Overthinking? Dikotomi Kontrol Ala Stoikisme Bisa Jadi Solusinya!

- Dikotomi kontrol dalam Stoikisme membantu menghadapi overthinking dengan membedakan hal yang bisa dikendalikan, dipengaruhi, dan berada di luar kuasa diri.
- Alihkan pertanyaan hipotetis seperti “bagaimana kalau gagal?” menjadi tindakan konkret yang dapat dilakukan sekarang, misalnya mempersiapkan interview atau memperbaiki dokumen.
- Fokus pada usaha, komunikasi, dan batasan diri; hasil akhir serta respons orang lain tidak sepenuhnya dapat ditentukan, sehingga energi tidak habis pada kekhawatiran.
Overthinking bikin kamu sibuk memikirkan sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi. Begitu satu kekhawatiran selesai, muncul lagi kekhawatiran lain. Akhirnya, tubuhmu memang sedang diam, tapi kepala terasa seperti tidak pernah berhenti bekerja. Salah satu konsep dalam Stoikisme yang bisa membantu menghadapi kondisi seperti ini adalah dikotomi kontrol.
Sederhananya, konsep ini mengajak kamu membedakan hal-hal yang berada dalam kendalimu dan hal-hal yang berada di luar kendalimu. Bukan berarti kamu harus menjadi cuek atau gak peduli keadaan. Justru, kamu belajar mengarahkan energi pada sesuatu yang memang bisa kamu lakukan, daripada menghabiskannya untuk mengendalikan sesuatu di luar kuasamu, berikut lima caranya.
1. Pisahkan mana yang bisa kamu kontrol dan mana yang tidak

ilustrasi burnout (pexels.com/Gustavo Fring) Menerapkan dikotomi kontrol dimulai dari berhenti melihat semua masalah sebagai sesuatu yang harus kamu kendalikan. Tidak semua hal berada di tanganmu. Misalnya, kamu sedang menunggu hasil interview pekerjaan. Kamu bisa mengontrol seberapa baik kamu mempersiapkan diri, cara menjawab pertanyaan, dokumen yang kamu kirim, hingga bagaimana kamu berkomunikasi setelah interview.
Namun, kamu gak bisa menentukan apakah recruiter akan memilihmu, siapa kandidat lain yang mendaftar, atau kapan keputusan akhir dibuat. Saat overthinking muncul, coba tanyakan "Apakah ini sesuatu yang bisa aku lakukan atau putuskan?". Kalau jawabannya iya, pikirkan tindakan konkretnya. Kalau tidak, sadari bahwa terus memikirkannya gak bikin situasinya berubah.
2. Ubah pertanyaan "bagaimana kalau?" menjadi "apa yang bisa kulakukan?"

ilustrasi sedang berpikir (unsplash.com/brucemars) Overthinking sering berkembang melalui pertanyaan hipotetis. "Bagaimana kalau gagal?", "Bagaimana kalau dia marah?", "Bagaimana kalau semuanya berantakan?" Pertanyaan seperti ini bisa muncul tanpa henti karena setiap kemungkinan dapat menghasilkan kemungkinan baru. Dikotomi kontrol membantu kamu mengubah arah pertanyaan tersebut.
Daripada terus bertanya, "Bagaimana kalau interview ini gagal?", coba ubah menjadi, "Apa yang bisa kulakukan untuk mempersiapkan interview ini?". Perubahan kalimat memang sederhana, tapi fokusnya berbeda. Pertanyaan pertama membuat pikiran berputar pada sesuatu yang belum tentu terjadi. Pertanyaan kedua mengarahkan perhatian pada tindakan yang tersedia sekarang.
3. Fokus pada tindakanmu, bukan hasil akhirnya

ilustrasi bekerja berlebih (pexels.com/ Nataliya Vaitkevich) Salah satu kesalahan yang sering membuat overthinking semakin parah adalah terlalu mikirin hasil. Kamu sudah belajar keras, lalu merasa harus mendapatkan nilai tertentu. Kamu sudah mengirim banyak lamaran, lalu merasa harus diterima di perusahaan. Padahal, hasil akhir tidak selalu sepenuhnya berada dalam kendalimu.
Dalam Stoikisme, perhatian lebih diarahkan pada tindakan dan karakter yang bisa kamu pilih. Kamu dapat mempersiapkan diri sebaik mungkin, tapi tetap tidak bisa menjamin hasilnya. Bukan berarti hasil tidak penting. Hasil tetap boleh menjadi tujuan. Hanya saja, jangan menjadikan hasil sebagai satu-satunya ukuran apakah usahamu berarti atau tidak.
4. Terima bahwa respons orang lain di luar kuasamu

ilustrasi bekerja (pexels.com/Tirachard Kumtanom) Salah satu sumber overthinking yang cukup umum adalah perilaku orang lain. Kamu bisa menghabiskan waktu berjam-jam menebak alasan seseorang berubah sikap, membaca ulang chat, atau mencari makna tersembunyi dari sebuah pesan singkat. Masalahnya, kamu tidak bisa menebak isi pikiran orang lain.
Kamu bisa bertanya jika memang ada sesuatu yang perlu diklarifikasi. Kamu juga bisa menyampaikan perasaan dan menjelaskan maksudmu. Namun setelah itu, respons orang tersebut tetap menjadi pilihannya. Dikotomi kontrol bukan berarti kamu harus menerima perlakuan buruk. Kalau seseorang memperlakukanmu tak baik, kamu bisa menetapkan batasan, menjauh, atau mencari bantuan. Hal-hal tersebut berada dalam kendalimu.
5. Buat "lingkaran kontrol" saat pikiran mulai penuh

ilustrasi overthinking (pexels.com/Karola G) Ketika overthinking sudah terlalu ramai, konsep dikotomi kontrol bisa terasa terlalu abstrak. Karena itu, buat latihan sederhana menggunakan tiga kategori, yakni bisa aku kontrol, bisa aku pengaruhi, dan di luar kendaliku. Misalnya kamu sedang mencari pekerjaan. Hal yang bisa kamu kontrol adalah jumlah lamaran yang dikirim, kualitas CV, persiapan interview, skill dan cara berkomunikasi.
Hal yang bisa kamu pengaruhi adalah kesan saat interview, hubungan profesional dengan recruiter, atau cara menyampaikan pengalaman. Terakhir, hal yang di luar kendalimu adalah keputusan akhir perusahaan, kandidat lain, kondisi internal perusahaan, atau perubahan kebutuhan posisi. Semakin sering dilakukan, kamu akan semakin terbiasa membedakan antara masalah yang butuh tindakan dan kekhawatiran tak berarti.
Dikotomi kontrol dalam Stoikisme mengajarkan agar perhatianmu tidak habis untuk hal-hal yang memang tidak bisa kamu tentukan. Saat overthinking muncul, kamu bisa mulai dengan membedakan apa yang berada dalam kendalimu, apa yang masih bisa kamu pengaruhi, dan apa yang sepenuhnya berada di luar kuasamu. Yuk, mulai mencoba!
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






















