Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa Itu Circular Reasoning? Kenali Argumen yang Berputar-putar

4 min read
Apa Itu Circular Reasoning? Kenali Argumen yang Berputar-putar
ilustrasi sepasang kekasih yang berbeda pandangan (unsplash.com/Vitaly Gariev)
  • Circular reasoning adalah kesalahan logika ketika kesimpulan dipakai kembali sebagai alasan, tanpa bukti independen yang benar-benar mendukung pernyataan tersebut.
  • Pola ini muncul karena terlalu yakin pada pendapat, kurang informasi, atau tidak sadar argumennya lemah; seseorang lalu cenderung mengabaikan bukti yang bertentangan.
  • Dalam diskusi, circular reasoning membuat percakapan buntu dan menghambat berpikir kritis; hindari dengan memeriksa bukti, membedakan fakta-asumsi, serta mencari sumber independen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah berdebat dengan seseorang, tetapi setelah percakapan panjang, kamu justru merasa tidak mendapatkan jawaban yang jelas? Setiap kali ditanya alasannya, orang tersebut hanya mengulang pernyataan awal dengan kalimat berbeda. Alih-alih memberikan bukti yang meyakinkan, argumennya malah berputar di tempat.

Dalam dunia logika dan psikologi berpikir kritis, pola seperti ini dikenal sebagai circular reasoning. Kesalahan berpikir ini cukup sering muncul dalam percakapan sehari-hari, terutama ketika seseorang ingin mempertahankan pendapat tanpa memberikan alasan atau bukti yang benar-benar mendukungnya. Lantas, apa sebenarnya circular reasoning dan bagaimana cara mengenalinya? Simak penjelasan berikut ini, yuk!

  1. 1. Apa Itu circular reasoning?

    seorang wanita yang saling mengobrol
    ilustrasi seorang wanita yang saling mengobrol (pexels.com/Artem Podrez)

    Circular reasoning adalah kesalahan logika ketika seseorang menggunakan kesimpulannya sendiri sebagai alasan untuk membuktikan bahwa kesimpulan tersebut benar. Dengan kata lain, argumen yang disampaikan hanya mengulang gagasan awal tanpa memberikan bukti baru yang bisa memperkuatnya.

    Contohnya, seseorang berkata, "Dia adalah orang yang bisa dipercaya karena dia selalu mengatakan hal yang benar." Ketika ditanya bagaimana mengetahui bahwa perkataannya selalu benar, jawabannya justru, "Karena dia orang yang bisa dipercaya."

    Kedua pernyataan tersebut saling mendukung, tetapi tidak memberikan bukti independen. Inilah yang membuat argumen circular reasoning terasa seperti berjalan dalam lingkaran: terdengar meyakinkan di permukaan, tetapi sebenarnya tidak menjelaskan apa pun.

  2. 2. Kenapa circular reasoning bisa terjadi?

    seorang wanita yang sedang mengobrol dengan sahabatnya
    ilustrasi seorang wanita yang sedang mengobrol dengan sahabatnya (pexels.com/Edmond Dantès)

    Circular reasoning bisa muncul ketika seseorang terlalu yakin dengan pendapatnya sehingga tidak lagi merasa perlu mencari bukti tambahan. Fokusnya bukan untuk memahami suatu persoalan, melainkan mempertahankan keyakinan yang sudah dimiliki.

    Ada beberapa faktor yang dapat mendorong pola berpikir ini. Salah satunya karena terlalu yakin dengan pendapat sendiri. Seseorang merasa keyakinannya sudah benar sehingga menganggap pendapat tersebut cukup menjadi bukti.

    Kondisi ini bisa juga terjadi saat kurangnya informasi atau pemahaman yang dimiliki. Ketika tidak memiliki data yang mendukung, seseorang mungkin tanpa sadar mengulang kesimpulan awal sebagai alasan. Akibatnya, ia justru akan mencari dan menerima informasi yang hanya sesuai dengan keyakinan sendiri serta mengabaikan bukti yang bertentangan.

    Pola ini tidak selalu dilakukan dengan sengaja. Seseorang bisa saja menggunakan circular reasoning karena tidak menyadari bahwa argumennya belum benar-benar didukung oleh bukti.

  3. 3. Apa fampak circular reasoning dalam kehidupan sehari-hari?

    seorang wanita yang sedang berpikir
    ilustrasi seorang wanita yang sedang berpikir (freepik.com/stefamerpik)

    Sekilas, circular reasoning mungkin terlihat seperti kesalahan kecil dalam menyampaikan pendapat. Namun, jika terus dibiarkan, pola ini bisa memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan, berdiskusi, hingga membangun hubungan dengan orang lain.

    Dalam percakapan, circular reasoning dapat membuat diskusi menjadi tidak produktif karena kedua pihak terus berputar pada argumen yang sama tanpa menemukan titik terang. Orang yang diajak berdiskusi juga bisa merasa frustrasi karena pertanyaan yang diajukan tidak pernah mendapatkan jawaban yang jelas.

    Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat menghambat kemampuan berpikir kritis. Seseorang menjadi kurang terbiasa mengevaluasi informasi, mempertimbangkan sudut pandang lain, dan mengakui kemungkinan bahwa dirinya keliru. Akibatnya, keputusan yang diambil berisiko didasarkan pada asumsi, bukan fakta yang kuat.

  4. 4. Bagaimana cara menghindari circular reasoning?

    mengobrol bersama sahabat
    ilustrasi mengobrol bersama sahabat (unsplash.com/Brooke Cagle)

    Menghindari circular reasoning bukan berarti harus selalu memenangkan perdebatan atau memiliki jawaban untuk setiap pertanyaan. Hal yang lebih penting adalah membiasakan diri memeriksa apakah alasan yang digunakan benar-benar mendukung kesimpulan. Berikut beberapa cara yang bisa dicoba:

    1. Tanyakan bukti di balik sebuah pernyataan. Jangan langsung menerima suatu kesimpulan. Coba cari tahu fakta atau informasi apa yang mendasarinya.
    2. Bedakan fakta dan asumsi. Pastikan alasan yang digunakan bukan sekadar pengulangan dari keyakinan pribadi.
    3. Cari sumber informasi yang independen. Gunakan data, penelitian, atau referensi tepercaya untuk memeriksa apakah suatu argumen memiliki dasar yang kuat.
    4. Terbuka terhadap sudut pandang lain. Jangan ragu mengevaluasi kembali pendapat sendiri ketika menemukan informasi yang berbeda atau bertentangan.

    Circular reasoning mengingatkan kita bahwa argumen yang terdengar meyakinkan belum tentu memiliki dasar yang kuat. Mengulang suatu pernyataan berkali-kali tidak otomatis membuatnya menjadi benar, apalagi jika tidak disertai bukti yang relevan.

    Jadi, sebelum menerima atau mempertahankan sebuah pendapat, cobalah membiasakan diri berpikir lebih kritis. Dengan begitu, kita bisa menghindari perdebatan yang berputar-putar dan belajar mengambil keputusan berdasarkan alasan yang lebih masuk akal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More