

    Respons fisik dan perilaku juga dapat muncul. Misalnya, seseorang menjadi sulit tidur, mengalami mimpi yang mengganggu, menghindari berita atau tempat tertentu, terus-menerus memeriksa keadaan orang lain, atau merasa sangat waspada terhadap kemungkinan terjadinya sesuatu yang buruk. Tidak semua orang mengalami seluruh tanda tersebut, dan munculnya satu atau dua reaksi setelah mendengar cerita menyedihkan tidak otomatis berarti seseorang mengalami secondary trauma.

  4. 4. Apa dampaknya jika dibiarkan?

    Ilustrasi alami trauma yang berlebihan
    Ilustrasi alami trauma yang berlebihan (pexels.com/https://kaboompics.com/)

    Jika paparan terhadap cerita traumatis terus berlangsung tanpa adanya waktu untuk memproses emosi, seseorang dapat mengalami kelelahan emosional. Ia mungkin merasa pikirannya selalu penuh dengan masalah orang lain, sulit menikmati aktivitas sehari-hari, atau menjadi lebih sensitif terhadap berita dan situasi yang mengingatkan pada cerita tersebut.

    Dalam jangka panjang, kondisi ini juga dapat memengaruhi hubungan dan aktivitas sehari-hari. Seseorang mungkin menarik diri dari lingkungan sosial, kehilangan motivasi, mengalami gangguan tidur, atau merasa sulit memisahkan kehidupan pribadinya dari penderitaan yang ia dengar. Bagi orang yang pekerjaannya memang melibatkan paparan trauma, kondisi berkepanjangan juga dapat berkontribusi terhadap burnout dan compassion fatigue, yang merupakan konsep terkait tetapi tidak identik dengan secondary trauma.

  5. 5. Apa bedanya empati dengan secondary trauma?

    Ilustrasi merasa empati
    Ilustrasi merasa empati (pexels.com/Timur Weber)

    Merasa sedih atau prihatin setelah mendengar penderitaan orang lain merupakan respons empati yang normal. Misalnya, kamu merasa kasihan kepada teman yang sedang menghadapi masalah dan ingin membantunya. Perasaan tersebut tidak otomatis menunjukkan adanya trauma sekunder. Empati justru dapat membantu seseorang memberikan dukungan kepada orang lain tanpa kehilangan kemampuan untuk menjalani kehidupannya sendiri.

    Perbedaannya dapat terlihat ketika respons terhadap cerita traumatis menjadi sangat mengganggu fungsi sehari-hari. Jika kamu terus mengalami pikiran mengganggu, kecemasan intens, gangguan tidur, penghindaran, atau perubahan perilaku setelah berulang kali terpapar cerita trauma, kondisi tersebut patut mendapatkan perhatian lebih serius. Penilaian profesional diperlukan untuk menentukan apakah gejala yang muncul berkaitan dengan secondary traumatic stress, kondisi kesehatan mental lainnya, atau respons stres yang bersifat sementara.

    Peduli terhadap penderitaan orang lain merupakan hal yang manusiawi. Namun, empati tidak harus berarti ikut menanggung seluruh rasa sakit orang lain. Kita dapat mendengarkan, memberikan dukungan, dan membantu sesuai kemampuan tanpa terus-menerus memaksakan diri terpapar cerita yang membuat kondisi mental semakin buruk.

    Mengenali batas diri bukan berarti menjadi tidak peduli. Justru, kemampuan mengatakan “aku perlu berhenti sejenak” dapat membantu menjaga kesehatan mental agar tetap mampu hadir bagi orang lain secara lebih sehat. Jika cerita orang lain mulai terasa seperti beban yang terus terbawa ke dalam kehidupan pribadi, mungkin sudah waktunya mengambil jarak, beristirahat, dan mencari dukungan yang tepat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More