Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Hal dalam Hidup yang Sebaiknya Kamu Lepaskan Menurut Stoikisme

4 min read
5 Hal dalam Hidup yang Sebaiknya Kamu Lepaskan Menurut Stoikisme
Ilustrasi perempuan yang bebas (freepik.com/arthurhidden)
Share Article

Ada banyak hal dalam hidup yang diam-diam menghabiskan energi karena terlalu sering kita pikirkan. Mulai dari perkataan orang lain, masa lalu yang tidak bisa diubah, sampai keinginan agar segala sesuatu berjalan sesuai rencana. Semakin berusaha mengendalikan hal-hal tersebut, terkadang kita justru semakin sulit merasa tenang.

Stoikisme mengajarkan kita untuk membedakan hal-hal yang berada dalam kendali diri dan hal-hal yang berada di luar kendali. Bukan berarti harus menjadi pribadi yang cuek atau berhenti berusaha, melainkan belajar mengarahkan energi pada sesuatu yang memang bisa kita lakukan. Berikut lima hal yang sebaiknya kamu lepaskan menurut prinsip Stoikisme. Keep scrolling!

  1. 1. Keinginan untuk mengendalikan segala sesuatu

    Ilustrasi seseorang menghadapi terlalu banyak pekerjaan, menggambarkan tekanan akibat beban kerja berlebihan.
    ilustrasi terlalu banyak pekerjaan (magnific.com/wayhomestudio)

    Tidak semua hal dalam kehidupan bisa berjalan sesuai keinginan. Kamu bisa merencanakan sesuatu dengan matang, tetapi tetap ada kemungkinan keadaan berubah karena keputusan orang lain, situasi yang tidak terduga, atau faktor yang berada di luar kuasamu.

    Daripada terus memikirkan sesuatu yang tidak bisa dikendalikan, Stoikisme mengajak kita memusatkan perhatian pada respons diri sendiri. Kamu mungkin tidak bisa menentukan hasil akhirnya, tetapi kamu masih bisa memilih bagaimana mempersiapkan diri, mengambil tindakan, dan menghadapi hasil tersebut.

  2. 2. Penilaian dari orang lain

    Ilustrasi perempuan berambut panjang memejamkan mata sambil menutup telinga, menggambarkan sikap cuek pada penilaian orang lain.
    ilustrasi perempuan yang cuek pada penilaian orang lain (freepik.com/cookiestudio)

    Mendapatkan penilaian dari orang lain merupakan bagian yang sulit dihindari dalam kehidupan. Ada kalanya seseorang menyukai kita, tetapi ada pula yang tidak menyukai pilihan, penampilan, pekerjaan, atau cara kita menjalani hidup. Tapi, terkadang rasanya sangat melelahkan jika perasaan kita tergantung pada penilaian mereka.

    Stoikisme mengingatkan bahwa pendapat orang lain bukan sesuatu yang sepenuhnya berada dalam kendali kita. Kamu tetap bisa mendengarkan kritik dan mengambil pelajaran dari masukan yang berguna. Tetapi tidak perlu menjadikan setiap komentar sebagai penentu nilai dirimu.

  3. 3. Penyesalan terhadap masa lalu

    Ilustrasi seorang perempuan dengan ekspresi menyesal, menggambarkan rasa sedih dan penyesalan mendalam.
    ilustrasi seorang perempuan menyesal (freepik.com/8photo)

    Masa lalu sering menjadi tempat kita kembali ketika sedang menyesali sesuatu. Kita mungkin membayangkan bagaimana hidup akan berbeda jika mengambil keputusan lain atau tidak melakukan kesalahan tertentu. Tetapi, mau kita jungkir balik pun, semuanya sudah terjadi dan jika terus memikirkannya maka kita seperti menyiksa diri sendiri.

    Padahal, tidak ada cara untuk kembali dan mengubah kejadian yang sudah berlalu. Yang masih berada dalam kendali adalah apa yang kamu lakukan setelah mempelajari pengalaman tersebut. Kesalahan masa lalu bisa menjadi bahan evaluasi tanpa harus terus dijadikan alasan untuk menghukum diri sendiri.

  4. 4. Keinginan agar hidup selalu berjalan sesuai rencana

    Ilustrasi seorang pria perfeksionis yang menggambarkan sikap sangat teliti, rapi, dan berorientasi pada kesempurnaan.
    ilustrasi cowok perfeksionis (freepik.com/KamranAydinov)

    Memiliki rencana dapat membantu kita menentukan arah, tetapi kehidupan tidak pernah memberikan jaminan bahwa semua rencana akan berjalan mulus. Pekerjaan bisa berubah, hubungan bisa berakhir, kesempatan bisa gagal didapatkan, dan sesuatu yang sudah dipersiapkan lama bisa tiba-tiba tidak terjadi. Kalau dipikirkan secara matang, hal yang paling pasti di dunia ini adalah perubahan dan kita perlu cepat beradaptasi dengannya.

    Karena itu, kamu tidak harus melepaskan rencana, tetapi bisa melepaskan keterikatan berlebihan terhadap hasilnya. Ketika keadaan berubah, cobalah melihat pilihan apa yang masih tersedia. Dengan begitu, perubahan tidak selalu dianggap sebagai akhir dari segalanya, melainkan sesuatu yang perlu direspons dengan bijaksana.

  5. 5. Kebutuhan untuk selalu mendapatkan hasil yang diinginkan

    Ilustrasi seorang pria pekerja keras dengan nuansa profesional untuk menggambarkan semangat bekerja.
    ilustrasi cowok pekerja keras (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Keinginan untuk berhasil adalah hal yang wajar. Namun, terlalu menggantungkan ketenangan pada hasil yang sesuai harapan dapat membuat kita mudah kecewa ketika kenyataan berkata lain. Sekali lagi, terimalah bahwa ada banyak hal yang diluar kendali kita.

    Dalam perspektif Stoikisme, perhatian lebih baik diarahkan pada usaha dan tindakan yang memang bisa kita kendalikan. Kamu bisa belajar lebih giat, bekerja dengan sungguh-sungguh, memperlakukan orang lain dengan baik, dan mengambil keputusan secara bijaksana. Setelah melakukan bagianmu, ada hasil tertentu yang memang harus kamu terima apa adanya.

    Melepaskan menurut Stoikisme bukan berarti menyerah pada kehidupan. Tetapi memahami batas antara sesuatu yang bisa kita kendalikan dan sesuatu yang memang berada di luar kuasa kita. Mungkin masalah dalam hidup tidak langsung menghilang, tetapi cara kita menghadapinya bisa menjadi lebih tenang dan terarah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Atqo Sy
EditorAtqo Sy

Related Articles

See More