5 Buku Favorit Millie Bobby Brown, Ada Buku Karangannya Sendiri!

- Fourth Wing karya Rebecca Yarros: Cerita fantasi dengan konflik politik dan hubungan emosional yang adiktif.
- The Midnight Library karya Matt Haig: Merenungkan penyesalan, harapan, dan kebahagiaan melalui cerita sederhana namun reflektif.
- The Perks of Being a Wallflower karya Stephen Chbosky: Kisah coming-of-age yang hangat dan menyentuh isu kesehatan mental tanpa menghakimi.
Millie Bobby Brown tidak hanya dikenal sebagai aktris muda berbakat, tetapi juga sebagai pembaca aktif yang kerap membagikan buku favoritnya ke publik. Pilihan bacaannya mencerminkan ketertarikan pada cerita yang emosional, reflektif, dan imajinatif, sekaligus menunjukkan sisi personal yang jarang terlihat di layar. Buat kamu yang sedang mencari referensi bacaan baru, berikut ini deretan buku favorit Millie Bobby Brown yang layak dipertimbangkan untuk masuk ke daftar bacaan kamu.
1. Fourth Wing karya Rebecca Yarros

Novel ini berlatar di akademi militer tempat para kadet dilatih untuk menjadi penunggang naga. Tokoh utamanya harus bertahan di sistem yang kejam, penuh persaingan, dan sering kali mematikan. Di balik aksi dan fantasinya, cerita ini banyak membahas soal kekuasaan, ambisi, dan pilihan moral yang tidak selalu hitam-putih. Hubungan antar tokohnya dibangun perlahan dengan tensi emosional yang kuat. Perpaduan antara dunia fantasi, romansa, dan konflik politik membuat ceritanya terasa adiktif.
2. The Midnight Library karya Matt Haig

Buku ini mengikuti tokoh yang berada di ruang antara hidup dan mati, tempat ia bisa membuka “buku” berisi versi hidup yang berbeda. Setiap versi menunjukkan bagaimana satu keputusan kecil bisa membawa konsekuensi besar. Ceritanya mengajak pembaca merenungkan penyesalan, harapan, dan arti kebahagiaan yang sebenarnya. Gaya bahasanya sederhana, tetapi sarat refleksi eksistensial. Buku ini terasa seperti percakapan pelan tentang hidup, bukan khotbah yang menggurui.
3. The Perks of Being a Wallflower karya Stephen Chbosky

Novel ini disampaikan dalam bentuk surat dari seorang remaja introvert kepada sosok anonim. Ia menulis tentang pertemanan, cinta pertama, kegelisahan, dan trauma masa lalu yang perlahan terungkap. Cara bercerita yang jujur membuat pembaca merasa sangat dekat dengan sudut pandang tokohnya. Ceritanya menyentuh isu kesehatan mental tanpa terasa menghakimi. Hasilnya adalah kisah coming-of-age yang hangat sekaligus menyakitkan.
4. Normal People karya Sally Rooney

Buku ini mengisahkan hubungan dua orang yang terus saling terhubung sejak remaja hingga dewasa. Hubungan mereka ditandai oleh tarik-ulur emosi, miskomunikasi, dan perbedaan latar sosial. Ceritanya tidak dramatis secara konvensional, tetapi intens secara emosional. Banyak konflik muncul justru dari hal-hal kecil yang tidak terucap. Itulah yang membuat ceritanya terasa realistis dan dekat dengan kehidupan nyata.
5. Nineteen Steps karya Millie Bobby Brown

Novel ini berlatar London pada masa Perang Dunia II dan mengikuti kehidupan seorang remaja yang tumbuh di tengah kekacauan perang. Ceritanya menyoroti dampak perang terhadap keluarga, hubungan personal, dan proses pendewasaan. Tokohnya menghadapi kehilangan, trauma, dan perubahan besar dalam waktu singkat. Di balik latar sejarahnya, cerita ini tetap fokus pada pengalaman emosional manusia. Novel ini menunjukkan sisi Millie sebagai penulis yang tertarik pada tema ketahanan dan harapan.
Pilihan buku favorit Millie Bobby Brown memperlihatkan ketertarikan pada cerita yang emosional, reflektif, dan berfokus pada proses tumbuh sebagai manusia. Meski genre dan latarnya berbeda-beda, semua buku ini sama-sama menyoroti hubungan, kehilangan, harapan, dan pencarian makna hidup.
Lewat daftar ini, terlihat bahwa membaca bukan sekadar hiburan bagi Millie, tetapi juga cara untuk memahami diri sendiri dan dunia di sekitarnya. Bagi pembaca, buku-buku ini bisa menjadi pintu masuk ke pengalaman emosional yang beragam tanpa harus mengalaminya secara langsung.



















