ilustrasi orang berbelanja (pexels.com/Polina Tankilevitch)
Secara garis besar, appeal to nature adalah kekeliruan dalam penalaran ketika sesuatu dianggap benar, baik, dan aman semata-mata karena hal tersebut berasal dari alam. Sebaliknya, sesuatu dianggap buruk dan berbahaya semata-mata karena hal tersebut merupakan buatan manusia (tidak alami). Pola pikir ini seakan mendewakan apa-apa yang berbau organik dan tradisional, serta cenderung memandang sebelah mata teknologi.
Pola penalaran appeal to nautre bisa dirumuskan sebagai berikut: X itu alami. Sesuatu yang alami pasti baik dan sehat. Oleh karena itu, X pasti baik. Atau, X itu tidak alami. Sesuatu yang tidak alami pasti buruk. Oleh karena itu, X pasti buruk. Berdasarkan rumusan pola penalaran tersebut, dapat kita pahami bahwa kekeliruan appeal to nature terletak pada premis kedua dan simpulan. Padahal, alami itu gak sama dengan baik, sehat, atau aman, ada banyak zat alami yang bersifat membahayakan. Sementara itu, banyak produk buatan manusia yang mampu menyelamatkan nyawa.
Contohnya, penjual mengeklaim bahwa produk suplemen yang terbuat dari bahan alami itu lebih aman dan sehat dibanding produk suplemen buatan pabrik. Padahal, kedua produk tersebut belum dibandingkan secara kandungannya, dosisnya, efektivitasnya, serta hasil uji keamanannya.
Adapun ciri-ciri appeal to nature sebagaimana melansir laman Esoriel, ialah sebagai berikut:
Label alami, organik, maupun murni dijadikan satu-satunya argumen pembenar
Istilah kimia atau buatan digunakan secara berlebihan untuk menakut-nakuti orang lain
Bukti keamanan dan efektivitas diabaikan atau tidak diperiksa
Pilihan alami dinilai pasti lebih unggul tanpa melakukan perbandingan objektif
Kalimat seperti “Ini alami, jadi pasti aman” atau “Kalau buatan manusia, pasti berbahaya” sering kali dilontarkan untuk mempertahankan argumen.