ilustrasi orang mengobrol (pexels.com/fauxels)
Lantas, bagaimana menyikapi anecdotal fallacy? Supaya kamu gak mudah terkecoh oleh sesat pikir ini ketika menghadapi lawan bicara, ada langkah yang bisa kamu implementasikan. Pertama, pisahkan antara pengalaman pribadi dan bukti empiris. Hal ini bukan berarti pengalaman pribadi itu gak berharga, ya. Pengalaman seseorang dan anekdot bisa memberikan wawasan berharga kok. Namun, pengalaman itu harus diposisikan di tempat yang tepat dengan porsi yang tepat pula, yakni sebagai studi kasus atau cerita personal, bukan sebagai klaim yang mewakili keseluruhan populasi.
Kedua, bangun kebiasaan untuk memeriksa data dan statistik yang objektif. Kalau seseorang melontarkan klaim berdasarkan kejadian personal, jangan langsung percaya, tanyakan kembali apakah ada riset atau data dengan ukuran sampel yang memadai untuk mendukung hal itu. Ini juga berlaku saat kamu membuat klaim.
Ketiga, respons dengan santun pengalaman personal itu tanpa membenarkan logikanya. Kalau lawan bicaramu melakukan anecdotal, jangan langsung menyerangnya. Kamu bisa berkata secara baik-baik dengan melontarkan kalimat seperti, “Pengalaman itu memang menarik dan nyata, tapi kalau dilihat dari data secara keseluruhan …”. Komunikasi yang baik membuat diskusi tetap berjalan sehat meski sempat diwarnai oleh sesat pikir. Kondisi ini lantas gak memicu perdebatan yang emosional.
Cerita pribadi memang bisa melengkapi bukti, tapi cerita itu gak boleh dijadikan landasan utama untuk menarik kesimpulan yang berlaku bagi banyak orang. Jadi, saat sedang berdiskusi, jangan mengandalkan anekdot untuk membantah argumen lawan, ya. Yuk, latih diri untuk bisa berpikir jernih, objektif, dan kritis!