ilustrasi berpikir (pexels.com/Ariel Paredes)
Memikirkan sebuah masalah sekali mungkin membantu. Dua kali masih masuk akal. Namun, ada titik ketika kita hanya mengulang percakapan yang sama di kepala tanpa mendapatkan informasi tambahan. Kita mengingat apa yang dikatakan seseorang, menafsirkannya lagi, lalu mencoba sudut pandang berbeda.
Setelah itu, kembali ke kesimpulan awal, kemudian mempertanyakannya lagi beberapa jam kemudian. Tidak ada yang berubah, tetapi kita terus merasa harus memeriksanya. Inilah yang membuat sebuah persoalan kecil bisa terasa sangat besar. Bukan karena persoalannya bertambah, tetapi karena kita terus membukanya kembali. Seperti membuka chat lama berkali-kali dengan harapan tiba-tiba menemukan arti baru dari pesan yang sebenarnya tetap sama.
Barangkali itu sebabnya kita bisa merasa lelah setelah seharian tidak melakukan apa-apa. Memikirkan masa depan tetap penting, tetapi tidak semua hal harus didahului dengan seribu kemungkinan. Ada urusan yang cukup direncanakan, ada yang cukup ditunggu, dan ada pula yang baru bisa dipahami setelah benar-benar terjadi. Sebab, kalau setiap kejadian harus kita jalani terlebih dahulu di kepala sebelum waktunya tiba, kita bukan cuma kelelahan menunggu masa depan, tetapi juga kehilangan terlalu banyak bagian dari hari ini.