Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Kita Bisa Capek Memikirkan Hal yang Belum Terjadi?

Kenapa Kita Bisa Capek Memikirkan Hal yang Belum Terjadi?
ilustrasi capek (pexels.com/cottonbro studio)
Share Article

Kadang yang membuat hari terasa berat bukan sesuatu yang sedang terjadi, melainkan sesuatu yang bahkan belum datang. Belum ada yang marah, tetapi kita sudah membayangkan bagaimana kalau seseorang kecewa; belum menerima keputusan, tetapi sudah memikirkan apa yang harus dilakukan kalau hasilnya buruk; bahkan acara minggu depan bisa membuat pikiran sibuk sejak hari ini.

Anehnya, semua itu sering terasa seperti persiapan, padahal setelah berjam-jam memikirkannya, keadaan tidak berubah sedikit pun. Kenapa sesuatu yang belum terjadi bisa menghabiskan begitu banyak tenaga?

  1. 1. Kita seringnya hanya ingin mengetahui akhir cerita saja

    Ilustrasi hasil kerja yang menggambarkan aktivitas profesional dan pencapaian dalam lingkungan kerja modern.
    ilustrasi hasil kerja (pexels.com/fauxels)

    Ada rasa tidak nyaman ketika kita berada di tengah sesuatu tanpa tahu akan berakhir seperti apa. Menunggu hasil wawancara kerja, misalnya, bisa terasa lebih melelahkan daripada menghadiri wawancaranya sendiri karena selama menunggu, kita tidak punya jawaban yang bisa dipegang. Diterima atau tidak, cocok atau tidak, dipanggil lagi atau tidak, semuanya masih terbuka. Karena tidak tahan berada di posisi tersebut, kita mulai membuat perkiraan sendiri. Kalau tidak diterima, harus bagaimana? Kalau diterima, sanggup tidak? Kalau pindah kerja ternyata salah keputusan? Kalau ternyata pekerjaan lama justru lebih baik? Pertanyaan semacam itu bisa terus muncul meskipun belum ada informasi baru yang bisa membantu menjawabnya.

    Padahal, ada bagian dari hidup yang memang baru bisa diketahui setelah waktunya tiba. Kita tidak bisa mengetahui isi sebuah percakapan sebelum percakapan itu berlangsung, sama seperti kita tidak bisa mengetahui hasil sebuah keputusan sebelum orang yang mengambil keputusan benar-benar menjawabnya. Namun, keinginan untuk segera tahu sering membuat kita berusaha mendapatkan kepastian dari sesuatu yang memang belum bisa dipastikan.

  2. 2. Sering menganggap semua hal harus dipikirkan sekarang

    Ilustrasi seseorang duduk termenung sambil memikirkan banyak hal, menggambarkan kondisi overthinking.
    ilustrasi overthinking (pexels.com/Pavel Danilyuk)

    Ada masalah yang memang perlu segera dibereskan, tetapi ada juga masalah yang sebenarnya belum membutuhkan apa-apa dari kita hari ini. Tagihan bulan depan belum jatuh tempo, tetapi sudah dihitung berkali-kali. Acara keluarga masih dua minggu lagi, tetapi percakapannya sudah dipikirkan. Rencana pindah rumah baru akan dibahas bulan depan, tetapi kemungkinan buruknya sudah memenuhi kepala sejak sekarang. Kebiasaan ini membuat banyak hal masuk ke hari yang sama.

    Pekerjaan hari ini bercampur dengan urusan minggu depan, pengeluaran bulan depan, rencana tahun depan, bahkan kemungkinan yang belum tentu terjadi sama sekali. Akhirnya, satu hari terasa penuh bukan karena terlalu banyak hal yang benar-benar harus dilakukan, melainkan karena terlalu banyak hal yang ingin dipastikan sekaligus. Padahal, beberapa urusan akan lebih mudah dipikirkan ketika waktunya memang sudah dekat. Informasinya lebih lengkap, pilihan yang tersedia lebih jelas, dan kita tidak perlu menebak sebanyak sekarang.

  3. 3. Kita kadang menyiapkan diri untuk kecewa sebelum ada alasan untuk kecewa

    Ilustrasi yang menggambarkan ekspresi kekecewaan dan perasaan sedih saat menghadapi kenyataan yang tidak sesuai harapan.
    ilustrasi kecewa (pexels.com/Nathan Cowley)

    Ada orang yang sengaja memikirkan kemungkinan buruk supaya kalau sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, rasa kecewanya tidak terlalu besar. Belum mendapat kabar dari seseorang, tetapi sudah mengatakan kepada diri sendiri bahwa mungkin orang itu memang tidak tertarik. Belum melihat hasil seleksi, tetapi sudah menganggap peluangnya kecil. Belum tahu apakah rencana bisa terlaksana, tetapi sudah bersiap mengatakan, “Ya sudah, memang dari awal juga kayaknya enggak akan jadi.”

    Sekilas, cara seperti ini terlihat seperti usaha melindungi diri. Namun, akibatnya kita bisa mengalami kekecewaan lebih dulu untuk sesuatu yang belum tentu mengecewakan. Hari yang seharusnya biasa saja sudah diberi rasa sedih, cemas, atau kecewa hanya karena sebuah kemungkinan. Lebih ironis lagi, kalau ternyata hasil akhirnya baik, kita tetap sudah kehilangan beberapa hari karena sibuk mengkhawatirkan sesuatu yang tidak terjadi.

  4. 4. Sibuk memikirkan orang yang bahkan belum tentu sedang memikirkan kita

    Seorang pria duduk sambil menunduk dan memegang kepala, tampak tenggelam dalam pikiran tentang seseorang.
    ilustrasi memikirkan orang lain (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Ini salah satu hal yang paling sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang mengucapkan sesuatu yang terasa aneh, lalu kita membawanya pulang dan memikirkannya sepanjang malam. Apa maksudnya? Apakah dia tersinggung? Apakah dia membicarakan kita kepada orang lain? Apakah hubungan kami berubah? Padahal, orang tersebut mungkin sudah melupakan percakapannya beberapa menit kemudian. Hal yang sama bisa terjadi setelah bertemu seseorang.

    Kita pulang sambil mengingat cara bicara sendiri, merasa tadi terlalu banyak cerita, menyesali satu kalimat, atau memikirkan kenapa orang tersebut tidak tertawa ketika kita bercanda. Semakin lama dipikirkan, semakin besar kesan bahwa percakapan tadi pasti memiliki masalah. Padahal, belum tentu ada apa-apa. Kita hanya sedang melihat kembali sebuah kejadian dari sudut pandang sendiri dan mencoba menebak apa yang terjadi di kepala orang lain.

  5. 5. Rencana yang terlalu banyak bisa membuat kita tidak menikmati apa yang sedang terjadi

    Ilustrasi bertema rencana karya Startup Stock Photos dari Pexels sebagai visual pendukung artikel tentang perencanaan.
    ilustrasi rencana (pexels.com/Startup Stock Photos)

    Memikirkan masa depan tidak selalu muncul dalam bentuk kekhawatiran. Kadang justru muncul sebagai keinginan untuk mengatur semuanya agar berjalan sesuai rencana. Sedang menikmati liburan, misalnya, tetapi pikiran sudah sibuk memikirkan jadwal besok. Sedang makan bersama teman, tetapi sudah memikirkan pekerjaan yang menunggu Senin.

    Baru mendapat pekerjaan baru, tetapi sudah menghitung kemungkinan kenaikan gaji beberapa tahun lagi. Bahkan ketika sesuatu yang menyenangkan sedang terjadi, kita bisa sibuk memastikan apa yang harus dilakukan setelahnya. Akhirnya, pengalaman hari ini seperti hanya menjadi jembatan menuju sesuatu yang berikutnya. Kita tidak benar-benar berada di sana karena sebagian perhatian sudah lebih dulu pergi ke tempat lain.

  6. 6. Sering mengulang skenario yang sama karena mengira akan menemukan jawaban baru

    Ilustrasi seseorang sedang berpikir dengan tangan menopang dagu, menggambarkan proses mengambil keputusan.
    ilustrasi berpikir (pexels.com/Ariel Paredes)

    Memikirkan sebuah masalah sekali mungkin membantu. Dua kali masih masuk akal. Namun, ada titik ketika kita hanya mengulang percakapan yang sama di kepala tanpa mendapatkan informasi tambahan. Kita mengingat apa yang dikatakan seseorang, menafsirkannya lagi, lalu mencoba sudut pandang berbeda.

    Setelah itu, kembali ke kesimpulan awal, kemudian mempertanyakannya lagi beberapa jam kemudian. Tidak ada yang berubah, tetapi kita terus merasa harus memeriksanya. Inilah yang membuat sebuah persoalan kecil bisa terasa sangat besar. Bukan karena persoalannya bertambah, tetapi karena kita terus membukanya kembali. Seperti membuka chat lama berkali-kali dengan harapan tiba-tiba menemukan arti baru dari pesan yang sebenarnya tetap sama.

    Barangkali itu sebabnya kita bisa merasa lelah setelah seharian tidak melakukan apa-apa. Memikirkan masa depan tetap penting, tetapi tidak semua hal harus didahului dengan seribu kemungkinan. Ada urusan yang cukup direncanakan, ada yang cukup ditunggu, dan ada pula yang baru bisa dipahami setelah benar-benar terjadi. Sebab, kalau setiap kejadian harus kita jalani terlebih dahulu di kepala sebelum waktunya tiba, kita bukan cuma kelelahan menunggu masa depan, tetapi juga kehilangan terlalu banyak bagian dari hari ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Atqo Sy
EditorAtqo Sy

Related Articles

See More