Kenapa Banyak Publik Figur Menyukai Buku yang Sama?

- Banyak publik figur membaca buku sesuai fase hidupnya
- Rekomendasi antar publik figur punya pengaruh besar
- Buku tertentu dianggap aman untuk dibagikan ke publik
Kalau kamu sering mengikuti wawancara publik figur, satu pola ini mungkin terasa familier. Saat ditanya soal buku favorit, judul yang muncul sering terasa itu-itu saja. Ada buku yang direkomendasikan berulang kali oleh aktor, musisi, penulis, sampai content creator. Fenomena ini kerap memicu rasa penasaran. Apakah mereka benar-benar membaca buku yang sama, atau sekadar ikut arus? Pertanyaan ini wajar, apalagi di tengah budaya populer yang serba cepat.
Di balik kesamaan pilihan buku itu, ternyata ada banyak faktor yang bekerja. Mulai dari kebutuhan personal, pengaruh lingkungan, sampai citra yang ingin dibangun. Buku bagi publik figur bukan sekadar bacaan, tapi juga medium refleksi dan identitas. Apa yang mereka baca sering berkaitan dengan fase hidup yang sedang dijalani. Maka, kesamaan buku favorit bukan sekadar kebetulan. Ada pola sosial dan psikologis yang menarik untuk dibahas.
1. Banyak publik figur membaca buku sesuai fase hidupnya

Publik figur tetap manusia biasa yang mengalami fase hidup tertentu. Ada masa lelah, bingung arah, atau mencari makna hidup. Di fase seperti itu, buku-buku bertema refleksi diri sering menjadi pilihan. Ketika banyak orang berada di fase serupa, buku yang dicari pun cenderung sama. Itulah sebabnya judul tertentu terasa “ramai” di kalangan figur publik.
Buku tentang self-growth, mindfulness, atau filosofi hidup sering muncul karena relevan dengan tekanan hidup mereka. Jadwal padat dan sorotan publik membuat mereka butuh pegangan mental. Buku menjadi tempat pulang yang tenang. Jadi, kesamaan bacaan sering berangkat dari kebutuhan yang mirip. Bukan sekadar ikut-ikutan, tapi karena konteks hidup yang sejalan.
2. Rekomendasi antar publik figur punya pengaruh besar

Lingkar pertemanan publik figur sering kali saling bersinggungan. Mereka bertemu di proyek yang sama, komunitas kreatif, atau acara tertentu. Dari obrolan santai, rekomendasi buku pun mengalir. Buku yang dirasa “kena” biasanya langsung direkomendasikan ke yang lain. Dari sinilah satu judul bisa menyebar cepat.
Ketika satu figur publik menyebut buku tertentu, figur lain jadi penasaran. Apalagi jika rekomendasinya datang dari orang yang dipercaya. Buku tersebut akhirnya dibaca bersama, lalu dibicarakan di ruang publik. Tanpa disadari, satu judul menjadi semacam bacaan kolektif. Proses ini terjadi alami dan berulang.
3. Buku tertentu dianggap aman untuk dibagikan ke publik

Tidak semua bacaan nyaman untuk diumbar ke publik. Publik figur cenderung memilih buku yang aman secara citra. Buku dengan tema universal, inspiratif, dan reflektif lebih mudah diterima publik. Menyebut judul seperti ini jarang memicu kontroversi. Itulah sebabnya buku yang muncul sering terasa “aman”.
Pilihan buku juga bisa mencerminkan nilai yang ingin ditampilkan. Buku tentang empati, kehidupan, atau pencarian makna dianggap positif. Saat ditanya media, judul seperti ini mudah dijelaskan dan tidak berisiko. Jadi, kesamaan buku juga berkaitan dengan strategi komunikasi. Bukan manipulatif, tapi selektif.
4. Buku populer sering menjawab keresahan banyak orang sekaligus

Ada buku yang muncul di waktu yang tepat. Isinya menjawab keresahan kolektif, bukan cuma individu. Ketika dunia terasa melelahkan, buku tentang slow living atau menerima diri jadi relevan. Publik figur dan masyarakat umum sama-sama merasakannya. Maka, pilihan bacaan pun bertemu di titik yang sama.
Buku seperti ini biasanya viral bukan tanpa alasan. Ia berbicara dengan bahasa sederhana, tapi mengena. Publik figur yang membacanya merasa terwakili. Saat mereka membagikannya, orang lain ikut merasa relate. Siklus ini membuat satu buku terasa “dimiliki bersama”.
5. Membaca buku yang sama menciptakan rasa koneksi

Ketika publik figur menyebut buku yang juga dibaca banyak orang, tercipta rasa kedekatan. Ada kesan bahwa mereka “sama seperti kita”. Buku menjadi jembatan emosional antara figur publik dan audiens. Ini bukan soal pencitraan semata, tapi juga soal koneksi manusiawi. Membaca buku yang sama menciptakan bahasa bersama.
Dari sudut pandang publik figur, ini bisa menjadi ruang aman untuk berbagi. Mereka tidak perlu membuka terlalu banyak detail personal. Cukup menyebut buku dan kutipan yang bermakna. Audiens pun merasa diajak ngobrol. Relasi terasa lebih setara.
6. Algoritma dan media ikut membentuk kesamaan pilihan

Media dan algoritma punya peran besar dalam menyebarkan judul buku tertentu. Ketika satu buku sering muncul di wawancara, podcast, atau media sosial, eksposurnya meningkat. Publik figur lain pun lebih mudah menemukannya. Dari sini, kesamaan pilihan semakin menguat. Buku yang sama terus berputar di ruang publik.
Akhirnya, buku tersebut menjadi semacam referensi umum. Bukan karena dipaksakan, tapi karena terus terlihat. Dalam dunia yang serba terhubung, pola ini sulit dihindari. Apa yang sering muncul, akan lebih mudah dipilih. Begitu pula dengan bacaan.
Kesamaan buku favorit di kalangan publik figur bukan sekadar tren kosong. Ada kebutuhan personal, pengaruh lingkungan, dan konteks sosial yang saling bertemu. Buku-buku itu hadir di waktu yang tepat dan menjawab keresahan yang sama. Dari sana, pilihan bacaan menjadi kolektif. Fenomena ini mengingatkan kita bahwa di balik sorotan dan popularitas, publik figur tetap manusia biasa. Mereka membaca bukan untuk terlihat pintar, tapi untuk bertahan dan memahami hidup, sama seperti kita.


















