Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ramai Belanja Jelang Lebaran, Kenapa Pelayanan Jadi Masam?

Ramai Belanja Jelang Lebaran, Kenapa Pelayanan Jadi Masam?
ilustrasi kurir (pexels.com/Artem Podrez)

Jelang Lebaran, pusat perbelanjaan, supermarket, hingga layanan pengiriman paket biasanya mengalami lonjakan aktivitas yang jauh lebih ramai dibanding hari biasa. Orang membeli pakaian baru, menyiapkan hampers, mengirim hadiah, sampai berburu kebutuhan rumah tangga sebelum mudik. Namun di tengah euforia belanja tersebut, ada pengalaman yang cukup sering muncul yakni pelayanan terasa lebih ketus, terburu-buru, bahkan kadang kurang ramah.

Situasi ini memunculkan tanda tanya, mengapa momen yang identik dengan kegembiraan justru menghadirkan wajah layanan yang terasa lebih masam. Berikut beberapa sudut pandang yang bisa membantu melihat fenomena ini lebih jernih.

1. Lonjakan pembeli membuat tempo kerja toko berubah

ilustrasi lonjakan pembeli
ilustrasi lonjakan pembeli (pexels.com/Rollz International)

Menjelang Lebaran, volume pembeli meningkat tajam dalam waktu yang sangat singkat. Satu kasir yang biasanya melayani puluhan orang bisa tiba-tiba menghadapi antrean ratusan pembeli dalam satu hari. Situasi ini membuat banyak pekerja ritel harus bekerja jauh lebih cepat agar antrean tidak semakin panjang. Akibatnya, cara berkomunikasi sering menjadi lebih singkat dan terdengar datar.

Contoh sederhana terlihat di kasir supermarket yang harus memindai barang, menjawab pertanyaan harga, sekaligus menangani pembayaran digital dalam waktu hampir bersamaan. Ketika seseorang datang untuk menitipkan barang atau menanyakan lokasi produk, petugas mungkin menjawab dengan nada terburu-buru karena ada antrean panjang di belakang. Dari sudut pandang pembeli, sikap itu terasa ketus, padahal bagi petugas itu cara paling cepat agar pekerjaan tetap berjalan.

2. Ledakan pesanan online mengubah cara kurir bekerja

ilustrasi kurir
ilustrasi kurir (pexels.com/Polina Tankilevitch)

Ramainya belanja Lebaran juga terasa di sektor pengiriman paket. Dalam beberapa hari menjelang hari raya, jumlah paket bisa meningkat berkali-lipat karena banyak orang membeli barang lewat e-commerce. Truk ekspedisi membawa ratusan hingga ribuan paket yang harus dipilah lalu dikirim ke berbagai alamat dalam waktu terbatas.

Tidak jarang muncul tulisan bernada bercanda di kendaraan ekspedisi, misalnya kalimat seperti “sudahi checkout-mu, aku capek lur”. Kalimat itu sebenarnya lebih dekat dengan humor pekerja lapangan yang sedang menghadapi volume kiriman sangat besar. Di balik kalimat tersebut, ada gambaran pekerjaan yang padat sejak pagi hingga malam, mulai dari bongkar muat paket, penyortiran gudang, hingga pengantaran ke rumah pelanggan.

3. Sistem target penjualan membuat layanan terasa terburu-buru

ilustrasi target penjualan
ilustrasi target penjualan (pexels.com/Sean Gallagher)

Banyak toko memiliki target penjualan yang meningkat menjelang Lebaran. Target ini bukan hanya berlaku bagi perusahaan, tetapi juga bagi staf yang bekerja di lantai penjualan. Mereka harus memastikan stok barang tersedia, rak tetap rapi, sekaligus melayani pembeli yang datang silih berganti.

Ketika toko sangat ramai, fokus petugas sering terbagi antara menjaga alur belanja tetap lancar dan memenuhi permintaan pelanggan. Dalam situasi seperti ini, percakapan yang biasanya santai bisa berubah menjadi lebih singkat. Misalnya saat seseorang bertanya lokasi barang tertentu, petugas hanya menunjuk arah tanpa penjelasan panjang karena harus segera membantu pelanggan lain.

4. Pembeli yang lebih banyak membuat situasi toko mudah panas

ilustrasi belanja
ilustrasi belanja (pexels.com/Jack Sparrow)

Ramainya pengunjung tidak hanya memengaruhi pekerja toko, tetapi juga suasana ruangan secara keseluruhan. Antrean panjang, lorong belanja yang padat, serta orang yang terburu-buru sering membuat situasi toko terasa lebih tegang. Ketika satu orang mulai tidak sabar, suasana tersebut bisa memengaruhi orang lain di sekitarnya.

Contoh yang sering terjadi terlihat di area penitipan barang supermarket. Saat beberapa orang datang bersamaan, petugas harus mencatat nomor loker, menerima barang, sekaligus memastikan keamanan titipan. Jika datang satu orang lagi dengan permintaan tambahan, respons yang keluar kadang terdengar lebih pendek dari biasanya karena mereka sedang menangani beberapa hal sekaligus.

5. Momen Lebaran memperlihatkan dua sisi dunia layanan

ilustrasi kurir
ilustrasi kurir (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Lebaran sering dilihat sebagai momen penuh kebahagiaan bagi pembeli. Banyak orang menikmati suasana berburu kebutuhan hari raya bersama keluarga. Namun bagi pekerja ritel, kasir, kurir, hingga staf gudang, periode ini justru menjadi masa kerja paling sibuk sepanjang tahun.

Perbedaan pengalaman ini membuat persepsi terhadap pelayanan bisa berbeda. Pembeli datang dengan suasana hati ingin berbelanja dengan santai, sementara pekerja sedang berada di tengah hari kerja yang jauh lebih padat dibanding biasanya. Dari sinilah muncul kesan pelayanan terasa lebih dingin, ketus, menyebalkan meskipun pekerjaan tetap berjalan seperti biasa.

Ramainya belanja menjelang Lebaran memang membawa suasana meriah di banyak tempat, tetapi di baliknya ada sistem kerja yang ikut berubah karena lonjakan aktivitas. Pelayanan yang terasa kurang ramah sering muncul dari situasi kerja yang lebih padat, bukan semata karena sikap pribadi. Ketika melihat fenomena ini dari dua sisi, di tengah hiruk-pikuk belanja Lebaran, bagaimana cara tetap menjaga pengalaman belanja yang menyenangkan bagi semua orang?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Atqo Sy
EditorAtqo Sy
Follow Us