Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Kita Bisa Bosan dengan Hidup yang Sebenarnya Baik-baik Saja?
ilustrasi bosan (pexels.com/cottonbro studio)

Akan ada masa ketika hidup tidak sedang berantakan, tetapi juga tidak terasa menyenangkan. Pekerjaan masih berjalan, penghasilan masih masuk, rumah masih bisa ditinggali, teman-teman masih ada, bahkan tidak ada masalah besar yang sedang harus dibereskan, tetapi entah kenapa hari-hari terasa seperti mengulang halaman yang sama.

Perasaan semacam ini sering sulit dijelaskan karena secara kasatmata tidak ada alasan kuat untuk mengeluh. Justru karena semuanya terlihat baik-baik saja, rasa bosan itu kadang membuat seseorang bertanya-tanya apakah dirinya kurang bersyukur? Kalau kamu relate barang kali beberapa hal ini yang terjadi dengan kamu.

1. Hidup yang terlalu mudah ditebak bisa kehilangan spark

ilustrasi bosan (pexels.com/Maria Geller)

Banyak orang mengira rasa bosan muncul karena hidup terlalu berat, padahal kehidupan yang terlalu mudah ditebak juga bisa membuat seseorang merasa jenuh. Bangun pada jam yang sama, bekerja, pulang, makan, membuka ponsel, tidur, lalu mengulangi kegiatan serupa keesokan harinya memang terasa nyaman karena tidak banyak hal mengejutkan. Masalahnya, kenyamanan tidak selalu menghasilkan rasa antusias menjalani hari-hari.

Ada perbedaan antara hidup yang tenang dan hidup yang terasa datar. Hidup yang tenang masih memiliki hal-hal kecil yang membuat seseorang menantikan hari berikutnya, sedangkan hidup yang datar sering membuat hari Senin sampai Minggu terasa seperti tidak memiliki perbedaan berarti. Bukan berarti rutinitas harus dibuang atau setiap hari harus dibuat penuh kejutan, tetapi manusia juga bisa merasa jenuh ketika terlalu lama tidak memiliki sesuatu yang ingin ditunggu.

2. Kamu mungkin bukan bosan dengan hidup, tetapi bosan dengan versi dirimu sekarang

ilustrasi bosan (pexels.com/Alex Green)

Ada kalanya masalahnya bukan terletak pada pekerjaan, tempat tinggal, pertemanan, atau kegiatan yang sedang dijalani, melainkan pada perasaan bahwa diri sendiri sudah terlalu lama berada di tempat yang sama. Dulu mungkin kamu sangat menikmati pekerjaan sekarang, tetapi setelah beberapa tahun, tantangannya sudah tidak lagi terasa baru. Dulu akhir pekan terasa menyenangkan, tetapi sekarang dua hari libur hanya dipakai untuk memulihkan tenaga sebelum kembali bekerja.

Kondisi seperti ini bisa terasa membingungkan karena dari luar tidak ada alasan untuk meninggalkan apa pun. Kamu masih menyukai sebagian besar kehidupan yang dijalani, hanya saja tidak lagi merasa menjadi orang yang sama seperti ketika pertama kali memulainya. Ada bagian dari diri yang ingin berkembang, mencoba sesuatu, atau sekadar melihat seperti apa rasanya menjalani hari dengan cara berbeda, tetapi semuanya tertahan karena kehidupan sekarang sebenarnya masih cukup nyaman.

3. Terlalu sering melihat kehidupan orang lain membuat hidup sendiri terasa kurang

ilustrasi media sosial (unsplash.com/Onur Binay)

Rasa bosan juga bisa muncul setelah terlalu lama melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih berwarna. Di media sosial, orang lain terlihat sedang pindah kota, mencoba restoran baru, pergi berlibur, mendapatkan pekerjaan baru, menikah, membeli rumah, memulai bisnis, atau sekadar punya akhir pekan yang tampak jauh lebih menarik. Sementara itu, kehidupan sendiri terlihat seperti tidak bergerak ke mana-mana. Masalahnya bukan semata-mata karena iri, melainkan karena otak terus mendapat bahan pembanding tentang seperti apa kehidupan yang dianggap menarik. Akibatnya, hari biasa yang sebenarnya baik mulai terasa seperti kehidupan yang gagal memberikan sesuatu.

Padahal, unggahan orang lain biasanya hanya menunjukkan bagian tertentu dari hidup mereka, bukan keseluruhan hari yang mereka jalani. Lalu yang lebih berbahaya adalah ketika seseorang mulai mengukur kualitas hidup berdasarkan seberapa banyak hal baru yang bisa diceritakan kepada orang lain. Makan di tempat yang sama, menghabiskan akhir pekan di rumah, atau menjalani pekerjaan yang sama akhirnya terasa memalukan hanya karena tidak menghasilkan cerita yang menarik untuk dibagikan.

4. Kamu sudah mendapatkan sesuatu yang dulu sangat kamu inginkan

ilustrasi karier (pexels.com/Sergey Sergeev)

Ada jenis kebosanan yang muncul justru setelah sebuah keinginan berhasil dicapai. Pekerjaan yang dulu dikejar akhirnya didapat, gaji yang dulu dianggap besar sekarang menjadi pemasukan biasa, tinggal sendiri yang dulu terasa seperti kebebasan akhirnya menjadi rutinitas, atau hubungan yang dulu sangat dinantikan sekarang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hal ini tidak otomatis berarti pencapaian tersebut salah atau keputusan yang diambil keliru.

Ketika sesuatu yang dulu terasa istimewa menjadi bagian dari keseharian, kita akan merasa biasa saja. Persoalannya, kita sering mengira rasa terbiasa sebagai tanda bahwa sesuatu sudah tidak berharga. Padahal, tidak semua hal yang sudah tidak membuat berdebar berarti harus ditinggalkan.

5. Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa kamu tidak bersyukur

ilustrasi kurang bersyukur (pexels.com/Anna Shvets)

Perasaan bosan sering disertai rasa bersalah. “Aku punya pekerjaan, punya tempat tinggal, punya orang-orang yang menyayangiku, kok masih merasa begini-begini saja?” Pertanyaan tersebut membuat seseorang memaksa diri untuk segera merasa bahagia, padahal rasa syukur dan rasa jenuh bisa muncul pada waktu yang sama. Kamu bisa menghargai kehidupan yang dimiliki sekaligus merasa ingin sesuatu yang berbeda.

Mengakui rasa bosan justru bisa menjadi cara untuk mengetahui bagian mana dari kehidupan yang sudah tidak lagi memberi kepuasan seperti dulu, tanpa harus menganggap seluruh kehidupanmu gagal. Karena yang perlu diperhatikan adalah ketika rasa hambar tersebut berlangsung lama dan mulai membuat berbagai hal yang biasanya disukai tidak lagi terasa berarti. Jika kehidupan terasa berat untuk dijalani atau perasaan tersebut mengganggu aktivitas sehari-hari, persoalannya mungkin sudah lebih dari sekadar bosan dan layak dibicarakan dengan orang yang dipercaya atau tenaga profesional.

Kehidupan yang baik-baik saja tidak selalu terasa menarik, dan rasa bosan tidak otomatis berarti ada sesuatu yang salah dengan hidup yang sedang dijalani.  Daripada langsung mencari alasan untuk meninggalkan semuanya, coba perhatikan apa yang sebenarnya hilang dari diri sendiri. Sebab, bisa jadi yang kamu butuhkan bukan kehidupan baru, melainkan sedikit jeda agar kehidupan yang sudah ada kembali terasa menyenangkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorAtqo Sy

Related Article