Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Kesalahan yang Merusak Promosi Produk, Mengecewakan Konsumen

4 min read
6 Kesalahan yang Merusak Promosi Produk, Mengecewakan Konsumen
ilustrasi mempromosikan produk (pexels.com/https://kaboompics.com/)
Share Article

Kamu sudah gencar mempromosikan produk. Mungkin itu sempat membuat produkmu cukup laku. Namun, pembeli tidak kembali. Bahkan setelahnya ada penurunan penjualan yang tajam.

Pembeli baru lebih sedikit daripada sebelumnya. Bahkan muncul ulasan-ulasan negatif yang makin menghancurkan usahamu. Apa yang sebenarnya terjadi? Kemungkinan besar ini bukan hanya kebetulan.

Ada kesalahan fatal yang tanpa sadar dilakukan olehmu dan membuat konsumen atau calon konsumen berubah pandangan. Tadinya mereka cukup tertarik dengan produk yang ditawarkan malah menjadi anti. Biar usahamu cuan lagi, yuk belajar dari kesalahan.

  1. 1. Menjelek-jelekkan produk lain demi membanggakan produk sendiri

    Ilustrasi aktivitas memotret sepatu untuk menampilkan detail alas kaki dalam konteks fotografi produk.
    ilustrasi memotret sepatu (pexels.com/Kampus Production)

    Ini tak ubahnya kampanye hitam. Kamu melakukan promosi dengan cara yang kurang baik. Maksudmu terbaca jelas oleh calon konsumen. Dirimu menjelek-jelekkan produk sejenis dan mengunggulkan produk sendiri supaya penggunanya berpaling ke produkmu.

    Begitu pula target konsumen yang belum menetapkan pilihan seketika memilih produkmu saja. Sayangnya, masyarakat kurang menyukai cara promosi seperti ini. Kamu dianggap curang.

    Justru model promosi begini memunculkan rasa empati yang besar untuk kompetitormu. Mereka tanpa diminta pun seperti ingin melariskan usaha yang dicurangi. Kalau kamu mau produk lebih diterima, fokus saja menjelaskan keunggulannya tanpa menyenggol produk lain.

  2. 2. Janji ada diskon, saat transaksi ternyata tidak berlaku

    Ilustrasi penawaran diskon untuk produk atau layanan dengan penekanan pada harga promosi yang lebih hemat bagi konsumen.
    ilustrasi penawaran diskon (pexels.com/Gustavo Fring)

    Konsumen menyukai potongan harga. Diskon ibarat gula yang akan mengundang semut untuk segera berkerumun. Maka seharusnya pemberian potongan harga jitu buat mendongkrak penjualan.

    Sayangnya, kamu justru merusaknya dengan tidak konsisten dan trasnparan soal diskon tersebut. Pembeli sudah sampai meja kasir atau klik checkout, tapi ternyata diskonnya tidak berlaku. Alasannya pun tak masuk akal.

    Seperti ada syarat dan ketentuan yang tidak dijelaskan sejak awal. Masa berlaku diskon yang tiba-tiba diperpendek atau kamu selalu mengatakan kuota sudah habis. Konsumen seketika menebak semua itu hanya akal-akalan untuk menjebak mereka mau tak mau membayar dengan harga penuh.

  3. 3. Produk tidak sesuai dengan janji

    Ilustrasi aktivitas menjual perhiasan sebagai gambaran transaksi barang berharga kepada seorang calon pembeli.
    ilustrasi menjual perhiasan (pexels.com/Tahir Xəlfəquliyev)

    Ketidaksesuaian janji dengan bukti akan sangat mengecewakan konsumen. Contoh, dalam promosimu disebutkan pembelian jumlah tertentu akan memperoleh gratis produk. Setelah konsumen membayar, ternyata ekstra produk yang dijanjikan tidak ada.

    Kamu bilang produknya asli ternyata palsu dan sebagainya. Tindakan seperti ini seketika merusak kepercayaan konsumen. Wajar jika mereka memberikan ulasan yang sangat buruk ke produk dan layananmu.

    Meski produk yang dijual tidak termasuk mahal, tak ada orang yang suka ketika menyadari sudah kena tipu. Calon konsumen yang membaca ulasan tersebut pun ogah membelinya. Sama-sama mereka tidak akan mendapatkan gratis produk misalnya, mending membelinya dari penjual yang jujur.

  4. 4. Tidak merawat kepercayaan konsumen

    Ilustrasi aktivitas menjual produk secara online melalui perangkat digital untuk mendukung kegiatan bisnis dan pemasaran.
    ilustrasi menjual produk (pexels.com/William Chen)

    Di awal kamu mungkin terlihat bisa dipercaya. Janji-janji dalam promosi dipenuhi. Akan tetapi, seiring waktu pelayanan pada pelanggan berubah. Dirimu seperti terlalu percaya diri dan menganggap mereka yang sangat membutuhkan produkmu.

    Sehingga kamu merawat kepercayaan konsumen atau tidak pasti mereka akan kembali datang. Keangkuhan begini bakal menghancurkanmu. Setinggi apa pun kebutuhan akan suatu produk, ingat bahwa penyedianya bukan hanya dirimu.

    Kamu punya banyak kompetitor yang siap kapan pun menyambut konsumen baru. Saat sikap asal-asalan baik dalam menjaga kualitas produk maupun pelayanan terjadi lebih dari sekali, pelangganmu bisa gak kembali. Itu dianggap kesengajaan untuk tidak respek pada konsumen.

  5. 5. Sangat lambat merespons calon konsumen dan komplain

    Tangan seseorang memegang smartphone dengan layar menyala, menggambarkan aktivitas penggunaan ponsel pintar sehari-hari.
    ilustrasi menggunakan smartphone (pexels.com/🇻🇳🇻🇳 Việt Anh Nguyễn 🇻🇳🇻🇳)

    Misalnya, kamu mempromosikan produk di media sosial. Dirimu merasa unggahanmu sepi selama sekian hari atau minggu. Kamu menjadi gak bersemangat dan tak lagi membuka akun tersebut.

    Padahal, satu bulan kemudian ada orang yang tertarik untuk membelinya. Ia meninggalkan pertanyaan seputar produk dan cara pemesanan. Namun, kamu baru membuka kembali akun tersebut dua minggu kemudian.

    Walaupun dirimu senang sekali membacanya dan segera membalas, ini sudah terlambat. Sangat mungkin orang yang sama telah beralih ke penjual lain yang lebih cepat tanggap. Kamu memang gak harus menjawab komentar dalam hitungan detik atau menit.

    Namun, paling lambat dalam 1×24 jam dirimu sudah merespons. Walau lebih cepat lebih baik untuk memberikan kepastian pada konsumen atau calon konsumen dan menjaga minat mereka. Begitu juga komplain jangan dicueki.

  6. 6. Memaksa beli dan marah pada orang yang cuma tanya-tanya

    Ilustrasi usaha yang menggambarkan aktivitas bisnis serta pengembangan peluang ekonomi di Indonesia.
    ilustrasi usaha (pexels.com/Heru Dharma)

    Tidak satu pun orang di dunia ini punya kewajiban membeli produk yang dijual olehmu. Bahkan meski produknya sangat bagus menurutmu. Hindari bersikap arogan dengan seakan-akan memaksa siapa pun untuk membelinya.

    Begitu pula kamu atau orang-orang yang bekerja membantumu tidak perlu marah apabila orang cuma bertanya ini itu tanpa kejelasan akan membeli atau gak. Calon konsumen memang perlu mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang suatu produk sebelum bertransaksi. Itu hak mereka.

    Tetaplah menjawab pertanyaan mereka dengan baik. Pun sering kali orang tidak membeli seketika itu juga. Boleh jadi mereka menunggu gajian, diskon angka kembar, atau mencari tahu informasi produk guna direkomendasikan ke orang lain.

    Sangat sayang apabila promosi yang sudah gencar dan menarik berujung gagal total hanya karena enam sikap di atas. Penjual harus bisa bersabar, konsisten, serta memberikan pelayanan terbaik pada konsumen. Jika kamu memperbaiki kesalahan di atas, usaha yang hampir mati pun dapat bangkit kembali.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Atqo Sy
EditorAtqo Sy

Related Articles

See More