Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Penyebab Koleksi Buku Menumpuk, tetapi Kebiasaan Membaca Gak Tumbuh
ilustrasi membaca buku (pexels.com/George Milton)

Memiliki banyak buku sering dianggap sebagai tanda bahwa seseorang gemar membaca dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Rak buku yang penuh dengan bacaan menarik, mulai dari novel hingga buku pengembangan diri, memang memberikan kesan bahwa ada banyak pengetahuan yang siap dijelajahi. Namun, kenyataannya gak selalu demikian karena koleksi buku yang terus bertambah belum tentu sejalan dengan kebiasaan membaca yang konsisten.

Fenomena ini cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama ketika membeli buku terasa lebih menyenangkan daripada meluangkan waktu untuk membacanya sampai selesai. Ada buku yang hanya dibaca beberapa halaman, ada pula yang berakhir sebagai pajangan karena selalu kalah oleh kesibukan atau hiburan lain. Lantas, apa yang sebenarnya membuat koleksi buku terus menumpuk tanpa diikuti kebiasaan membaca yang berkembang? Yuk, kenali lima penyebabnya agar koleksi buku gak sekadar memenuhi rak, tetapi juga memberi manfaat nyata!

1. Membeli buku lebih memuaskan daripada membaca isinya

ilustrasi membeli buku (pexels.com/Dario Fernandez Ruz)

Bagi sebagian orang, membeli buku memberikan kepuasan tersendiri, terutama ketika menemukan judul yang menarik atau karya penulis favorit. Ada perasaan senang saat membawa pulang buku baru, membuka kemasannya, mencium aroma kertas, hingga menata buku tersebut di rak. Pengalaman itu terasa menyenangkan karena memberikan sensasi memiliki sesuatu yang baru tanpa membutuhkan banyak tenaga atau waktu.

Sebaliknya, membaca sampai selesai membutuhkan perhatian, kesabaran, dan komitmen yang gak selalu mudah dipertahankan. Ketika rasa senang setelah membeli buku mulai mereda, keinginan untuk membacanya terkadang ikut menghilang. Akibatnya, seseorang bisa terus menambah koleksi karena mengejar kepuasan sesaat, sedangkan buku yang sudah dimiliki belum sempat dinikmati isinya. Jika pola ini terus berulang, aktivitas membeli buku justru menjadi kebiasaan utama yang menggantikan kegiatan membaca itu sendiri.

2. Membeli buku berdasarkan suasana hati, bukan kebutuhan

ilustrasi membeli buku (pexels.com/HONG SON)

Keputusan membeli buku terkadang muncul secara spontan setelah melihat ulasan menarik di media sosial, rekomendasi teman, atau promosi dari toko buku. Judul yang sedang populer bisa terasa sangat menarik karena banyak orang membicarakannya, sehingga muncul dorongan untuk segera memilikinya. Sayangnya, ketertarikan sesaat tersebut belum tentu mencerminkan minat yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan atau preferensi membaca pribadi.

Ketika buku sudah berada di rumah, antusiasme yang sebelumnya terasa besar bisa perlahan menghilang. Buku yang dibeli karena mengikuti tren mungkin ternyata memiliki topik yang kurang disukai atau gaya penulisan yang sulit dinikmati. Kondisi ini membuat buku tersebut mudah tersisih oleh bacaan lain yang dianggap lebih menarik. Untuk menghindarinya, penting untuk mengenali alasan di balik setiap pembelian dan memastikan bahwa isi buku memang sesuai dengan minat, kebutuhan, atau tujuan belajar yang ingin dicapai.

3. Gak memiliki waktu membaca yang terjadwal

ilustrasi muslim membaca buku (pexels.com/cottonbro studio)

Kesibukan sehari-hari sering menjadi alasan mengapa buku yang sudah dibeli terus tertunda untuk dibaca. Pekerjaan, urusan rumah, kegiatan sosial, dan berbagai tanggung jawab lainnya membuat waktu luang terasa semakin terbatas. Seseorang mungkin berniat membaca pada malam hari, tetapi akhirnya memilih beristirahat karena sudah terlalu lelah setelah menjalani aktivitas sepanjang hari.

Masalahnya, kebiasaan membaca sulit tumbuh apabila aktivitas tersebut hanya dilakukan ketika ada waktu kosong. Tanpa jadwal yang jelas, membaca akan terus bersaing dengan kegiatan lain yang terasa lebih mendesak atau memberikan hiburan lebih cepat. Salah satu cara mengatasinya adalah menyediakan waktu khusus selama 10–15 menit setiap hari, misalnya setelah sarapan atau sebelum tidur. Durasi tersebut memang terlihat singkat, tetapi rutinitas yang dilakukan secara konsisten dapat membantu membaca menjadi bagian alami dari kehidupan sehari-hari.

4. Terlalu sering terdistraksi oleh gawai dan hiburan digital

ilustrasi menggunakan HP (pexels.com/cottonbro studio)

Kehadiran gawai membuat berbagai bentuk hiburan dapat diakses dengan mudah kapan saja. Saat berniat membaca buku, seseorang mungkin hanya ingin memeriksa pesan sebentar, tetapi akhirnya menghabiskan waktu lebih lama untuk menjelajahi media sosial atau menonton video. Perpindahan perhatian yang terus terjadi membuat kegiatan membaca sulit berlangsung secara mendalam, terutama ketika seseorang sudah terbiasa menikmati konten singkat yang memberikan rangsangan secara cepat.

Berbeda dengan menggulir layar yang memungkinkan seseorang berpindah dari satu konten ke konten lain dalam hitungan detik, membaca buku membutuhkan perhatian yang lebih berkelanjutan. Otak perlu mengikuti alur cerita, memahami gagasan, atau menghubungkan informasi agar isi bacaan dapat dipahami dengan baik. Jika konsentrasi terus terpecah, membaca bisa terasa melelahkan sehingga buku kembali ditinggalkan sebelum selesai. Karena itu, cobalah menjauhkan gawai selama sesi membaca dan memilih tempat yang minim gangguan agar perhatian dapat tertuju pada isi buku.

5. Menganggap membaca harus selalu produktif dan selesai cepat

ilustrasi membaca buku (pexels.com/cottonbro studio)

Sebagian orang menetapkan target membaca yang terlalu tinggi, seperti harus menyelesaikan satu buku dalam beberapa hari atau menamatkan sejumlah halaman setiap malam. Target semacam ini memang dapat memberikan motivasi pada awalnya, tetapi juga berpotensi menimbulkan tekanan ketika aktivitas sehari-hari gak berjalan sesuai rencana. Akibatnya, membaca yang seharusnya menjadi kegiatan menyenangkan justru terasa seperti tugas tambahan yang harus segera diselesaikan.

Selain itu, ada anggapan bahwa membaca baru dianggap bermanfaat apabila seseorang mampu menamatkan buku dan mengingat seluruh isinya. Padahal, menikmati beberapa halaman, memahami satu gagasan baru, atau menemukan sudut pandang yang berbeda juga merupakan bagian berharga dari proses membaca. Gak semua buku harus diselesaikan dengan cepat, terlebih jika isinya membutuhkan waktu untuk dipahami dan direnungkan. Dengan menetapkan target yang realistis serta memberi ruang untuk menikmati prosesnya, seseorang dapat membangun hubungan yang lebih sehat dengan kegiatan membaca tanpa merasa terbebani oleh tuntutan pencapaian.

Koleksi buku yang menumpuk tanpa diikuti kebiasaan membaca bukan semata-mata persoalan kurangnya minat, melainkan juga berkaitan dengan pola konsumsi, pengelolaan waktu, gangguan digital, dan ekspektasi pribadi. Memahami penyebabnya dapat membantu seseorang mengevaluasi kebiasaan yang selama ini membuat buku hanya menjadi penghuni rak. Pada akhirnya, bukan jumlah buku yang menentukan seberapa dekat seseorang dengan dunia pengetahuan, melainkan kesediaan untuk membuka, membaca, dan memahami isinya secara konsisten.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorAtqo Sy

Related Article