Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gak Cuma Mengajar, Ini 3 Peran Guru Masa Kini yang Disorot MNAE 2026

5 min read
Gak Cuma Mengajar, Ini 3 Peran Guru Masa Kini yang Disorot MNAE 2026
(Kiri ke kanan) Executive Director of Mentari Group Hendro Hassen bersama Educreator & Praktisi Pendidikan Galih Sulistyaningra, Pakar Pendidikan Itje Chodidjah, Executive Director Mentari Group Natalina Rimba, dan Head of Marketing Communications Mentari Group Bunga Mega pada talkshow dalam Media Gathering “Celebrating Educators, Inspiring Change” menuju Mentari National Awards for Educators (MNAE) 2026. (IDN Times/Maura Thirza)
  • MNAE 2026 menyoroti transformasi peran guru sebagai pencipta pengalaman belajar bermakna, dengan menerjemahkan kurikulum sesuai karakter dan kebutuhan siswa.
  • Sebanyak 770 pendidik dari 679 sekolah di 228 kota mengikuti MNAE 2026; seleksi menghasilkan 20 finalis dalam tiga kategori penghargaan.
  • Teknologi membuka akses guru pada praktik pembelajaran dan ruang berbagi digital, tetapi setiap metode tetap perlu dipilih serta disesuaikan dengan kebutuhan siswa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Perkembangan teknologi membuat dunia pendidikan ikut mengalami perubahan. Cara siswa memperoleh informasi kini semakin beragam, sehingga guru juga perlu menyesuaikan diri dengan kebutuhan pembelajaran yang terus berkembang. Peran guru tidak lagi sebatas menyampaikan materi di depan kelas saja. Mereka juga perlu menciptakan pengalaman belajar yang bermakna, terbuka terhadap berbagai pendekatan baru, dan mampu memanfaatkan teknologi secara tepat. Perubahan peran pendidik tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam media gathering Mentari National Awards for Educators (MNAE) 2026 “Celebrating Educators, Inspiring Change” yang digelar Mentari Group di Sotis Residence, Jakarta pada Rabu (26/8/2026).

Dalam kesempatan ini, Mentari Group memperkenalkan Mentari National Awards for Educators (MNAE) 2026 sebagai ajang apresiasi bagi pendidik yang menghadirkan inovasi dan dampak positif dalam pendidikan. Sebanyak 770 pendidik dari 679 sekolah di 228 kota, mengikuti rangkaian kegiatan MNAE 2026. Setelah melalui proses seleksi dan penjurian, 20 finalis pendidik terpilih dari tiga kategori, yakni Mentari Leadership Awards untuk kepala sekolah, Mentari Changemaker Awards untuk guru inovatif, dan Mentari Educreator Awards untuk guru yang memberikan dampak melalui platform digital. Lantas, seperti apa perubahan peran guru di tengah perkembangan dunia pendidikan saat ini?

  1. 1. Guru gak cuma mengajar, tetapi ikut menciptakan perubahan

    Itje Chodidjah dan Galih Sulistyaningra berbincang dalam talkshow tentang peran guru dalam pendidikan masa kini.
    Talkshow bersama Pakar Pendidikan Itje Chodidjah dan Educreator dan Praktisi Pendidikan Galih Sulistyaningra membahas peran guru dalam pendidikan saat ini. (IDN Times/Maura Thirza)

    Guru memiliki peran penting dalam menentukan bagaimana sebuah materi pembelajaran dapat diterima oleh siswa. Kurikulum dan materi yang sama, bisa menghasilkan pengalaman berbeda ketika diterapkan pada kondisi kelas yang berbeda pula. Karena itu, guru perlu memahami karakter dan kebutuhan siswa sebelum menerjemahkan materi ke dalam proses pembelajaran. Hal tersebut membuat guru tidak sekadar menjadi penyampai informasi, tetapi juga memiliki peran dalam membentuk pengalaman belajar siswa.

    Pakar Pendidikan Itje Chodidjah menyebutkan, “Guru memiliki peranan yang sangat penting. Guru adalah orang-orang yang menerjemahkan semua kebijakan, kurikulum, bahkan materi pembelajaran yang sudah tersaji di hadapannya harus tetap diterjemahkan ke dalam pengalaman belajar yang bermakna.”

    Peran tersebut menunjukkan bahwa perubahan dalam pendidikan dapat dimulai dari hal-hal yang terjadi di dalam kelas. Guru dapat menyesuaikan cara mengajar dengan persoalan yang dihadapi siswa tanpa harus selalu menunggu adanya perubahan besar dalam sistem pendidikan. Dari proses tersebut, berbagai praktik baik dapat muncul dan memberikan dampak bagi lingkungan belajar. Hal yang lebih penting adalah bagaimana pendekatan yang digunakan dapat membantu siswa mendapatkan pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.

  2. 2. Guru perlu terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi

    Panelis berbincang dalam talkshow “Celebrating Educators, Inspiring Change” menuju MNAE 2026 yang diadakan Mentari Group di Jakarta.
    Diskusi bersama Pakar Pendidikan Itje Chodidjah (kedua kiri), Educreator & Praktisi Pendidikan Galih Sulistyaningra (kedua kanan), serta Head of Marketing Communications Mentari Group Bunga Mega (kanan) dalam talkshow bertajuk “Celebrating Educators, Inspiring Change” menuju Mentari National Awards for Educators (MNAE) 2026. Kegiatan ini diselenggarakan Mentari Group (PT Mentari Books Indonesia) di SOTIS Residence Pejompongan, Jakarta, Rabu (26/8/2026). (IDN Times/Maura Thirza)

    Perkembangan teknologi memberikan guru akses yang lebih luas terhadap berbagai praktik pembelajaran. Mereka kini dapat melihat pengalaman pendidik lain dari sekolah atau daerah berbeda tanpa harus berada di tempat yang sama. Berbagai pendekatan tersebut dapat menjadi referensi ketika guru menghadapi persoalan tertentu di kelas. Namun, menemukan metode yang menarik di ruang digital bukan berarti guru harus langsung menerapkannya begitu saja. Guru tetap perlu mempertimbangkan apakah pendekatan tersebut sesuai dengan karakter dan kebutuhan siswanya.

    Edukreator dan Praktisi Pendidikan, Galih Sulistyaningra, melihat digitalisasi sebagai peluang bagi guru untuk saling belajar. “Saya justru sangat melihat peluang daripada adanya digitalisasi ini karena kita bisa dapat hal-hal yang menginspirasi tentang pendekatan-pendekatan yang dilakukan oleh berbagai guru lainnya. Kita bisa lihat apakah itu relevan dengan kebutuhan kelas kita dan modifikasi sesuai dengan kebutuhan mengajar,” ujarnya. 

    Kebiasaan untuk melihat dan mempelajari praktik pendidik lain juga dapat membuat guru lebih terbuka terhadap berbagai kemungkinan dalam pembelajaran. Mereka tidak harus mencari satu metode yang dianggap paling sempurna, melainkan dapat mengombinasikan berbagai pendekatan sesuai kebutuhan siswa. Hal ini menjadi semakin relevan ketika karakter dan cara belajar siswa terus berubah dari waktu ke waktu. Dengan akses informasi yang semakin luas, guru memiliki lebih banyak referensi untuk mengevaluasi sekaligus mengembangkan cara mengajarnya.

  3. 3. Guru bisa memperluas ruang belajar lewat konten digital

    Bunga Mega, Head of Marketing Communications Mentari Group, berbicara dalam media gathering MNAE 2026.
    Head of Marketing Communications Mentari Group, Bunga Mega, dalam media gathering "Celebrating Educators, Inspiring Change" menuju Mentari National Awards for Educators (MNAE) 2026. (IDN Times/Maura Thirza)

    Jika sebelumnya praktik baik seorang guru mungkin hanya dikenal oleh siswa dan lingkungan sekolahnya, ruang digital membuat jangkauannya menjadi lebih luas. Guru dapat membagikan pengalaman mengajar, metode pembelajaran, maupun berbagai praktik baik yang mereka lakukan di kelas. Konten tersebut kemudian dapat menjadi referensi bagi pendidik lain yang menghadapi kebutuhan atau persoalan serupa. Ruang digital juga memungkinkan guru untuk berinteraksi dengan audiens yang lebih beragam di luar lingkungan sekolahnya. Dengan begitu, proses berbagi pengetahuan tidak lagi terbatas pada ruang kelas.

    “Dengan adanya digitalisasi ini menjadi kesempatan luas bagi guru-guru untuk bisa mengamplifikasikan lagi selain dengan praktik-praktik baik ataupun pengajaran yang bisa jadi menginspirasi pengajar-pengajar lainnya di kelas juga bagaimana guru bisa ikut menyuarakan isu-isu yang sedang terjadi,” kata Galih.

    Menjadi pendidik di era digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi untuk mengajar. Guru juga memiliki kesempatan untuk mengambil bagian dalam percakapan yang lebih luas mengenai dunia pendidikan. Pengalaman yang sebelumnya hanya menjadi bagian dari keseharian di kelas dapat diolah menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi orang lain.

    Perubahan teknologi membuat ruang belajar semakin luas dan cara guru menjalankan perannya pun ikut berkembang. Guru kini tidak hanya berhadapan dengan kurikulum dan siswa di dalam kelas, tetapi juga berbagai informasi serta praktik pendidikan dari luar lingkungan sekolah. Di saat yang sama, teknologi memberikan kesempatan bagi guru untuk belajar dari sesama pendidik dan memberikan pengalaman kepada lebih banyak orang. Meski begitu, perkembangan tersebut tetap membutuhkan kemampuan guru untuk memilih dan menyesuaikan sesuatu dengan kebutuhan siswanya. Sebab, teknologi mungkin menyediakan banyak pilihan, tetapi gurulah yang menentukan bagaimana pilihan tersebut dapat menjadi pengalaman belajar yang bermakna untuk siswa.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More